Sabtu 08 Februari 2020, 07:50 WIB

Pahlawan Virus Korona Berakhir Tragis

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Pahlawan Virus Korona Berakhir Tragis

AFP/SOCIAL MEDIA
Foto dokter Li Wenliang saat masih bekerja menggunakan masker dan saat menjalani perawatan di rumah sakit di Kota Wuhan, Tiongkok

 

KESEDIHAN dan kemarahan memenuhi jagat maya Tiongkok atas meninggalnya Li Wenliang, kemarin dini hari. Dokter di Rumah Sakit Pusat Wuhan itu dianggap sebagai pahlawan karena menjadi orang pertama yang membunyikan lonceng peringatan akan ancaman virus korona di Wuhan.

Peringatan itu disampaikan dokter Li pada 30 Desember 2019 di grup alumni sekolah kedokterannya di aplikasi pesan WeChat. Dia menyebut ada tujuh pasien dari pasar makanan laut lokal telah didiagnosis dengan penyakit mirip SARS dan dikarantina di Rumah Sakit Pusat Wuhan.

Segera setelah mengunggah pesan itu, Li malah dituduh menyebarkan desas-desus atau rumor oleh polisi Wuhan.

Tragisnya lagi, dokter berusia 34 tahun itu akhirnya meninggal karena virus korona. Li pertama kali kontak dengan virus itu setelah merawat pasien glaukoma yang pada saat itu tidak menyadari sudah terinfeksi.

"Dokter spesialis mata rumah sakit kami, Li Wenliang, sayangnya, terinfeksi virus korona selama pekerjaannya dalam memerangi epidemi virus korona," demikian pernyataan Rumah Sakit Pusat Wuhan, kemarin.

"Dia meninggal pada pukul 2.58 (waktu setempat) pada 7 Februari setelah upaya untuk menyadarkannya kembali tidak berhasil."

Kematiannya dengan cepat menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di WeChat dan Weibo, dua platform media sosial terbesar di 'Negeri Tirai Bambu'. Topik itu menarik jutaan posting dan pencarian.

Dalam menanggapi kematian sang dokter, badan antikorupsi Tiongkok, Komisi Pengawas Nasional, mengumumkan mereka mengirim tim ke Hubei untuk melakukan penyelidikan komprehensif.

Dalam adegan yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya, Weibo dan WeChat dipenuhi dengan kesedihan atas kematian Li.

Topik Li Wenliang dan Pemerintah Wuhan masih Berutang Maaf dr Li sedang tren di Weibo pada jam-jam pertama setelah berita kematiannya, menempati urutan teratas dalam daftar.

"Mereka yang mengatakan kebenaran ditangkap karena dituduh menyebarkan desas-desus dan mereka yang tidak mengatakan apa-apa selain kebohongan menjadi pemimpin," bunyi sebuah unggahan di Weibo.

"Saya belum pernah melihat timeline WeChat saya dipenuhi dengan begitu banyak kesedihan dan kemarahan," kata Xu Danei, pendiri perusahaan analisis media sosial, di WeChat.

Kematian tragis dokter Li sama persis dengan yang dialami Carlo Urbani sebelumnya dengan SARS. Pada 2003, dokter Italia yang bekerja pada WHO itu mengingatkan dan mengidentifikasi SARS. Ia juga memberikan alarm pada dunia internasional tentang bahaya SARS. Namun, Carlo juga meninggal karena SARS pada Maret 2003. (NYT/Aljazeera/Hym/X-10)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More