Kamis 06 Februari 2020, 17:22 WIB

Pohon yang Ditebang Disebut Tak Bernilai, Ini Harga Pasarannya

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Pohon yang Ditebang Disebut Tak Bernilai, Ini Harga Pasarannya

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI
Suasana proyek Revitalisasi Monas, Jakarta Pusat yang tengah dihentikan sementara.

 

SISI selatan Monumen Nasional (Monas) terlihat gundul. Kawasan yang menjaid pintu masuk utama ke objek wisata ikon ibu kota yang dulu rindang dan sejuk itu kini gersang.

Sebanyak 191 pohon besar ditebang dan 85 pohon berukuran kecil dipindahkan dari lokasi itu demi proyek revitalisasi Monumen Nasional.

Berbagai jenis pohon besar ditebang dari mulai trembesi, mahoni, hingga tabebuya. Dua jenis pohon yang disebutkan di awal memiliki nilai yang sangat tinggi di pasaran.

Semisal harga kayu mahoni dijual Rp2,5 juta permeter kubik untuk kaso. Sementara untuk kayu batangan dijual Rp400ribu permeter tergantung dari diameternya.

Kayu berjenis trembesi dijual lebih mahal lagi dengan kisaran Rp1,5 juta hingga Rp1,9 juta dengan diameter 40cm. Harga termahal dijual Rp3,8 juta dengan diameter 70cm.

Baca juga: Anies Tegaskan Revitalisasi Monas Tetap Jalan

Problemnya hingga saat ini tidak jelas ke mana sisa-sisa kayu-kayu berharga hasil tebangan pohon itu dilarikan.

Kasi Informasi UPT Monas Irfal Guci sempat menyebut sisa pohon yang ditebang dibawa ke gudang Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Timur. Namun, hal itu ditepis oleh Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Suzi Marsitawati.

Suzi berkelit, pihaknya tidak bertanggung jawab perihal penebangan pohon. Ia hanya merekomendasikan terkait izin penebangan hingga kewajiban penggantinya.

"Tanggung jawab itu bukan di dinas kami. Tapi ke pemegang proyek yakni Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan (Citata). Kami hanya merekomendasikan berapa penggantiannya tiga kali lipat yakni 573 dari 191 pohon yang ditebang," kata Suzi di Balai Kota, Kamis (6/2).

Suzi juga menyebut tidak merekomendasikan terkait jenis pengganti pohon yang akan ditanam di Monas. Menurutnya, jenis pohon yang menjadi tanaman pengganti mengikuti desain sayembara yang dibuat oleh konsultan independen.

Di kesempatan terpisah, Kepala Dinas Citata DKI Jakarta Heru Hermawanto justru melempar kembali tanggung jawab terkait pohon-pohon yang ditebang itu ke Dinas Pertamanan dan Hutan Kota.

Menurutnya, pengawasan penebangan dilakukan oleh dinas itu.

"Itu harusnya di Dinas Pertamanan yang mengawasi. Kalau saya soal proyeknya bukan soal penebangan pohonnya," ujarnya.

Di sisi lain, Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah justru meminta agar penebangan pohon ini tidak lagi diributkan. Sebab, pihaknya sudah menjamin akan menanam kembali pohon yang ditebang itu dengan jumlah tiga kali lipat.

Ia bahkan menyatakan bahwa pohon-pohon yang ditebang tersebut tidak bernilai. "Pohon-pohon itu tidak ada nilainya kok," tukasnya.(OL-4)

Baca Juga

Ilustrasi

Satu Spesialis Curanmor di Jakarta Timur, Tewas Ditembak

👤Rahmatul Fajri 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 16:16 WIB
Polisi tangkap empat orang yang merupakan kelompok spesialis pencurian kendaraan bermotor yang beroperasi wilayah Jakarta...
MI/Rudi Kurniawansyah

Hari Sumpah Pemuda, Kapolri Ajak Bersatu Melawan Covid-19

👤Siti Yona Hukmana 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 15:35 WIB
"Mari bergandeng tangan bersatu dan bangkit bersama membantu Indonesia keluar dari lubang jarum pandemi covid-19," kata Kapolri...
MI/Ramdani

Libur Panjang, Anies Wanti-wanti Munculnya Klaster Keluarga

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 14:42 WIB
Di masa liburan interaksi masyarakat biasanya lebih intensif. Saling mengunjungi atau berpergian saat liburan menjadi hal yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya