Minggu 09 Februari 2020, 02:15 WIB

Afair 2020, Simpul Pendidikan Arsitektur Indonesia

Fathurrozak | Weekend
Afair 2020, Simpul Pendidikan Arsitektur Indonesia

DOK AFAIR 2020
Afair 2020

SEJAK 2016, Architecture Fair (Afair) menjelma ajang dua tahunan pameran karya arsitektur bagi mahasiswa arsitek Universitas Indonesia (UI). Pada Afair tahun ini, yang dihelat pada awal Februari, di Galeri Nasional Jakarta, penyelenggara membuat perubahan dengan mengundang seluruh institusi pendidikan empunya program studi arsitektur seantero Indonesia untuk ikut berpartisipasi.

Dalam sesi presentasi bertema kreatif, tiga mahasiswa memaparkan abstraksi konsep yang telah dirancang. Dang Sukma, mahasiswi Institut Teknologi Indonesia, memaparkan konsep bangunan yang dinamai Artpreneur Center. Dalam rancang bangunnya, Dang menampilkan sisi-sisi bangunan yang akan diisi teater hall, bios­kop, galeri seni, dan hotel kapsul. Atas konsep itu, Dang mengambil inspirasi tema sandiwara sebagai filosofinya, bahwa dalam setiap kehidupan selalu ada seni yang bersumber mengenai rasa.

Sementara itu, mahasiswa Universitas Merdeka Malang, Rudi, memaparkan konsep bangunan yang ia namai Blitar Creative Center. Adapun rekan sekampusnya, Arya Ardiana, memaparkan konsep Bantarangin Culture Art Museum.

Karya mereka langsung mendapat penilaian dan ulasan dari para profesional yang telah direkomendasikan Sekretaris Jenderal Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Salah satu pengulas, Ariko Andikabina, menyebutkan dari tiga desain abstraksi yang dipresentasikan, ia menangkap ada kesamaan konsep desain, yakni penggunaan tangga yang dominan. Namun, ia pun memberi kritik. Penggunaan tema senter, anggapnya, kurang tepat dengan melihat kembali desain-desain konsep yang dipresentasikan.

“Karya arsitektur sering disalahpahami apabila narasinya kurang. Narasi itu penting karena menyampaikan pesan apa yang mau diletakkan di sini,” ungkap Ariko.

Itu sekelumit cerita dari perhelatan Afair 2020 yang diadakan Ikatan Mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia. Tahun ini, untuk kali perdana mereka mengundang lembaga pendidikan lain berpartisipasi. Total 62 institusi pendidikan hadir di acara tersebut.

“Afair awalnya setiap tahun. Diadakan mahasiswa di bawah Ikatan Mahasiswa Arsitektur UI. Pada 2016, pertama kalinya Afair diselenggarakan di Galeri Nasional, kemudian setelah itu menjadi acara dua tahunan. Tahun ini, selain Galeri Nasional Indonesia, kami juga berkolaborasi dengan Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (Aptari),” papar Program Officer Afair 2020, Gracia Carmelita Varani, di sela kegiatan.

Menurut mahasiswi yang akrab disapa Vara tersebut, tahun ini mereka mendapat tantangan dari Galeri Nasional untuk bisa mengangkat pendidikan arsitektur secara nasional, bukan sebatas lingkup mahasiswa arsitektur UI. Hasilnya ialah pameran 101 karya dalam Afair 2020 yang mengangkat tema Us Within, Us Without tersebut. Forum itu juga mewadahi lima sesi presentasi. Masing-masing bertema ecology; lifestyle and living; science and well being; locality; dan creative sebagai pemungkas rangkaian presentasi mahasiswa.

Kontribusi

Minimnya pameran arsitektur ditengarai menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat asing dengan eksistensinya, seolah karya arsitektur sebatas karya rancang bangun yang bersifat privat belaka. Hal itu, menurut Vara, memperkuat urgensi keberadaan pameran arsitektur bermuatan karya-karya dengan isu sosial lingkungan yang melibatkan peran masyarakat sebagai bagian dari karya arsitektural.

“Orang kalau melihat arsitektur hanya soal bangun-bangun rumah, gedung, kantor, dan lanskap. Mereka belum melihat lebih luas bahwa arsitektur juga punya keterkaitan arsitektural dengan perannya terhadap lingkungan, masyarakat, dan sosial. Itu yang harus di-highlight. Bukan hanya proyek-proyek personal untuk klien, melainkan juga lebih luas lagi dari sekadar private property,” tuturnya.

Ia mencontohkan karya-karya seperti yang diinisasi Romo Mangunwijaya dalam menata Kali Code di Yogyakarta menunjukkan bahwa arsitektur juga bisa berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Menggerakkan masyarakat dan memiliki kontribusi pada lingkungan yang lebih luas.

“Pola pikir mahasiswa sejauh apa sudah bisa mengartikan arsitektur. Bukan hanya bangunan, melainkan juga arsitektur bisa berbuat sesuatu untuk lingkungan. Oleh karena itu, di pameran ini juga ada seksi karya terkait ekologi, bagaimana peran arsitektur terhadap ekologi. Apakah hadir untuk menyelamatkan lingkungan atau justru disrupsi lingkungan? Itu yang jadi pertanyaan pada saat awal masuk pamer­an. Apa itu arsitektur. Perannya apa?” papar Vara.

Mendatang, Vara berharap para juniornya di kampus bisa melibatkan lebih banyak institusi pendidikan arsitektur Indonesia. Saat ini, yang ia lakukan bersama rekan-rekannya masih setengah dari jumlah total database. Yang dimilikinya ada sekitar 120-an institusi pendi­dikan arsitektur.

Sesi presentasi juga menjadi semacam tolok ukur perspektif yang dimiliki mahasiswa arsitektur. Berdasarkan kuratorial Yandri Andri Yatmo, profesor arsitektur UI, ia menyebut masih ada ke­timpangan pendidikan seperti tecermin dari karya-karya yang masuk.

Menurutnya, ada kecenderungan perbedaan antara mahasiswa yang berbasis di Ibu Kota, terkait dengan akses dan sumber informasi, dan mahasiswa arsitektur di beberapa daerah.

Arya Ardiana, mahasiswa Universitas Merdeka Malang, meng­ungkapkan ketika karya tugasnya diulas, menjadi masukan yang sangat penting bagi perkembangannya mendatang. Menurutnya, ini menjadi salah satu medium untuk mengukur diri.

“Acara ini cukup bagus sebab kita bisa mengukur kemampuan diri sendiri dan bisa melihat karya mahasiswa lain. Jadi bisa membandingkan karya kita, yang tadinya hanya di kampus, di sini bisa melihat karya luar (kampus lain). Melihat taraf desain yang lebih luas,” papar Arya. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More