Minggu 09 Februari 2020, 19:55 WIB

Harga Minyak Dunia Dekati US$50, Harga BBM Diprediksi Turun Maret

Faustinus Nua | Ekonomi
Harga Minyak Dunia Dekati US$50, Harga BBM Diprediksi Turun Maret

ANTARA/M Agung Rajasa
Operator di SPBU Dago, Bandung, Jawa Barat, Minggu (5/1). Harga BBM diprediksi turun pada awal Maret 2020.

 

TREN harga minyak mentah dunia terus merosot selama dua minggu terakhir mendekati level US$50 per barel. Hal itu lantaran melemahnya permintaan global akibat kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus korona.

Hingga Sabtu (8/2), minyak mentah berjangka Brent (ICE) untuk pengiriman Maret turun 31 sen atau 0,57% menjadi US$54,45 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret turun 39 sen atau 0,77% ke level US$50,34 per barel.

Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai melemahnya harga minyak mentah dunia saat ini tidak serta merta langsung berpengaruh terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.

Pasalnya, harga tersebut merupakan harga di pasar spot, sedangkan pasokan BBM di Tanah Air sudah disediakan sejak beberapa bulan sebelumnya.

"Pertamina beli minyak sudah 2-3 bulan lalu untuk pasokan Januari/Februari ini. Jadi harga minyak sekarang pengaruhnya pada harga BBM di Maret/ April," jelas Fabby kepada Media Indonesia, Minggu (9/2).

Karena itu, ia memprediksi baru mulai awal Maret akan terjadi penurunan harga BBM di level Rp7.000 hingga Rp7.500 per liter untuk jenis Pertalite.

"Harga minyak sekarang ini akan berpengaruh pada harga BBM pada Maret atau April di sekitar level Rp7000-7500/liter (Pertalite). Tapi untuk penentuan harga BBM perlu dicermati harga minyak 2-3 bulan terakhir," kata Fabby.

Jika harga minyak terus berlangsung beberapa bula ke depan, ia menyebut tren itu akan mendorong ekonomi domestik. Sektor-sektor industri menurutnya akan lebih bergairah dan daya beli masyarakat pun akan meningkat.

meski demikian, apabila harga minyak terus berada di bawah indikator harga migas atau Indonesian Crude Price (ICP) yakni US$65 per barel, itu akan berdampak pada penerimaaan negara dan investasi sektor migas ke depan.

"Kalau harga minyak mentah di bawah ICP, penerimaan negara berkurang. Lalu kalau harga minyak rendah maka biasanya minat eksplorasi menurun," pungkasnya. (X-12)

Baca Juga

ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA

Ketidakpastian Tinggi, IHSG Kembali Masuk Teritorial Negatif

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 08 April 2020, 09:37 WIB
Sentimen pasar dari dalam negeri kali ini berkutat pada proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini yang akan mengalami penurunan tajam...
Istimewa/Kementan

Pandemi Covid-19 Tak Halangi Wonogiri Capai Produksi 10,5 Ton/Ha

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 April 2020, 09:37 WIB
Meskipun sedang ada pandemi Covid-19, tidak menghalangi Kabupaten Wonogiri menunjukkan eksistensinya sebagai lumbung pangan di Jawa...
Istimewa/Kementan

Genius Umar Tegaskan Stok Beras Aman Hadapi Korona dan Ramadan

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 April 2020, 09:22 WIB
Wali Kota Pariaman, Genius Umar, menegaskan stok beras di daerahnya aman walaupun tengah dihadapkan pandemi virus korona atau...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya