Jumat 07 Februari 2020, 22:45 WIB

Pilih Bioplastik tanpa Menunggu Aturan

Melalusa Susthira K | Weekend
Pilih Bioplastik tanpa Menunggu Aturan

MI/ Pius Erlangga
Plastik dari singkong.

JIKA banyak pengusaha tergagap dengan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di DKI Jakarta yang akan berlaku mulai 1 Juli 2020, tidak demikian dengan Itacho Sushi. Sudah sejak awal 2019, restoran kuliner Jepang ini menggunakan bioplastik yang berbahan singkong. Bukan hanya itu, sejak sekitar lima bulan lalu mereka hanya memberikan sedotan plastik jika pelanggan meminta.

"Komitmen kita sebenarnya pertama untuk untuk meminimalisasi global warming itu, jadi kita menerapkan untuk menggunakan kantong plastik ramah lingkungan," ungkap Esthie Agustina Engela, Marketing dan Promotion Itacho Sushi, saat dihubungi Media Indonesia, pada Kamis (16/1) malam.

Restoran Jepang itu tidak sendiri, sejumlah brand makanan dan pakaian juga telah menggunakan plastik organik atau bioplastik. Di antaranya ialah D'Crepes dan Eiger, yang juga menggunakan kantong plastik dari singkong.

Sementara itu, dari pusat perbelanjaan, ada Sarinah yang mengaku juga sudah mendorong peritel-peritelnya untuk menggunakan plastik singkong. Kemudian beberapa ajang maraton, salah satunya Jakarta Marathon 2019.

Langkah mereka, meski masih minoritas, menunjukkan jika penggunaan bioplastik sangat memungkinkan, baik secara teknis maupun ekonomi. Sebab itu, semestinya para pengusaha maupun peritel tidak perlu gusar menghadapi Peraturan Gubernur (pergub) Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan, dan Pasar Rakyat. Peraturan ini akan berlaku mulai 1 Juli 2020.

Pengelola yang abai atas aturan itu juga akan dikenakan sanksi dengan berbagai tingkatan. Dari sanksi teguran tertulis, sanksi membayar uang paksa, sanksi pembekuan izin, hingga sanksi pencabutan izin usaha.

Lebih lanjut, Esthie mengungkapkan meskipun harga kantong dari singkong jelas lebih mahal ketimbang kantong plastik biasa tetap tidak membuat usahanya rugi. Itu karena biaya bioplastik tidak dibebankan pada pembeli.

Esthie menyebut kantong dari singkong itu diperoleh restorannya dari salah satu vendor yang menawarkan kepada pihak manajemen restorannya. Lebih lanjut Esthie mengungkapkan karena teksturnya yang unik dan luwes, terkadang sejumlah konsumennya yang penasaran bertanya tentang kantong ramah lingkungan yang terbuat dari singkong itu.

"Jadi, kayak kita sekaligus ngepromote ke si customer juga kalau kita sedang menggalakkan yang namanya kantong plastik ramah lingkungan," terangnya.

Masih minim

Meski tidak tercantum dalam Pergub 142/2019, penerapan kantong belanja ramah lingkungan juga diharapkan di layanan antar makanan di jaringan transportasi daring. Pasalnya, sebagaimana diakui perusahaan aplikasi transportasi daring itu sendiri, layanan antar makanan tumbuh pesat.

Dalam acara jumpa media yang berlangsung Kamis (16/1) di Jakarta, Corporate Affairs Gojek, Nila Marita, menuturkan saat ini total order Gofood telah mencapai lebih dari 50 juta per bulannya. Dari situ dapat dibayangkan jumlah sampah plastik yang dihasilkan layanan ini.

VP Corporate Affairs Food Ecosystem Gojek, Rosel Lavina, kepada Media Indonesia, Jumat (17/1), mengatakan jika pihaknya juga berupaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai lewat peluncuran #GoGreener sejak Agustus 2019 lalu. Gerakan itu berwujud fitur opsi alat makan plastik sekali pakai berbayar di sejumlah merchant Gofood yang ikut berpartisipasi.

Selain fitur tersebut, Rosel menuturkan bahwa pihaknya menyediakan tas pengantaran khusus bagi sejumlah mitra pengemudi Gojek untuk mengantarkan makanan sehingga dapat mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Sayangnya, tas pengantaran itu belum diberikan pada seluruh mitra pengemudi Gojek.

Rosel menjelaskan agar tepat guna, tas pengantaran khusus itu diberikan kepada mitra pengemudi Gojek yang memiliki transaksi lebih banyak dalam mengambil orderan Gofood. Dengan jumlah yang baru berkisar 500 unit di Jakarta, Bandung, Bali, dan Semarang, dampaknya pada pengurangan sampah plastik memang masih minimal.

Terkait langkah lebih lanjut yang akan diambil oleh pihaknya ke depan, Rosel mengatakan Gofood tengah mempelajari dan mengkaji peraturan baru Pemprov DKI tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan tersebut.

"Kami pun masih merancang program-program edukasi #GoGreener di tahun ini. Kami berencana memulai edukasi #GoGreener kepada mitra driver dan mitra usaha Gofood dalam waktu dekat. Kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah untuk kelanjutan program tahun ini," ujarnya.

Masih mahal

Bagi beberapa pengusaha, salah satu alasan yang menjadi kendala penggunaan kantong plastik organik ialah harganya yang lebih tinggi ketimbang kantong plastik konvensional. Hal ini pun diakui salah satu vendor bioplastik, Evo & Co. Salah satu brand yang mereka naungi ialah Evoware.

Kepala Staf Marketing Evoware, Sizigia Pikhansa, menyebut bahan baku produksi produk ramah lingkungan memiliki harga lebih mahal karena berasal dari sumber terbarukan yang bernilai lebih tinggi jika dibandingkan dengan bahan baku plastik.

"Kemasan pengganti plastik lebih mahal karena bahan baku yang digunakan untuk kantong plastik adalah turunan minyak bumi yang value-nya lebih rendah dibanding turunan minyak bumi lainnya yang diperuntukkan untuk pelumas, aspal, bensin, dan lain-lain sehingga jika membandingkan harga bahan baku plastik dan bahan baku dari sumber terbarukan/plant-based, harga produk alternatif plastik akan lebih mahal," ujar Sizigia kepada Media Indonesia, Rabu (15/1).

Selain itu, Sizi menyebut faktor lain yang membuat harga jual produk ramah lingkungan masih cukup tinggi ialah keterbatasan mesin produksi. Ia pun mengungkapkan kendala lainnya ialah faktor riset yang memakan waktu, yang diperlukan untuk menciptakan inovasi-inovasi produk ramah lingkungan pengganti plastik lebih banyak dan beragam.

"Semakin banyak produksi, harga semakin murah, hukum ekonomi. Inikan juga belum banyak kompetitor, terus produksinya juga cuma sedikit, otomatis harga jualnya bakal lebih mahal di pasaran. Ibaratnya sekarang kayak menciptakan sesuatu yang baru, secara ekonomi dan material-material baru, belum banyak orang yang tau," tuturnya.

Sizigia menjelaskan, Evo & Co menjajakan beragam produk ramah lingkungan sebagai pengganti plastik sekali pakai, di antaranya sedotan kertas, sedotan dari beras, alat makan dari kayu, alat makan dari bambu, kantong dari singkong, hingga wadah makan dari tebu. Sizigia menjelaskan produk ramah lingkungan yang masih jarang tersebut didapatnya dari berbagai wilayah, misalnya, dari Indonesia ialah alat makan dari bambu, kantong dari singkong, dan sedotan kertas.

Untuk kantong dari singkong berukuran 28x50 cm yang dijual oleh Evoware dipatok dengan harga Rp1900 per lembarnya. Sementara itu, bila menengok dari situs belanja daring, kantong plastik dengan ukuran hampir serupa, yakni 28x48 cm, kira-kira hanya berkisar Rp190 per lembarnya.

Adapun yang diimpor dari Vietnam ialah sedotan beras dan sisanya diimpor dari Tiongkok. Produk-produk tersebut merupakan hasil kurasi disebabkan belum semua wilayah memproduksi produk tersebut. Misalnya, wadah makan dari tebu yang baru diproduksi di Tiongkok dan sedotan beras baru diproduksi di Vietnam. Sizigia menyebut ada 27 gerai usaha yang membeli beragam produk lewat mereka. (M-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More