Minggu 09 Februari 2020, 00:30 WIB

Merdeka Belajar

Wartawan Media Indonesia Ono Sarwono | Weekend
Merdeka Belajar

Ebet
Wartawan Media Indonesia Ono Sarwono

PROGRAM Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka dalam proses pendidikan yang diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim baru-baru ini banyak mendapat tanggapan positif. Kebijakan ini dinilai revolusioner dan sesuai dengan tuntutan dalam persaingan global.

‘Roh’ konsep pendidikan ini ialah kemerdekaaan berpikir. “Esensi kemerdekaan berpikir ini harus ada pada guru dulu. Tanpa terjadi pada guru, tidak mungkin bisa terjadi pada murid,” kata Nadiem.

Dalam kisah wayang, kebijakan Merdeka Belajar ini pernah terjadi di Padepokan Sokalima yang dipimpin Begawan Durna. Itu terjadi ketika ia memiliki siswa bernama Raden Ekalaya dari Negara Paranggelung.

Guru Pandawa dan Kurawa

Alkisah, paranpara Negara Astina Resi Bhisma, ahli waris sejati takhta Astina, mengontrak Bambang Kumbayana menjadi guru Pandawa dan Kurawa. Harapannya, para pangeran generasi penerus itu menjadi kesatria dan pemimpin yang mampu membawa kejayaan paripurna Astina pada masa depan.

Bhisma memerintahkan Kumbayana, yang di kelak kemudian hari kondang bernama Durna, menjadi guru khusus untuk para keturunan Pandudewanata dan Drestarastra tersebut. Mereka ialah para cucu mantan raja Astina karismatik berwatak resi Prabu Kresnadwipayana alias Abiyasa.

Pandawa terdiri atas lima laki-laki bersaudara, yaitu Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten. Sementara itu, Kurawa terdiri atas seratus orang, sulungnya bernama Kurupati alias Duryudana.  

Durna dikenal sakti, pemanah ulung dan ahli dalam ilmu perang. Namanya terkenal hingga mancanegara. Oleh karenanya, tidak aneh bila banyak pemuda dari negara lain yang kepincut menjadi muridnya. Satu di antara anak yang bernafsu ngangsu kawruh (menimba ilmu) dari Durna ialah Ekalaya, putra Raja Negara Paranggelung Prabu Hiranyadanu.

Suatu hari, Ekalaya datang ke Sokalima untuk mendaftarkan diri menjadi siswa di padepokan tersebut. Ketika akan memasuki pekarangan, ia melihat ada seorang pemuda berjalan gontai meninggalkan padepokan. Pemuda tampan yang belakangan ia ketahui bernama Radeya alias Karna itu juga ingin menjadi murid Durna. Namun, ia ditolak Durna karena bukan anggota keluarga Pandawa atau Kurawa.  

Ekalaya menjadi gamang karenanya. Namun, karena sudah datang jauh-jauh dari negaranya, ia memberanikan diri menghadap Durna. Ia berterus terang ingin menjadi siswa di Sokalima. Namun, seperti yang ia khawatirkan, ia akhirnya juga ditolak. Durna menegaskan bahwa sesuai dengan kontraknya dengan Bhisma, dirinya hanya diperintahkan menjadi guru para pangeran Astina.

Ekalaya kembali ke negaranya dengan gundah gulana. Namun, bayangan Durna yang ia kagumi tidak bisa hilang dari pikirannya. Bahkan, Durna kerap hadir dalam mimpi-mimpinya. Inilah yang membuatnya tidak bisa melupakan Durna. Keinginannya menjadi murid tidak tertahankan lagi.

Ekalaya berpikir dan merenung. Lalu munculah ide membuat patung Durna. Hari-hari berikutnya ia membuat patung Durna dari batu. Meski hanya berdasarkan ingatan saat bertemu dengan sang guru yang hanya sekali itu, ia mampu membuat patung yang sangat mirip Durna.

Patung Durna itu kemudian diletakkan di suatu tempat di belakang istana yang lapang nan indah. Di depan patung Durna itulah, Ekalaya berlatih memanah dan olah keprajuritan setiap hari. Kala berlatih itu, ia selalu merasa ada getaran arahan dan didikan dari Durna.

Keberadaan patung Durna itu pun membuat Ekalaya gentur berlatih. Tidak mengenal lelah. Ia seperti tidak ingin mengecewakan sang guru. Ia senantiasa ingin menunjukkan prestasinya yang terus meningkat dari waktu ke waktu di depan sang guru.

Palguna-Palgunadi

Pada suatu ketika, Ekalaya berada di tengah hutan. Ia mendengar serigala yang terus-menerus mengaung menggiriskan. Meski tidak melihat langsung keberadaan serigala itu, Ekalaya bisa menyumpal mulut binatang buas tersebut dengan sejumlah anak panah yang melesat dari busurnya tanpa menyakiti.

Arjuna bersama Durna yang kebetulan saat itu juga berada di hutan tersebut, tertegun melihat kepiawaian seorang pemuda membungkam serigala tanpa mencederai. Serigala liar dan galak itu dibuatnya tidak berkutik tanpa menderita luka sedikit pun.

Mereka kemudian mendatangi pemuda yang tidak lain ialah Ekalaya. Melihat sang guru menghampiri, Ekalaya langsung menyembah. Belum sampai Durna berucap, Ekalaya memperkenalkan bahwa dirinya ialah murid dari Paranggelung, yang dulu ditolak. Durna meluruskan bahwa dirinya tidak menolak, tetapi karena patuh terhadap perintah Bhisma.

Durna bertanya dari mana Ekalaya mendapatkan kemahiran memanah yang luar biasa itu. Ekalaya mengungkapkan bahwa kepintarannya memanah berkah dan tuah dari patung Durna yang dibuatnya. Setiap berlatih ia berimajinasi dirinya dididik sang guru yang ia kagumi itu.

Durna terkekeh mendengarnya. Ia lalu menegaskan dirinya tidak keberatan Ekalaya berguru pada patung Durna. Ia memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada Ekalaya untuk terus berlatih dan mengembangkan bakatnya memanah.

Melihat kehebatan memanah Ekalaya yang tidak jauh berbeda dengan kemahiran Arjuna, Durna berinisiatif menjadikan keduanya saudara seperguruan. Karena Arjuna memiliki nama lain Palguna, Durna memberikan Ekalaya nama Palgunadi dan diposisikan sebagai adik.

Dalam perkembangannya, Ekalaya lebih unggul daripada Arjuna dalam kelihaian memanah. Padahal, Ekalaya tidak belajar langsung dari Durna, sedangkan Arjuna setiap hari ditangani Durna. Inilah yang membuat Arjuna iri. Ia meminta keadilan sang guru serta demi menjaga harkat dan martabat Durna sendiri.

Minat dan gairah

Pada suatu hari, Durna memanggil Palgunadi. Ia bertanya, sebagai murid apa yang bisa dipersembahkan kepada guru yang telah membuatnya pintar. Palgunadi menyatakan apa pun perintah atau yang diminta sang guru akan dilaksanakan atau diserahkan dengan ikhlas.

Durna berprinsip Arjuna yang sangat ia sayangi, harus lebih baik daripada Palgunadi. Maka, ia meminta jempol tangan kanan Palgunadi. Ini semata-mata agar kehebatan menjemparingnya berkurang.

Namun, ternyata Arjuna tidak berkenan dengan cara Durna yang ia nilai tidak kesatria. Durna akhirnya memberikan ganti jempol Palgunadi dengan pusaka berupa cincin bernama Sesotya manik ampal yang dikenakan di jari kelingkingnya.

Dari kisah singkat ini menggambarkan bahwa Ekalaya yang belajar hanya dari patung, tetapi justru lebih hebat daripada Arjuna yang dilatih langsung oleh Durna. Kenapa demikian? Ekalaya memiliki kemerdekaan berpikir dan berimajinasi serta kebebasan mengembangkan bakat dan kemampuannya (skill) sesuai dengan minat dan gairah (passion)nya. (M-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More