Senin 10 Februari 2020, 11:38 WIB

Liburan Imlek Usai, Warga Tiongkok Kembali Bekerja

Nur Aivanni | Internasional
Liburan Imlek Usai, Warga Tiongkok Kembali Bekerja

AFP/GREG BAKER
Sejumlah warga melakukan aktivitas di Beijing, Tiongkok

 

JUTAAN orang di Tiongkok kembali bekerja pada Senin (10/2) setelah libur panjang Imlek yang dimaksudkan untuk memperlambat penyebaran virus korona baru yang telah menewaskan lebih dari 900 orang di negara itu.

Setidaknya 40 ribu orang di Tiongkok sekarang telah terinfeksi virus yang diyakini muncul akhir tahun lalu di ibu kota Provinsi Hubei, Wuhan.

Dalam upaya menahan virus korona, kota-kota di Hubei telah dikarantina dan jalur transportasi di seluruh negeri dipangkas untuk menghentikan pergerakan ratusan juta orang yang biasanya mengunjungi keluarga mereka selama libur Tahun Baru Imlek.

Langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya termasuk memperpanjang hari libur dan meminta warga tetap tinggal di dalam rumah sebanyak mungkin.

Secara resmi, liburan Imlek diperpanjang hanya tiga hari tetapi banyak kota dan provinsi mendorong batas waktu hingga 10 Februari.

Baca juga: Malaysia Konfirmasi Warga Negara Keenam Positif Virus Korona

Langkah-langkah tersebut membuat bisnis, toko, pabrik, dan lokasi wisata ditutup dan mengubah banyak kota menjadi kota hantu serta memicu kekhawatiran tentang dampak wabah terhadap perekonomian.

Tetapi, dikutip dari Channel News Asia, Senin (10/2), ada tanda-tanda negara tersebut mulai kembali berjalan normal.

Jalan-jalan di Beijing dan Shanghai secara signifikan memiliki lebih banyak lalu lintas dibandingkan beberapa hari belakangan ini.

Kota Guangzhou selatan mengatakan transportasi umum akan berjalan normal mulai Senin (10/2). Kota itu telah menghentikan layanan sebagian akibat wabah virus korona.

Meskipun begitu, puluhan juta orang di Hubei tidak kembali bekerja karena provinsi tersebut tetap dikarantina. Banyak perusahaan menawarkan opsi kepada pegawai mereka untuk bekerja dari rumah.

Produsen mobil Volkswagen mengatakan, sementara beberapa pabriknya akan dibuka kembali pada Senin (10/2), yang lain telah menunda produksi selama seminggu lagi. Toyota pun telah memperpanjang penutupan pabriknya di Tiongkok hingga 16 Februari.

Banyak pabrik yang menyangkut pembuatan peralatan medis telah kembali bekerja. Menurut Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, sekitar 87% dari produksi masker medis negara itu telah dimulai kembali.

Bank Sentral Tiongkok mengatakan akan menyediakan 300 miliar yuan (US$43 miliar) dalam pinjaman khusus kepada bank mulai Senin (10/2) untuk membantu bisnis yang terlibat dalam melawan epidemi tersebut.

Di sisi lain, industri pariwisata tetap dalam keadaan lesu. Pasalnya, beberapa negara melarang kedatangan dari Tiongkok, maskapai penerbangan utama menangguhkan penerbangan dan kelompok wisata internasional dan domestik pun dihentikan. Sekolah dan universitas di seluruh negeri tetap ditutup.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa jumlah kasus yang tercatat di luar negeri bisa jadi hanya "puncak gunung es".

Pernyataan itu disampaikannya ketika tim ahli internasional WHO berangkat hari Minggu (9/2) ke Tiongkok. Tim tersebut dipimpin oleh Bruce Aylward, seorang veteran dari keadaan darurat kesehatan sebelumnya. (Channel News Asia/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More