Senin 10 Februari 2020, 20:35 WIB

Holding Rumah Sakit BUMN Tingkatkan Revenue Hingga Rp10 T

Faustinus Nua | Ekonomi
Holding Rumah Sakit BUMN Tingkatkan Revenue Hingga Rp10 T

MI/Gaih Pradipta
Para perawat berjaga di gedung baru RS Pelni, Jakarta, Rabu (2/12/2019).

 

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa konsolidasi rumah sakit milik perusahaan BUMN dapat meningkatkan hasil (revenue) yang semula Rp5,6 triliun menjadi Rp10 triliun. Konsolidasi tersebut akan menjadi tahap awal holding yang direncanakan terbentuk pada awal Juni 2020.

"Saat ini ada 64 rumah sakit dengan total 6.500 tempat tidur. Kalau secara revenue diawali dengan Rp5,6 triliun dengan EBITDA Rp510 miliar, tetapi kita belum konsolidasi dan maksimal. Saya harapkan ke depan bisa kurang lebih Rp8 - Rp10 triliunan," ungkap Erick dalam acara IHC Medical Forum, di Jakarta, Senin (10/2).

Dia menjelaskan proses konsolidasi menuju holding akan berjalan pada Juni 2020 melalui tiga tahapan. Tahap pertama, kata Erick, akan melibatkan konsolidasi sinergi antara PT Rumah Sakit Pelni dengan PT Pertamina Bina Medika IHC.

Pada tahapan tersebut. Erick mengatakan bahwa konsolidasi antara kedua perseroan tersebut tidak berfokus pada perpindahan kepemilikan. Tahap awal akan lebih diutamakan konsolidasi operasional rumah sakit.

"Apalagi penting sekali tercipta sinergi, agar bisa me-mapping konsolidasi ini ke depannya perlu apa. Misalnya alat CT scan, MRI baru lima. Dengan mapping ini kita bisa prediksi kebutuhan dari alat-alat yang ada," tambahnya.

Dia menambahkan bahwa konsolidasi tersebut juga untuk mempersiapkan perusahaan-perusahaan BUMN untuk kembali ke inti bisnis masing-masing. Dengan demikian, holding rumah sakit nantinya diurus oleh pihak-pihak yang benar-benar ahli di bidangnya untuk bisa memenuhi tuntutan masyarakat dan industri. Terutama, kata dia, dari segi menghadapi isu keamanan kesehatan (health security) dan ancaman penyakit-penyakit epidemik.

"Kalau kita lihat seperti virus korona bukan hanya penyakit epidemik, tapi sudah terasa ke ekonominya. Karena itu perlu juga ke depan kita mengantisipasi hal-hal ini. Jadi bukan hanya pelayanan secara bisnis tapi juga mengantisipasi kalau ada penyakit-penyakit epidemik," imbuhnya.

Dia juga menambahkan bahwa meskipun saat ini 58% populasi Indonesia tergolong angkatan muda dengan usia rata-rata 30 tahun, isu keamanan kesehatan perlu diantisipasi dari sekarang. Salah satu bentuk antisipasi tersebut yakni dengan menyinergikan holding farmasi yang sudah dibentuk sebelumnya dengan rumah sakit milik BUMN.(E-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More