Kamis 06 Februari 2020, 18:33 WIB

Sri Mulyani Kenang JB Sumarlin Sebagai Mentor

Andhika prasetyo | Humaniora
Sri Mulyani Kenang JB Sumarlin Sebagai Mentor

Antara
Menkeu Sri Mulyani

 

MENTERI Keuangan Sri Mulyani menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Johannes Babtista (JB) Sumarlin, mantan menteri keuangan pada era pemerintahan Presiden Soeharto.

Ani, begitu sapaan akrabnya, sontak mengingat masa-masa kuliah ketika ia diajar Sumarlin di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Menurutnya, Sumarlin merupakan sosok yang sangat berkomitmen dengan pekerjaannya.

"Ada memori, beliau datang mengajar mengggunakan jas, kemudian jasnya dilepas. Waktu itu dia sudah menjadi menteri. Komitmennya luar biasa kalau mengajar," ujar Sri Mulyani, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/2).

Tak hanya sebagai pengajar, Sri Mulyani juga mengenang JB Sumarlin sebagai salah satu ekonom andal dengan berbagai gebrakan seperti Sumarlin I dan Sumarlin II hingga paket kebijakan 27 Oktober 1988 atau Pakto 88.

"Itu semua dilakukan waktu beliau menjadi menteri terutama menteri keuangan," kata Sri Mulyani.

Gebrakan Sumarlin I adalah pengetatan moneter dengan cara menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang dilakukan pada 1987. Kala itu, kebijakan tersebut berhasil mendorong angka pertumbuhan Indonesia ke level 5,7% di 1988.

Adapun, Gebrakan Sumarlin II kembali dilakukan pada Maret 1991. Langkah tersebut mampu menahan laju inflasi secara bertahap menjadi 4,9% pada 1992.

Ada pula Paket kebijakan 27 Oktober 1988 atau Pakto 88 yang merupakan kebijakan deregulasi perbankan di 1988.

Menurut Ani, kebijakan-kebijakan yang diterapkan JB Sumarlin masih bisa dipelajari hingga saat ini. Terlebih, dalam merespon perekonomian yang terkadang menghadapi dinamika seperti peningkatan harga minyak, perang dagang, ketegangan geopolitik dan lain sebagainya.

"Jadi poinnya sebetulnya kalau kita lihat, masa lalu masih relevan dengan kondisi sekarang. Ada harga komoditas yang bergejolak yang kemudian meninggalkan banyak sekali dampak ke dalam ekonomi Indonesia yang harus direspon dengan kebijakan yangg kadang juga tidak populer, seperti kenaikan suku bunga, pengendalian inflasi. Itu semua memberikan pelajaran penting bagi kita semua," tandas Ani. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More