Kamis 06 Februari 2020, 06:20 WIB

Ekspor RI Terdampak Korona

Hilda Zulaika | Ekonomi
Ekspor RI Terdampak Korona

MI/Susanto
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

 

PEMERINTAH mengupayakan penjajakan ke sejumlah negara baru sebagai pasar non-konvensional untuk menyerap produk Indonesia yang kini terhalang masuk ke Tiongkok.

Negara-negara yang terbuka peluangnya sebagai tujuan ekspor produk Indonesia itu antara lain Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, dan Amerika Latin.

"Kita asumsikan ekspor Indonesia ke Tiongkok turun karena ekonomi mereka dipenuhi ketidakpastian akibat wabah korona. Beberapa negara di Afrika, Amerika Selatan, dan Amerika Latin masih sangat terbuka menerima produk-produk Indonesia," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita kepada awak media di kantornya, kemarin.

Selama ini, Indonesia mengekspor gas alam cair senilai US$2,4 juta, kelapa sawit US$2,3 juta, batu bara US$2,1 juta, nikel US$959 ribu, dan soda US$1,8 juta ke Tiongkok.

Sebaliknya dari Tiongkok, berdasarkan data BPS, tahun lalu Indonesia mengimpor bawang putih senilai US$530 juta dan jeruk senilai US$107,6 juta.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatra Selatan sudah merasakan dampak wabah virus korona yang mengakibatkan anjloknya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sekitar 10%.

Menurut Ketua Gapki Sumsel, Alex Sugiarto, kini harga CPO Rp8.400 per kilogram. "Itu turun 10%. Permintaan dari Tiongkok turun karena banyak industri di sana berhenti berproduksi."

Permintaan CPO di dalam negeri sebanyak 3 juta ton untuk keperluan produksi bahan bakar B-30 menjadi alternatif setelah mandeknya pasokan komoditas tersebut ke pasar Tiongkok.

Dampak wabah virus korona juga dirasakan Roy, pedagang di Pasar Pembangunan Pangkalpinang. "Harga bawang putih naik dari Rp32 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram. Impor bawang katanya disetop sementara karena wabah korona."

 

Menekan

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas di Istana Bogor, Selasa (4/2), memerintahkan para menteri mengalkulasi dampak virus korona terhadap kinerja ekonomi Indonesia.

"Tiongkok merupakan tujuan ekspor utama Indonesia dengan pangsa pasar 16,6% sekaligus negara asal impor terbesar bagi kita," ujar Jokowi.

Bahkan di Istana Negara, kemarin, Jokowi menyebutkan virus korona akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik maupun global.

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Presiden Joko Widodo (tengah) memimpin rapat terbatas (ratas) di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020).

 

"Banyak negara terimbas termasuk Indonesia. Negara mana pun sulit untuk menghitungnya," ujar Jokowi.

Dalam penilaian Gubernur BI Perry Warjiyo, penyebaran virus korona di berbagai negara telah berdampak terhadap pasar keuangan Indonesia. Kekhawatir-an pasar membuat investor di sejumlah negara menarik modal mereka dari Indonesia.

"Bank sentral akan terus menjaga fundamen dan stabilitas ekonomi dalam negeri dengan membeli surat utang pemerintah sebesar Rp25 triliun. Langkah ini dapat mengantisipasi dampak virus korona dalam jangka pendek terhadap perekonomian Indonesia," ungkap Perry dalam Mandiri Investment Forum 2020 di Hotel Fairmont, Jakarta, kemarin.

Di sisi lain, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan wabah virus korona akan menekan perekonomian Indonesia sekitar 0,1%-0,29% karena terpengaruh anjloknya perekonomian Tiongkok.

Hingga kemarin, jumlah korban meninggal akibat virus korona melonjak menjadi hampir 500 orang. Seperti dikutip dari Channel News Asia, jumlah korban meninggal yang dikonfirmasi di Tiongkok menjadi 490 orang dan seorang di Hong Kong.

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok melaporkan jumlah orang terinfeksi mencapai 24.324 dengan 3.887 kasus baru. (Pra/Des/Nur/DW/RF/X-3)         

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More