Kamis 06 Februari 2020, 07:40 WIB

Ekonomi RI Memiliki Resiliensi yang Tinggi

Andhika Prasetyo | Ekonomi
 

PRESIDEN Joko Widodo menyatakan tetap bersyukur dengan angka pertumbuhan ekonomi yang tercatat 5,02% sepanjang 2019 meskipun melambat jika dibandingkan dengan 2018 yang mencapai 5,17%.

Di tengah perlambatan ekonomi global akibat perang dagang dan ketegangan geopolitik, menurut Jokowi, hasil itu tidaklah buruk.

"Mari kita bandingkan dengan negara-negara lain, terutama di G-20. Pertumbuhan kita masih nomor dua terbesar. Patut kita syukuri pertumbuhan ekonomi kita di atas 5%," ujar Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Ia pun mengapresiasi berbagai kebijakan yang dilakukan seluruh instansi terkait ikut menjaga perekonomian Indonesia tetap stabil dan tidak terperosok.

"Komunikasi antara otoritas moneter, yakni Bank Indonesia dan pemerintah, sangat baik. Kebijakan moneter BI sangat pruden, kebijakan perbankan OJK sangat pruden, itu sangat baik. Kebijakan fiskal kita juga sangat pruden. Hati-hati, itu juga sangat penting," tuturnya.

Presiden menegaskan pihak-pihak internasional tetap optimistis pada situasi ekonomi Indonesia walaupun kondisi dunia saat ini masih belum menentu. Seperti Japan Credit Rating, baru-baru ini mereka menaikkan sovereign credit rating Indonesia ke level BBB+ dengan outlook stable. "Artinya apa, kepercayaan dari internasional kepada kita lebih baik. Optimisme ini yang harus kita sampaikan."

Ekonom senior Mari Elka Pangestu mengatakan, meski mengalami perlambatan, pertumbuhan ekonomi 2019 yang masih terjaga di level 5% dinilai sebagai capaian yang positif.

Mari, yang belum lama ini ditunjuk menjadi Direktur Pelaksana Kebijakan Pembangunan dan Bank Dunia, itu mengatakan di tengah faktor eksternal yang tidak pasti, ekonomi Indonesia memiliki resiliensi yang tinggi.

"Kita harus bersyukur. Dalam ketidakpastian ini, kita bisa stabil 5% jika dibandingkan dengan negara lain. Kita lebih baik," ujarnya di sela-sela Mandiri Investment Forum 2020, kemarin.

Sumber: countryeconomy.com/BPS/NRC

 

Di acara yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan tantangan ekonomi pada 2020 akan berlanjut. Hal ini seiring dengan pelemahan ekonomi global yang terjadi pada 2019 dan menekan beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dia menyebutkan bahwa pelemahan ekonomi global disebabkan kurangnya amunisi dalam menggenjot sektor ekonomi. Hal ini juga didukung dengan tekanan politik yang juga membuat perkembangan ekonomi global menjadi ikut tertekan.

"Banyak negara kehabisan amunisi dan kekurangan strategi menghadapi pelemahan ekonomi global ini berkontribusi pada volatility pasar global," ungkapnya. (Pra/Des/Mir/X-10)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More