Minggu 09 Februari 2020, 00:15 WIB

Makan Bedulang, sama Rata, sama Kenyang

Thalatie K Yani | Weekend
Makan Bedulang, sama Rata, sama Kenyang

Ebet
Ilustrasi

BELITUNG tidak hanya memiliki pantai yang indah serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kepulauan ini juga memiliki berbagai jenis tradisi, salah satu yang wajib dicoba saat berkunjung ke sini ialah makan bedulang alias makan bersama.

Tradisi yang biasanya dilakukan saat pernikahan atau acara adat itu mengajak ­orang untuk makan bersama. ­Bedanya, makan bedulang bukan berbentuk prasmanan atau buffet. Di tradisi itu, makanan disediakan dalam nampan ­berbentuk bundar. Satu nampan diperuntukkan bagi empat orang. Tidak ada kursi, semua orang harus duduk bersila sebagai bentuk kesamarataan.

Namun, jangan berharap dapat langsung melihat makanan yang akan disantap. Pasalnya, nampan itu ditutup dengan tudung saji yang terbuat dari anyaman daun lais yang dicat dengan warna merah. Warna merah merupakan warna tradisi di Belitung, sementara daun lais dipilih karena ­tekstur dan bentuk daunnya yang panjang dan kuat sehingga sangat pas untuk dijadikan anyaman. Tak mengherankan jika daun lais ini selalu digunakan sebagai tudung saji secara turun-temurun.

Selain tudung saji yang menarik dengan warna merah, ada juga sebuah rajutan berwarna putih yang diletakkan di atas tudung saji tersebut. Tudung rajutan yang disebut lambak itu memiliki filosofi orang Belitung memuliakan makanan.

Mak Panggong

Bicara makan bedulang tentunya tidak lepas dari sosok petugas Mak Panggong. Mak Panggong alias koordinator tata cara makan bedulang ini yang mengatur makanan apa saja yang akan disajikan dan memasaknya. Dia yang biasanya mengoordinasi warga untuk memasak hidangan yang akan disajikan.

Dalam nampan itu, biasanya Mak Panggong menyediakan lima sampai enam piring, di luar satu jenis makanan berkuah. Setiap isi bedulang berbeda-beda, disesuaikan dengan kekayaan alam yang dimiliki daerah tersebut dan kemampuan dari tuan rumah yang menyelenggarakan makan bedulang.
Meski setiap hidangan berbeda, ada dua hidangan yang wajib disajikan, yakni sate ikan dan opor ayam.

“Dua makanan itu ciri khas karena dulu jenis masakan ini sangat jarang dimakan, kecuali saat tertentu, seperti Lebaran dan acara hajatan, karena jenis makanan ini mahal dan proses pembuatan yang lama,” ujar Adi Darmawan, Ketua ­Komunitas Air Selamun di Desa Peramun, Belitung.

Media Indonesia pun ber­kesempatan mencicipi makan bedulang beberapa waktu lalu. Saat itu isi dari bedulang yang disajikan ada ikan kuah kuning yang diletakkan di tengah. Di sekitarnya ada ayam goreng, cumi goreng tepung, rebusan daun singkong dan jantung pisang, oseng ikan pari, serta sambal. Menurut Adi, ikan pari yang dihidangkan baru pagi hari ditangkap dan langsung diolah Mak Panggong untuk disajikan.

Walaupun Mak Panggong yang memasak hidangan, semua hidangan ditata oleh tukang berage. Tukang berage bertugas menaruh makanan di atas dulang. Hidangan berkuah harus berada di tengah dulang.

Setelah tukang berage ­menyusun semua hidangan, ada satu tahapan lagi yang harus dilalui, yakni pemeriksaan oleh tukang perikse dulang. Tukang perikse dulang ­memastikan ­kelengkapan lauk-pauk.

Bila ketiga petugas memastikan kelengkapan di balik layar. Tiga petugas lainnya memastikan kesiapan perlengkapan di hadapan para tamu. Ketiganya ialah penata hidangan yang menyiapkan makanan dan peralatan makan, tukang ngisi aik yang bertugas mengisi air minum ke dalam gelas, dan ­terakhir tukang ngangkat ­dulang alias mengangkat dulang ke hadapan para tamu.

Tata cara

Selayaknya tradisi, menyantap makan bedulang pun memiliki tata cara yang wajib dipatuhi. Saat dulang diantar ke hadapan para tamu, minimal harus dilakukan tiga orang. Dulang harus diangkat dengan kedua tangan. Saat ditaruh, kaki kanan yang ditekuk ke atas lutut dan tidak boleh membelakangi tamu.

Setelah dulang diletakkan, para penyulu gawai menyalami para tamu dan mengatur posisi mereka. Di luar dulang ada ­piring dan peralatan makan yang disediakan serta nasi.

Nah, orang yang paling muda dari empat orang yang berbagi satu dulang, harus menyerahkan piring kepada tukang ngangkat dulang atau orang yang paling tua. Sebagai bentuk rasa hormat anak muda kepada orang yang lebih tua.

Setelah dibagikan piring, yang paling tua akan mengangkat tudung saji dan mengambil nasi serta lauk-pauk lebih dulu. Setelah itu, baru diikuti tiga orang lainnya yang berbagi dulang.

Setelah bersantap bersama, seluruh peserta makan bedulang wajib mencuci tangan di wadah yang disediakan. Lalu mengeringkan tangan dengan serbet berlipat empat dan harus dikembalikan seperti semula.

Tradisi makan bedulang ini sepintas mirip dengan tradisi makan bersama di Pulau ­Sumatra. Salah satunya makan bajamba di Minangkabau, Sumatra Barat. Setiap daerah membawa tampah yang berisikan aneka makanan khas ­daerahnya dan disantap bersama-sama. Satu tampah biasanya untuk 5-7 orang. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More