Kamis 06 Februari 2020, 18:20 WIB

Terapi Sel untuk Kanker Tidak Perlu Lagi Ke Luar Negeri

Eni Kartinah | Humaniora
Terapi Sel untuk Kanker Tidak Perlu Lagi Ke Luar Negeri

Istimewa
Dr. dr. Karina, SpBP-RE, doktor bidang biomedik lulusan Universitas Indonesia (UI).

 

TIDAK dapat dipungkiri bahwa banyak penderita kanker dari Indonesia yang mencari alternatif terapi ke luar negeri. Tiongkok  merupakan salah satu negara asing yang sering menjadi destinasi medis masyarakat Indonesia, terutama untuk pengobatan kanker dengan menggunakan terapi sel.

Namun kini Tiongkok  tengah menghadapi wabah virus korona. Wabah tersebut tidak hanya menutup akses Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok tetapi juga kota-kota lain di Tiongkok.

Otoritas setempat telah membatasi bahkan melarang transportasi antar negara dengan tujuan meminimalisir penularan coronavirus. Lalu bagaimana pasien-pasien kanker dari Indonesia melanjutkan terapinya jika Tiongkok tertutup untuk penerbangan asing.

Dr. dr. Karina, SpBP-RE, doktor bidang biomedik lulusan Universitas Indonesia (UI) sekaligus Ketua dan Pendiri Yayasan Hayandra Peduli yang menaungi Klinik Hayandra & HayandraLab memberikan solusi. Pasien kanker yang selama ini berobat ke Tiongkok dapat memanfaatkan pengobatan atau terapi serupa yang kini sudah ada di Indonesia.

“Jadi tidak perlu khawatir karena saat ini terapi sel sebagai terapi pendukung pengobatan kanker, sudah ada di Indonesia,” kata Dr Karina pada acara Ngopi Bareng Dokter Karina, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (6/2).

Teknologi pendukung terapi kanker yang dimaksud adalah teknologi Immune Cell Therapy (ICT) yang kini bisa diperoleh di Klinik Hayandra dan HayandraLab. Teknologi ini dibawa langsung oleh Dr Karina dari negeri sakura Jepang.

“Berawal dari pengobatan kanker kolon ibu saya di Jepang pada tahun 2016 silam, tim kami berhasil menarik teknologi terapi sel yaitu Immune Cell Therapy atau ICT dari Jepang ke Indonesia," ungkap Dr. Karina.

Teknologi ICT merupakan hasil pembiakan dari darah pasien sendiri yang terdiri dari perpaduan sel T, sel NK dan sel NKT, yang merupakan sel imun alamiah tubuh pasien.

"Pada pasien kanker, terutama pasien yang pernah menjalani kemoterapi, sel imun ini akan terhantam jumlahnya. Padahal jumlah dan keaktifan sel-sel ini merupakan kunci tubuh kita untuk dapat memusnahkan sel kanker yang tersisa dari operasi, radiasi ataupun kemoterapi," jelas Dr. Karina.

Karena berasal dari darah pasien sendiri (autologus), terapi ICT aman karena tidak ada risiko penolakan dari tubuh.

Dr. Karina, mengatakan "Jujur saya pribadi sebelumnya tidak percaya bahwa terapi ini akan menyembuhkan ibu saya, karena beliau nyaris tidak mendapatkan efek samping apapun.

"Apalagi beliau (ibunya) juga hanya menjalani ICT pascaoperasi, tanpa kemoterapi sedikitpun. Sebagai putri beliau yang juga seorang dokter, saya sangat kuatir saat itu,” tutur Karina. 

Berkaca dari pengalaman saat menemani ibunda berobat ke Jepang, Dr. Karina merasa bahwa masih banyak hal yang dapat diperbaiki saat menarik teknologi ini ke Indonesia.

Biayanya sangat mahal, namun modalitas terapi yang lain seperti perbaikan pola makan, infus vitamin C, suplementasi vitamin D3 dan probiotik, serta pendampingan psikologi, sama sekali tidak diberikan di Jepang.

“Di Indonesia, semua ini kami berikan dalam upaya untuk membuat terapi ini lebih efektif. Beberapa penyempurnaan tehnik melalui tahapan validasi yang panjang juga telah kami lakukan, sehingga terapi ini lebih cocok bagi sel orang Indonesia yang ternyata berbeda dengan Jepang," tutup Dr. Karina. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More