Kamis 06 Februari 2020, 17:51 WIB

Rute Penerbangan Tiongkok Ditutup, Batik Air Alami Kerugian

Hilda Julaika | Ekonomi
Rute Penerbangan Tiongkok Ditutup, Batik Air Alami Kerugian

MI/Rommy Pujianto
Pesawat dari maskapai Batik Air melintas di langit Ibu Kota Jakarta.

 

DIREKTUR Utama (Dirut) Batik Air Achmad Lutfie mengakui maskapainya mengalami kerugian lantaran penerbangan dari dan menuju Tiongkok ditutup untuk sementara waktu. Selama ini, Batik Air melayani sebanyak lima rute langsung ke Tiongkok. Penyetopan rute ini membuat Batik Air kehilangan penumpangnya.

Namun, menurut Achmad, pihaknya belum bisa menentukan besaran nilai kerugian tersebut. Karena keputusan penutupan rute ini dinilainya mendadak sehingga belum ada perhitungan kerugian yang dilakukan.

"Dampak penghentian penerbangan ke Tiongkok ya rugi. Agak lumayan kita punya kota-kota yang kita terbangin. Ada 5 kota ya itu harus setop," ujar Achmad di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Kamis (6/2).

Lebih lanjut Achmad menguraikan terdapat lima buah pesawat yang digunakan untuk penerbangan rute Tiongkok. Dengan frekuensi penerbangan 7 hari per pekan dan beberapa kali per pekan.

Baca jugaMenhub: Pilihan Batik Air Misi ke Wuhan Bukan Asal Tunjuk

Penutupan rute ke dan dari Tiongkok membuat lima pesawat tidak digunakan dan perlu dilakukan pemeliharaan (maintenance) di hanggar. Dampak lanjutannya dalam melakukan pemeliharaan armada pesawat ini membutuhkan pembiayaan khusus.

"Kelima pesawat itu di-maintenance di hanggar bukan dikandangkan saja. Dan memang membutuhkan pembiayaan perawatan," ungkapnya.

Sementara itu, pihak Batik Air telah melakukan pengembalian (refund) tiket kepada penumpang yang hendak melakukan perjalanan dari dan menuju Tiongkok. Pengembalian tiket ini dilakukan secara penuh (full refund).

Batik Air pun berencana akan melakukan penambahan frekuensi rute eksisting domestik. Penambahan frekuensi ini sebagai bentuk upaya penanggulangan dampak dari penghentian rute ke Tiongkok. Adapun untuk penambahan rute tersebut ke rute-rute yang menguntungkan. Seperti, Pulau Jawa, Pulau Sumatra, dan Pulau Kalimantan.

"Paling kita tambah frekuensi saja. Nambah frekuensi domestik ke rute-rute yang menguntungkan seperti, Jawa, Sumatra, dan Kalimantan," ujarnya. (Hld/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More