Sabtu 08 Februari 2020, 20:36 WIB

Bangkai Gajah Liar ditemukan lagi di Riau

Rudi Kurniawansyah | Humaniora
Bangkai Gajah Liar ditemukan lagi di Riau

Dok.BBKSDA-Riau
Gajah lia berjenis kelamin betina ditemukan mati di Riau.

 

GAJAH sumatra (Elephas maximus sumatrensis) berjenis kelamin betina dan berumur sekitar 40 tahun ditemukan mati di konsesi perusahaan hutan tanaman industri (HTI) PT Arara Abadi Distrik II Kilometer (Km) 54, Desa Koto Pait, Kecamatan Tualang Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Jumat (7/2)

Penemuan ini merupakan kasus kesekian kalinya gajah liar ditemukan mati di konsesi perusahaan.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono mengatakan informasi kematian gajah liar itu diketahui pada Jumat (7/2)
siang, berdasarkan laporan yang diterima BBKSDA Riau dari PT Arara Abadi.

"Laporan perusahaan bahwa telah ditemukan satu gajah mati di PT Arara Abadi, Km. 54, Desa Koto Pait, Kecamatan Tualang Mandau, Kabupaten
Bengkalis. Kami segera menurunkan tim lapangan saat itu juga untuk mengecek kebenaran berita tersebut," jelas Suharyono di Pekanbaru, Sabtu (8/2).

Dia mengungkapkan, setelah tim lapangan melakukan observasi, kemudian dilanjutkan kerja tim medis untuk melakukan nekropsi.

"Sabtu (8/2) pagi, nekropsi segera dilakukan oleh dua dokter hewan BBKSDA Riau yaitu drh. Rini Deswita, dan drh. Danang beserta tim medis," jelas.

Hasil nekropsi menyimpulkan gajah berjenis kelamin betina dan berumur kurang lebih 40 tahun itu mati 5 hari sebelum satwa tersebut ditemukan.

"Tidak ditemukan adanya kekerasan fisik maupun keracunan," tegas Suharyono.

Dia melanjutkan, dari hasil pemeriksaan patologi anatomi penyebab kematian gajah murni gangguan pencernaan yaitu gastroenteritis kronis. Dimana makanan tidak dapat dicerna sehingga otomatis satwa tersebut pun kehilangan berat badannya.

"Setelah dilakukan nekropsi, bangkai gajah di kuburkan di sekitar lokasi kematian dengan menggunakan alat berat PT Arara Abadi," jelasnya. (OL-13)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More