Minggu 09 Februari 2020, 05:20 WIB

Cara Riang Menggugat Patriarkat

(Jek/M-2) | Weekend
Cara Riang Menggugat Patriarkat

DOK. IMDB.COM

FILM ini punya judul lumayan panjang, Birds of Prey and The Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn. Adanya kata 'emancipation' (emansipasi) di judul film memantik rasa penasaran terhadap film yang termasuk dalam extended universe DC atau worlds of DC ini. Apalagi disandingkan dengan sosok 'gokil' Harley Quinn--jika lupa, coba simak ulang film Suicide Squad.

Film itu mengangkat Quinn ke bawah lampu sorot pascaputus hubungan kasih dengan Joker. Ada masanya Quinn diidentifikasi hanya sebagai perempuan yang berlindung di ketiak pacar maniaknya itu. Namun, Quinn lantas unjuk gigi. Ia meledakkan pabrik kimia, tempat dirinya dan Joker jatuh cinta. Aksinya sekaligus maklumat terhadap para pengincarnya di Gotham.

Quinn (Margot Robbie) dipertemukan dengan para perempuan lara lainnya. Lara pada Gotham yang melanggengkan patriarkat. Identifikasi paling mudah ialah sosok detektif Renee Montoya (Rosie Perez) yang di kantor kalah pamor dari koleganya walau mereka bersama-sama membongkar sebuah kasus.

Bersama Montoya, Quinn, Black Canary (Jurnee Smollett-Bell), dan Huntress (Mary Elizabeth Winstead) kemudian bersekutu menghadapi Roman Sionis/Black Mask (Ewan McGregor) yang tengah mengincar seorang gadis muda, Cassandra Cain (Ella Jay Basco).

Film yang disutradarai Cathy Yan ini mengalir dengan narasi dari penuturan Quinn. Pada bagian mula film, visual bergaya animasi digunakan untuk menceritakan perkembangan dan latar belakang Quinn sebelum beralih menjadi live action. Namun, jejak kemasan pada awal film bukan sekadar tempelan. Sebab, sampai akhir, Cathy bersama desainer produksi KK Barrett terus mempertahankannya. Misalnya, membubuhkan efek goresan-goresan seperti pada komik di kebanyakan karakter di dalamnya, baik untuk para ansambelnya maupun sekadar kameo. Yan juga menaruh sisi-sisi sentimentil perempuan dalam filmnya. Sebrutal-brutalnya mereka melakukan aksi laga, toh masih saling meminjami kunciran rambut. Juga, bagaimana gambaran junk food berserak di kamar Quinn, yang pada awal film masih dalam masa patah hati.

Ia pun menampilkan sentilan satir, lewat Huntress yang serius dan dingin, tiba-tiba masuk scene yang mematahkan persona tersebut. Huntress yang tampak acuh ternyata mencemaskan bagaimana orang memanggil dan mengenalnya. Film itu jadi pernyataan bahwa banyak standar ganda yang masih dilanggengkan atas perempuan.

Birds of Prey tidak secara terbuka dan secara tebal mengantar misi yang berisi gugatan untuk sistem patriarkat. Namun, ini jelas menjadi cara bagaimana perempuan menggugatnya dengan sesuatu kegilaan, kebebasan, dan penuh kelakar riang.

Meski demikian, ada beberapa celah dalam film ini. Motivasi Roman Sionis saat ia ingin mengenakan lagi topeng hitamnya, umpama. Itu justru tampak konyol sebab tidak ada perubahan karakter siginifikan saat Sionis tidak memakai dan memakai kembali topeng itu, kecuali Yan memang sengaja ingin mengoloknya. (Jek/M-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More