Jumat 07 Februari 2020, 20:00 WIB

Perubahan Denyut Jantung dan Masalah Kesehatan

Bagus Pradana | Weekend
Perubahan Denyut Jantung dan Masalah Kesehatan

UNSPLASH.COM
detak jantung

SETIAP orang memiliki 'Resting Heart Rate' (denyut jantung saat beristirahat) yang cukup konsisten sepanjang waktu. Normalnya denyut jantung yang dimiliki seseorang saat beristirahat berada pada kisaran 40 denyut per menit, hingga maksimal 109 denyut per menit.

Tetapi ketika dilakukan pengukuran 'Resting Heart Rate' (RHR) sebagian orang memiliki capaian yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya yang paling signifikan adalah faktor usia, jenis kelamin, dan berat badan. Faktor lain termasuk kebiasaan merokok dan tingkat aktivitas fisik juga mempengaruhi capaian RHR seseorang. 

Seperti dilansir oleh dailymail.co.uk, Kamis (6/2), sebuah penelitian dilakukan oleh para peneliti di Scripps Research Translational Institute di La Jolla, California, baru-baru ini, untuk menunjukan sejauh mana faktor-faktor tersebut mampu menjelaskan perbedaan RHR yang dialami oleh setiap individu.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 92.000 orang dari 50 negara bagian AS yang diukur denyut RHR hariannya. Usia rata-rata mereka adalah 46 tahun. 

Secara keseluruhan penelitian ini berhasil menghimpun data detak jantung harian setara dengan 33 juta hari dari 92.000 orang responden penelitian tadi.

Para peneliti menggunakan data tersebut untuk menguji variasi RHR yang dimiliki seorang individu dari waktu ke waktu, serta membandingnya dengan individu lainnya.

Dalam studi ini didapatkan denyut jantung normal saat orang sedang beristirahat (RHR) berada pada kisaran 40 dan 109 bmp (denyut per menit), dengan rata-rata 65,5 bpm. 

Pria memiliki RHR antara 50 dan 80 bmp, sementara wanita berkisar antara 53 hingga 82 bpm.

Biasanya, tingkat RHR yang lebih dari 80-100 merupakan penanda bahwa kesehatan tubuh sedang bermasalah, karena RHR tinggi menunjukkan seseorang secara fisik sedang tidak sehat atau sedang mengalami stres. 

Giorgio Quer salah satu peneliti dari Scripps Research Translational Institute menyatakan "Perlu dipertimbangkan bahwa peningkatan RHR yang terjadi dalam tubuh dapat berfungsi sebagai tanda peringatan awal atas perubahan fisiologis tubuh."

Secara keseluruhan, usia, jenis kelamin, dan durasi tidur harian turut menyumbang kurang dari 10 persen capaian RHR dari para peserta penelitian ini. 

"Kami menganalisis sejauh mana perubahan detak jantung ketika orang sedang beristirahat (RHR) selama periode waktu tertentu berkorelasi dengan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, durasi tidur rata-rata dan indeks massa tubuh," ungkap Giorgio.

Dengan melacak perbandingan detak jantung saat istirahat (RHR) ini, kata dia, memungkinkan untuk mengidentifikasi awal perubahan-perubahan yang tak terduga dalam tubuh kita.

Data RHR yang berhasil dikumpulkan melalui penelitian ini kemudian diinterpretasikan dan diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE yang terbit bulan ini. (M-4)

Baca Juga

Unsplash/ Markus Spiske

Musisi Dunia Serukan Peningkatan Tarif Royalti di Spotify

👤Fathurrozak 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 17:10 WIB
Musisi menuntut pembayaran sesuai jumlah streaming, bukan proporsi prorata streaming...
123RF

Ternyata Ada Hubungan antara Fobia Matematika dan Kepercayaan Diri

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 15:35 WIB
Selalu cemas, jantung berdegup, atau bahkan keringat dingin saat belajar...
Dok. Instagram @ideosource

Losmen Bu Broto Kembali ke Layar Lebar

👤Fathurrozak 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 15:15 WIB
Maudy Koesnaedi akan memerankan sosok Bu Broto versi layar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya