Jumat 07 Februari 2020, 09:39 WIB

Mengonsumsi Sesuaikan Kebutuhan Keseharian

(Dro/S-3) | Weekend
Mengonsumsi Sesuaikan Kebutuhan Keseharian

MI/RAMDANI
Barista mengikuti lomba meracik kopi pada Festival Kopi dalam rangkaian Ulang Tahun Ke-50 Media Indonesia di Kompleks Media Group.

MINUM kopi bukan hanya sebagai kebutuhan, melainkan juga sudah jadi gaya hidup kekinian masyarakat Indonesia, khususnya di kota besar. Menurut GM Sabak Tofico Richard D Picauly, mengonsumsi kopi di pagi, siang, dan malam hari bukan jadi kendala. Hanya, penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan keseharian.

Misalnya, pagi hari, ia menyarankan kopi robusta yang memiliki tingkat kafein lebih tinggi ketimbang arabika sebab di pagi hari kita butuh asupan kafein untuk memberikan energi ekstra memulai bekerja.

"Pagi bisa konsumsi robusta seminatural ataupun arabika natural yang dicampur. Ini juga bisa buat siang. Bisa juga dicampur robusta-arabika dengan proporsi 70:30," kata Richard pada acara Festival Kopi dalam rangkaian ulang tahun ke-50 Media Indonesia, di Jakarta, Kamis (30/1).

Untuk malam hari, akan lebih baik pada single origin arabika, baik itu natural, semi washed, atau honey agar lebih mild. Teknik pembuatannya dapat menyesuaikan selera, baik V60, tubruk, ataupun teknik lainnya.

Bagi Richard, salah satu kunci menyeduh kopi tak perlu menggunakan air yang baru mendidih karena bisa membuat kopi langsung terbakar. Cukup titik optimalnya pada suhu 91 derajat dan ini dapat diperolah dari air dispenser pada pengambilan pertama.

Sementara itu, Muhamad Sefta Y Randu, pemilik dan barista dari Paparan's Coffee, mengatakan saat ini konsumen umumnya banyak yang mencari kopi dengan teknik penyeduhan V60 manual brew. "Metode ini dari Jepang, dengan bentuk kerucut (dengan filter kopi). Nama V60 itu karena bulat dan pour over-nya hingga 360 derajat," terang Randu.

Sebagai barista, ia menekankan pentingnya rasa kopi yang seimbang pada komposisi. "Misalnya, kopi yang saya gunakan dari daerah Kerinci, Jambi, yang rasa manisnya seperti brown sugar, asamnya dapat, juga terasa honey dan rasa fruity," tutur dia.

Randu menceritakan awalnya dia mengenal kopi dari ayahnya yang senang ngopi. Lantaran ia tinggal di Lampung, rutinitas minum kopi amat kuat di keluarga dan masyarakat sekitar.

Kini, sudah tiga tahun ia menjalankan usaha bisnis kopi. Ia menyarankan bagi anak muda yang ingin membuat usaha kedai kopi (coffee shop) atau angkringan kopi, sebaiknya pastikan niatnya lebih dahulu baru mengatur anggaran dan menentukan lokasinya. "Untuk skill dapat menyusul seiring berjalannya coffee shop," tutur dia. (Dro/S-3)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More