Senin 10 Februari 2020, 23:20 WIB

Perkantoran di Ibu Kota Tiongkok masih Tutup

Nur Aivanni | Internasional
Perkantoran di Ibu Kota Tiongkok masih Tutup

GREG BAKER / AFP
Seorang pria berjalan membawa tas belanja di luar mal mewah yang hampir sepi di Beijing, kemarin.

 

JUTAAN orang di Tiongkok kembali bekerja kemarin setelah libur panjang yang dimaksudkan untuk memperlambat penyebaran virus korona baru, yang telah menewaskan lebih dari 900 orang di negara itu.

Setidaknya 40.000 orang di Tiongkok sekarang telah terinfeksi virus yang diyakini muncul akhir tahun lalu di ibu kota Provinsi Hubei, Wuhan.

Dalam upaya untuk menahan virus korona, kota-kota di Hubei telah dikunci dan jalur transportasi di seluruh negeri dipangkas untuk menghentikan pergerakan ratusan juta orang yang biasanya mengunjungi keluarga mereka selama libur Tahun Baru Imlek.

Secara resmi liburan diperpanjang hanya tiga hari, tetapi banyak kota dan provinsi mendorong batas waktu hingga 10 Februari. Namun, sebagian besar perkantoran pada Senin pagi masih tutup.

Sebagian besar pekerja kerah putih dilaporkan akan bekerja dari rumah. Sementara itu, salah satu jalur kereta bawah tanah yang paling sibuk di Beijing tampak kosong. Beberapa penumpang yang akan berangkat kerja tampak menggunakan masker.

Langkah-langkah itu membuat bisnis, toko, pabrik, dan lokasi wisata ditutup dan mengubah banyak kota menjadi kota hantu serta memicu kekhawatiran tentang dampak wabah terhadap perekonomian.

Tetapi, ada tanda-tanda negara tersebut mulai kembali berjalan normal. Jalan-jalan di Beijing dan Shanghai secara signifikan memiliki lebih banyak lalu lintas daripada beberapa hari belakangan ini.

Puluhan juta orang di Hubei tidak kembali bekerja karena provinsi tersebut tetap dikunci. Banyak perusahaan menawarkan opsi kepada pegawai mereka untuk bekerja dari rumah.

Puncak gunung es

Industri pariwisata dalam keadaan lesu. Pasalnya, beberapa negara melarang kedatangan dari Tiongkok, maskapai penerbangan utama menangguhkan penerbangan dan kelompok wisata internasional dan domestik pun dihentikan. Sekolah dan universitas di seluruh negeri tetap ditutup.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa jumlah kasus yang tercatat di luar negeri bisa jadi hanya ‘puncak gunung es’.

Pernyataan itu disampaikannya ketika tim ahli internasional WHO berangkat hari Minggu (9/2) ke Tiongkok. Tim tersebut dipimpin Bruce Aylward, seorang ve-teran dari keadaan darurat kesehatan sebelumnya.

“Sudah ada beberapa contoh tentang penyebaran #2019nCoV dari orang-orang yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke (Tiongkok),” demikian cicitan Ghebreyesus pada Minggu.

“Deteksi sejumlah kecil kasus mungkin mengindikasikan penularan yang lebih luas di negara lain; singkatnya, kita mungkin hanya melihat ujung gunung es,” imbuhnya.

Sementara itu, penyebaran virus di luar Tiongkok tampaknya melambat. Ghebreyesus memperingatkan akan kemungkinan virus bisa berakselarasi.

Di luar Tiongkok daratan, lebih dari 350 infeksi virus korona dilaporkan di hampir 30 tempat. Ada dua korban meninggal, satu di Filipina dan satu di Hong Kong, serta satu terduga di Jepang. (ChannelNewsAsia//AFP/Hym/I-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More