Senin 10 Februari 2020, 08:52 WIB

Karakter dan Literasi dalam Pedagogi Siber

Yogyantoro Guru SMPN 4 Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah | Opini
Karakter dan Literasi dalam Pedagogi Siber

MI/RAMDANI
MENKO PMK KABINET INDONESIA MAJU 2019-2024

KATA karakter semakin populer setelah pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik In­­donesia periode 2016-2019, Muhadjir Effendy, memastikan program Penguatan Pendidik­an Karakter (PPK) mulai dilak­sanakan pada tahun ajaran 2017/2018.
Jika berbicara masalah ka­rak­ter, tidak akan jauh dari ma­salah proses pelatihan, pem­biasaan, dan keteladanan. Dalam buku Mengenang Bung Hatta, I Wangsa Widjaja mengutip tulisan Bung Hatta (1954) tentang karakter bahwa seseorang boleh genius atau berbakat, tetapi apabila tidak memiliki karakter, sama saja de­ngan tidak mempunyai ke­mau­an untuk membela bangsanya.
Menteri Pendidikan dan Ke­budayaan RI yang sekarang, Nadiem Anwar Makarim, menyatakan masih perlunya memfokuskan penciptaan pen­didikan yang berbasis kompetensi dan karakter. Bangsa In­donesia di tengah kompeti­si global yang serbadigital membutuhkan banyak sekali perubahan.
Untuk melakukan perubah­an, diperlukan keberanian me­langkah di era yang kini banyak dikendalikan oleh kode-kode virtual. Satu tindakan nya­ta yang dapat dilakukan sebagai guru salah satunya ialah menghidupkan literasi yang relevan dalam komunitas dunia digital yang lekat dengan pemrograman atau bahasa coding yang dimulai dari ruang-ruang kelas.
Namun, hal ini tak boleh le­pas dari khitah membangun peradaban bangsa yang bermuara pada penguatan karakter peserta didik. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan bila tanpa dibarengi dengan prinsip gotong royong dan kolaborasi da­ri pemerintah pusat (kementerian) dan daerah, masyarakat, kepala sekolah, keluarga dan guru.

Literasi
Melalui literasi, siapa pun akan tergerak, terinspirasi, ter­akselerasi, lebih terampil, menguasai Iptek, bertalenta global, dan berubah kehidup­annya karena cakrawala inte­lektualnya akan bertambah luas. Lebih-lebih di era globalisasi 3.0 ini, informasi begitu mudah didapatkan di mana saja dan kapan saja. Tentunya, menanamkan enam kemampuan literasi dasar, yaitu literasi bahasa dan sastra, literasi sains, literasi TIK ( teknologi informasi dan komunikasi), li­terasi finansial, lite­rasi numerasi, dan literasi budaya dan kewarganegaraan akan menjadi penjaga gawang lapisan utama bagi diri kita dalam menghadapi pendidikan zaman sekarang. Saat ini dengan meruaknya artificial intelligence dan big data, literasi TIK sangat diperlukan dalam pengelolaan pendidikan.
Memang, karak­ter dan lite­rasi ia­lah komponen dasar da­lam proyeksi pendidikan era 4.0. Alat untuk mengembang­kan keterampilan, yaitu jaring­an digital, teknologi informasi, dan literasi. Lima puluh juta peserta didik dari generasi Y dan generasi Z atau generasi milenial yang akrab dengan dunia digital di 300 ribu sekolah, membutuhkan ketekunan dan kerja keras untuk membekali diri dengan literasi kontemporer. Bagaimanapun salah satu indikator keberhasilan pendidikan ialah literasi. Prioritas utama tetap membangunan sumber daya manusia yang berkarakter atau menjunjung moralitas.
Permasalahan bangsa ini akan semakin menggunung jika penyakit kronis masih te­rus menggerogoti jantung pendidikan kita. Hal itu ditandai dengan semakin maraknya tindakan amoral, seperti radikal­isme, korupsi, human trafficking, terorisme, penggunaan obat-o­batan terla­rang, ke­kerasan oleh sis­­­wa terhadap sis­­wa, oleh siswa ter­hadap guru, oleh gu­ru terhadap sis­­wa, dan oleh orangtua terhadap guru. Oleh karena itu, program PPK se­cara memerinci memuat 18 nilai–ni­lai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa, serta pe­­­­nanaman nilai spi­­­­ritualitas, harus menjadi landasan da­lam penerapan teknologi ultramo­dern. Semua itu di­­lakukan untuk meng­­­akselerasi per­­baikan dan peningkatan kualitas pendidikan di era yang penuh dis­­rupsi ini.


Berbasis jejaring
Guru yang berada dalam society 4.0 bahkan 5.0 dituntut dapat berperan sebagai fasilitator dan pendamping dalam proses pembelajaran yang ber­basis jejaring. Peserta didik sekarang dapat dengan mudah mengakses sumber-sumber referensi melalui search engi­ne, situs repository video, dan memanfaatkan electronic mail dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran di era 4.0, yaitu blended learning atau gabungan antara metode tatap muka tradisional dan penggu­­naan media daring atau digital.
Guru dapat memberi tugas mencari referensi dari tayang­an bermutu. Bisa juga menga­rahkan peserta didik untuk mencari atau mengunduh tayangan yang bersifat edukatif, yang dapat menambah pengetahuan dan mengedepankan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bukankah bera­gam ilmu pengetahuan sudah tersedia di cloud computing?
Guru juga dapat mengarah­kan peserta didik untuk meng­­­­­ikuti kegiatan yang bisa mengembangkan potensi mereka melalui kegiatan ekspe­­rimen dengan media digital, kelompok belajar membuat karya-karya kreatif menggunakan software yang ada, proyek dengan memanfaatkan sosial media, mobile learning dengan menggunakan perangkat canggih, seperti smartphone, kom­pu­­­ter, riset sederhana, ekstra kurikuler, kegiatan literasi atau extensive reading.

Dengan menerapkan pola pem­belajaran seperti itu, ber­ar­­ti seorang guru telah me­ngem­­bangkan karakter pembelajaran bagi warga pribumi digital (digital native) yang me­liputi 4C, antara lain commu­nication (komunikasi), yaitu mengajarkan kemampuan ko­­munikasi yang efektif, col­la­boration atau kerja sama, cri­tical thinking and problem solving sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan creativity and innovation, yaitu kemampuan berpikir berbasis penemuan.
Globalisasi 3.0 penuh dengan generasi bebas (langgas), bukan digital immigrant atau kaum imigran digital. Menteri Nadiem mengatakan bahwa tek­nologi menjadi instrumen yang diandalkan untuk meme­cah­kan permasalahan pendidikan.
Akhirnya, tulisan ini penulis tutup dengan kutipan dari Alfin Toefler yang menyatakan bahwa di era ini, orang buta hu­ruf ialah orang yang tidak me­nguasai ICT. Globalisasi ialah a boardless world, yaitu dunia tanpa batas yang me­nawarkan teknologi dan ko­nektivitas.
Stakeholder di dunia pendi­dik­an, baik pemerintah, praktisi pendidikan, guru, pemerhati pendidikan, pengelola sekolah, keluarga maupun masyarakat umum, harus mampu memba­ca perubahan zaman. Jika mengajari peserta didik sekarang dengan metode yang kita gunakan dulu, sama artinya dengan merampas masa depan mereka. Mari optimalkan teknologi dalam pedagogi siber bagi pembelajar sepanjang hayat (life-long learner) sehingga tercipta link and match di institusi pendidikan dengan industri.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More