Jumat 07 Februari 2020, 19:00 WIB

Cairnya Lapisan Es di Kutub Utara Berpotensi Merusak Atmosfer

Bagus Pradana | Weekend
Cairnya Lapisan Es di Kutub Utara Berpotensi Merusak Atmosfer

AFP/Joe Raedle/Getty Images
Salju yang mencair di pegunungan Alaska, pada 17 September 2019.

MENCAIRNYA lapisan es beku (permafrost) yang terjadi secara besar-besaran di kawasan Kutub Utara, diperkirakanberdampak pada meningkatnya jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer hingga 50%.

Seperti dilansir dailymail.co.uk, para ahli mengkhawatirkan runtuhnya lapisan es (permafrost) yang terjadi di kawasan Kutub Utara berpotensi melepaskan gas rumah kaca yang telah terperangkap selama ribuan tahun di dalamnya.

Permafrost di Kutub Utara mengandung batu, tanah, pasir, dan kantong-kantong es yang masih murni. Kandungan karbonnya juga sangat kaya karena terdiri dari sisa-sisa makhluk hidup seperti tanaman, hewan, dan mikroba yang pernah hidup di Kutub Utara. Kandungan ini tidak terurai selama ribuan tahun karena membeku dalam jangka waktu relatif lama. 

Lapisan Permafrost di Kutub Utara yang diprediksi mencair secara ekstrem dalam beberapa dekade ke depan ini, meliputi area yang hampir sebesar gabungan Kanada dan Amerika Serikat. Area ini diperkirakan menampung sekitar 1.500 miliar ton karbon, atau setara dengan 2 kali lipat karbon dari yang sekarang ada di atmosfer bumi. 

"Pencairan ekstrem terdekat diperkirakan menyasar 20 % dari lahan beku di Kutub Utara, hal itu diproyeksi akan meningkatkan pelepasan karbon sekitar 50% di atmosfer," terang Dr. Merritt Turetsky selaku ahli ekologi dari University of Colorado.

Sebagian wilayah di Kutub Utara, tepatnya di sebagian kawasan sub Artik dan Rusia bagian utara, dahulu merupakan lahan dengan topografi curam, kini sudah mulai melunak karena banyak tebing es yang mulai mencair. Pencairan yang tak terduga ini seringkali bahkan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat yang mendiami lokasi tersebut.

Hingga saat ini masih belum bisa dipastikan jumlah metana dan karbon dioksida yang lepas akibat runtuhnya permafrost di kawasan ini. 

"Kami memperkirakan bahwa pencairan lapisan es mendadak di kawasan Kutub Utara ini akan melepaskan sebanyak 60 hingga 100 miliar ton karbon ke atmosfer hingga tahun 2300," ujar Dr. Turetsky. 

Namun sangat disayangkan model perhitungan iklim saat ini tidak memperhitungkan kemungkinan keruntuhan permafrost yang terjadi dan jumlah gas yang mungkin dilepaskan akibat keruntuhan tersebut. 

"Pencairan permafrost ini terjadi tiba-tiba dan sangat cepat. Hutan dapat menjadi danau, tanah longsor dapat terjadi tanpa peringatan, dan lubang metana yang tidak terlihat sewaktu-waktu bisa melepaskan berton-ton gas metan ke atmosfer," pungkas Dr Turetsky.

Temuan lengkap dari penelitian ini juga dapat dibaca dalam jurnal Nature Geoscience. (M-4)

Baca Juga

ANTARA/Feny Selly

Masker Masih akan Jadi Tren pada 2021

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 25 November 2020, 10:47 WIB
Masker bisa menjadi peluang bagi desainer maupun pegiat mode jika mampu berinovasi dan menuangkan kreativitas di produk...
google.com

Google Doodle Kenang Tino Sidin

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 25 November 2020, 10:19 WIB
Tino Sidin mendorong anak-anak untuk tidak takut membuat kesalahan saat menggambar dengan slogannya yang khas, 'Ya,...
AFP/GEORG HOTCHMUTH/APA

Selera Musik Ternyata Tidak Bebas dari Prasangka

👤MI Weekend 🕔Rabu 25 November 2020, 08:35 WIB
Musik sejatinya bisa menjadi salah satu cara untuk meruntuhkan stereotipe...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya