Selasa 11 Februari 2020, 12:30 WIB

Pemprov DKI Diminta Kaji Ulang Perhelatan Formula E

Cindy Ang | Megapolitan
Pemprov DKI Diminta Kaji Ulang Perhelatan Formula E

AFP/David Dee Delgado/Getty Images
Balapan Formula E di Brooklyn, New York, Amerika Serikat

 

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta diminta mengkaji ulang perhelatan Formula E yang akan digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Hal itu menilik perhelatan Formula E sebelumnya di sejumlah negara yang mengalami defisit.

"Besarnya anggaran pelaksanaan racing ini di Hong Kong 2016 adalah HK$250-300 juta (Rp540 miliar) dan hanya menghasilkan pemasukkan HK$50 juta (Rp88, 3 miliar)," kata Anggota Fraksi PDIP DPRD DKI Gilbert Simanjuntak lewat keterangan tertulis, Jakarta, Selasa (11/2).

Gilbert menuturkan anggaran yang digelontorkan Jakarta demi ajang balapan mobil listrik itu mencapai Rp1,16 triliun.

Dia mempertanyakan biaya penyelenggaraan Jakarta yang dua kali lipat lebih besar dibandingkan Hong Kong.

"Sementara bahan untuk membangun ada di Indonesia (seperti semen dan batu). Apa dasar biaya penyelenggaraan di Jakarta membengkak dua kali lipat biaya di luar negeri?" tanya Gilbert.

Baca juga: Pemprov Terlalu Sibuk Event Balapan

Gilbert juga menyoroti ketidakjelasan sektor pemimpin (leading sector) dari perhelatan tersebut. Entah untuk peningkatan perekonomian yang sebenarnya mengalami defisit di negara lain atau peningkatan pariwisata.

Gilbert menuturkan sejak Formula E Holding berdiri pada2014, mereka masih merugi. Dia juga mempertanyakan rencana Jakarta mengelola trek sirkuit usai perhelatan tersebut.

"Bagaimana rencana pengelolaan sirkuit track setelah kegiatan ini selesai juga tidak ditemukan. Tentunya ini akan membutuhkan pemeliharaan yang tidak sedikit," ucapnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan seharusnya berkaca dengan perhelatan Formula E di sejumlah negara tetangga. Ajang Formula E di Montreal, Kanada pada 2016-2017 mengalami defisit.

Sementara perhelatan Formula E di Moskow, Rusia dibatalkan karena acara selama dua hari itu akan membuat Kota Moskow semakin macet.

Apalagi, kata dia, Jakarta masuk peringkat 10 kota termacet di dunia.

"Jakarta akan mengalami dampak kemacetan luar biasa selama dua hari," sambung Gilbert.

Dia menyarankan agar perhelatan Formula E tidak dilakukan di kawasan Monas. Lebih baik dipindahkan ke Sentul, Bogor, yang sudah memiliki fasilitas lengkap.

"Sebaiknya dengan waktu yang sisa beberapa bulan sebelum 6 Juni, juga melihat anggaran yang terlalu besar dan potensi dampak kemacetan maka sebaiknya dilakukan di sirkuit yang sudah ada seperti Sentul," pungkasnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More