Minggu 09 Februari 2020, 04:50 WIB

DPR AS Kutuk Tindakan Balas Dendam Trump

(Washington Post/BBC/Hym/I-1) | Internasional
DPR AS Kutuk Tindakan Balas Dendam Trump

(Photo by Ethan Miller / AFP)
Ketua Demokrat Komite Intelijen Rumah, Perwakilan Adam B. Schiff

 

DPR Amerika Serikat (AS) yang dikuasai Demokrat mengutuk tindakan Presiden AS Donald Trump yang memecat dua saksi kunci dalam persidangan pemakzulan setelah senat membebaskannya dari dakwaan.

Trump memberhentikan Letnan Kolonel Alexander Vindman, pakar top Ukraina di Dewan Keamanan Nasional, dan Duta Besar AS untuk Uni Eropa Gordon Sondland.

Politikus Partai Demokrat dan Ketua Komite Intelijen DPR AS, Adam B Schiff, menuduh Partai Republik memberikan lampu hijau untuk tindakan balasan Trump.

"Ini ialah tindakan seorang pria yang percaya bahwa ia berada di atas hukum--tepatnya jenis peri-laku yang dimungkinkan oleh Kongres Republik," kata Schiff dalam sebuah cuitan.

Ketua DPR Nancy Pelosi memuji Vindman, seorang penerima penghargaan Purple Heart, sebagai seorang patriot AS. Dia juga mendesak Trump, mengatakan dia 'dimakzulkan selamanya'.

"Pemecatan memalukan Kolonel Vindman merupakan tindakan pembalasan yang jelas dan kurang ajar yang menunjukkan ketakutan Presiden akan kebenaran," kata Pelosi dalam sebuah pernyataan.

Ia menyebut senator Republik telah menjadi kaki-tangan Trump yang turut merestui dan menutup-nutupi tindakan Presiden. "Peme-catan prajurit patriotik ialah kerugian yang menyedihkan bagi keamanan AS," tandasnya.

Namun, anggota Kongres dari Partai Republik Thomas Massie mengatakan dia juga akan memecat Letkol Vindman. "Dia pembocor, bukan pelapor," ujar Massie. "Panglima tertinggi saat ini tidak menerima perintah dari letnan kolonel!"

Ketika Trump meninggalkan rumah eksekutif, Jumat (7/2) waktu setempat menuju Carolina Utara, Trump mengatakan kepada wartawan, "Saya tidak senang dengannya (Letnan Kolonel Vindman)."

"Anda pikir saya seharusnya senang dengannya? Saya tidak senang," ucap Trump.

Penasihat Letkol Vindman, David Pressman, mengatakan kepada BBC bahwa kliennya telah dikawal keluar dari Gedung Putih. Ia dengan patuh melayani negaranya dan presidennya. "LTC Vindman diminta pergi karena mengatakan yang sebenarnya. Kehormatannya, komitmennya atas kebenaran, menakuti yang kuat," ujar Pressman.

Kebenaran telah membuat Vind-man mengorbankan pekerjaannya, kariernya, dan privasinya. "Orang yang paling kuat di dunia telah membalas dendam."

Menurut sumber-sumber Gedung Putih, Vindman telah memperkirakan pemindahan. Dia siap untuk pindah kembali ke Departemen Pertahanan, tempat dia berstatus prajurit aktif. (Washington Post/BBC/Hym/I-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More