Senin 10 Februari 2020, 07:17 WIB

Korban Meninggal Akibat Virus Korona Lewati 900 Jiwa

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Korban Meninggal Akibat Virus Korona Lewati 900 Jiwa

AFP/Spencer Platt/Getty Images
Seorang pria yang ambil bagian dalam parade Imlek di Chinatown, New York, Amerika Serikat membawa spanduk dukungan untuk Wuhan.

 

JUMLAH kematian akibat virus korona baru Wuhan melonjak melewati 900 di daratan Tiongkok, Senin (10/2), setelah Provinsi Hubei yang paling parah melaporkan 91 kematian baru.

Dalam laporan hariannya, Komisi Kesehatan Hubei juga mengonfirmasi 2.618 kasus baru di provinsi itu, tempat wabah itu muncul pada Desember lalu.

Sekarang ada lebih dari 39.800 kasus yang dikonfirmasi di seluruh Tiongkok, berdasarkan angka yang dirilis sebelumnya dari pemerintah.

Virus baru itu diyakini telah muncul tahun lalu di pasar yang menjual hewan liar di ibu kota Hubei, Wuhan, kota di pusat wabah, sebelum menyebar ke seluruh negeri.

Baca juga: Ilmuwan Berpacu Temukan Vaksin

Data terbaru datang setelah WHO mengatakan empat hari terakhir telah melihat beberapa stabilisasi di Hubei, tetapi memperingatkan angka kasus masih bisa 'naik'.

Michael Ryan, Kepala Program Keadaan Darurat Kesehatan WHO, mengatakan, "Periode stabil wabah dapat mencerminkan dampak dari langkah-langkah pengendalian."

Sebuah misi pakar internasional WHO berangkat Minggu (9/2) malam ke Tiongkok, kata Direktur Jenderal badan itu Tedros Adhanom Ghebreyesus di Twitter.

Misi itu dipimpin Bruce Aylward, seorang veteran yang berkecimpung dalam keadaan darurat kesehatan sebelumnya.

Sementara angka kematian telah meningkat terus, kasus-kasus baru telah menurun sejak puncak tunggal, Rabu lalu, hampir 3.900 orang di seluruh negeri.

Jutaan orang dikurung di Hubei dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus.

Kemarahan publik

"Pemerintah setempat meminta orang-orang untuk tinggal di rumah sebanyak mungkin, tetapi tidak ada cukup barang di toko setiap kali kami sampai di sana, jadi kami harus sering keluar," kata seorang perempuan di Wuhan, yang bermarga Wei, kepada AFP.

Tiongkok menuai kecaman internasional karena menutupi kasus-kasus selama wabah SARS, sedangkan WHO memuji tindakan yang telah diambilnya saat ini.

Namun kemarahan meletus setelah kematian seorang dokter Wuhan yang dibungkam oleh ketika ia memperingatkan tentang virus yang muncul pada Desember.

Dokter bernama Li Wenliang, 34, meninggal Jumat (7/2) pagi, setelah tertular virus dari seorang pasien.

Akademisi Tiongkok termasuk di antara mereka yang marah dengan kematiannya, dengan setidaknya dua surat terbuka diposting di media sosial menuntut lebih banyak kebebasan berekspresi.

"Akhiri pembatasan kebebasan berbicara," kata salah satu tuntutan mereka. (CNA/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More