Selasa 11 Februari 2020, 08:45 WIB

Ada Sesar Aktif di Sulsel, Pemerintah Siapkan Mitigasi

Lina Herlina | Nusantara
Ada Sesar Aktif di Sulsel, Pemerintah Siapkan Mitigasi

MI/Lina Herlina
Kepala BNPB Doni Monardo berbicara di Penataran Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Provinsi Sulawesi Selatan

 

PELAKSANA Tugas Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari memaparkan potensi-potensi kebencanaan yang bisa saja terjadi di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sesar Walanae merupakan sesar aktif di daratan yang kekuatannya bisa mencapai 6,6 magnitudo. Dan sesar tersebut melewati lima daerah di Sulsel, yaitu Kabupaten Pinrang, Gowa, Bone, Bulukumba, dan Sinjai.

Hal itu diungkapkan Muhari, pada Penataran Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Provinsi Sulawesi Selatan, bertema 'Penanggulangan Bencana Urusan Bersama', di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, di hadapan 24 kepala daerah dan unsur BPBD serta semua jajaran TNI-Polri di Sulsel.

Baca juga: Bendungan Ciawi Ditargetkan Berfungsi Akhir 2020

Menurutnya, informasi itu sebagai identifikasi awal.

"Jadi diketahui ada sesar aktif, tapi lajunya tidak signifikan meski tetap berpotensi merusak jika masa depan terjadi gempa. Makanya sejak dini bisa kita informasikan untuk menyiapkan mitigasi bencana," kata Muhari.

Dengan demikian, lanjut Muhari, pemerintah dapat masukan dalam penyusunan tata ruang daerah dan kepada masyarakat untuk pegaturan struktur bangunan perumahan fasilitas umum dan sosial.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPB Doni Monardo, yang memaparkan kondisi kebencanaan di seluruh wilayah Indonesia, mengajak agar manusia kembali memahami apa yang telah dianjurkan, yaitu tentang hubungan manusia dengan alam.

Selain itu, ia meminta semua pihak secara bersama, tidak boleh hanya satu pihak, tapi semua berkolaborasi, pemerintah pusat, daerah, TNI serta Polri, untuk memikirkan strategi jangka panjang dalam penanggulangan bencana.

"Kita harus berpikir bagaimana menyiapkan bangsa ini agar dapat menghadapi ancaman bencana bukan untuk satu tahun, dua tahun, tapi ratusan tahun yang akan datang, sehingga mitigasi itu perlu," tegas Doni.

Mendengar kondisi tersebut, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengaku akan menindaklanjuti dengan mengumpulkan seluruh kepala daerah yang masuk ke Sesar Walanae, terutama dalam rangka membangun konstruksi rumah yang tentu harus tahan gempa.

"Kita juga tidak tahu kapan datangnya (bencana), tapi dalam rangka pencegahan lebih bagus kita mempersiapkan itu, sehingga segala sesuatunya nanti bisa tertangani dengan baik," tukas Nurdin.

Sebelumnya, BNPB merilis, hingga Senin (10/2), telah terjadi 455 bencana di sejumlah wilayah di Indonesia yang mengakibatkan korban jiwa dan kerugian materil.

Dari semua bencana yang terjadi, itu dominan bencana hidrometeorologi, yang terdiri atas bencana banjir 171 kejadian, puting beliung 155 kejadian, tanah longsor 98 kejadian, dan abrasi 2 kejadian.

Banjir menjadi bencana yang paling banyak mengakibatkan korban jiwa meninggal dunia, yaitu 86 orang, disusul tanah longsor lima orang, dan puting beliung 3 tiga orang, yang dua di antaranya hilang.

Selain mengakibakan korban jiwa, bencana yang terjadi mengakibatkan kerusakan infrastruktur, seperti tempat tinggal dan fasilitas lain, seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan jembatan.

Jumlah total rumah rusak dengan kategori rusak berat (RB) mencapai 2.512 unit, rusak sedang (RS) 1,725 dan rusak ringan 6.707. Sedangkan kerusakan infrastruktur lain, fasilitas pendidikan berjumlah 142, peribadatan 121, perkantoran 47 dan kesehatan 11.

Dari total kerusakan itu, hanya 5 rumah dengan kategori RS disebabkan karena gempa, sedangkan sisanya disebabkan bencana hidrometeorologi. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More