Kamis 06 Februari 2020, 06:00 WIB

Dunia Bisnis Harus Bangkit dan Fokus ke Tujuan Lebih Besar

Dandy Pandi Country Head, Global Trade and Receivables Finances, PT Bank HSBC Indonesia | Opini
Dunia Bisnis Harus Bangkit dan Fokus ke Tujuan Lebih Besar

linkedin.com

PERNYATAAN ulang yang disampaikan para pemimpin bisnis dunia pada Business Roundtable baru-baru ini mengenai tujuan umum organisasi telah memicu perdebatan sengit. Dengan meniadakan doktrin yang menempatkan kepentingan pemegang saham sebagai prioritas utama dan memberi lebih banyak perhatian pada tanggung jawab yang lebih luas terhadap pelanggan, karyawan, pemasok, dan komunitas, lembaga yang mewakili berbagai kepala eksekutif perusahaan-perusahaan terbesar di Amerika ini telah menciptakan opini yang terpolarisasi. Namun, di luar semua perdebatan itu, pandangan mengenai dasar bisnis yang lebih luas masih terlihat kurang hingga saat ini.

Survei Navigator HSBC terhadap 9.000 perusahaan menunjukkan bahwa komunitas bisnis global siap menghadapi tantangan sosial. Sebanyak 63% responden bisnis mengakui peran mereka dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sebuah cetak biru masa depan berkelanjutan yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Temuan ini penting dan bukan sesuatu yang tak terduga. Signifikan karena lebih dari satu dekade tidak ada kemajuan yang tampak untuk mencapai target ini dan waktu yang tepat untuk bertindak ialah saat ini. Setiap harapan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut mensyaratkan dunia bisnis menerapkan prinsip kemitraan antara pemerintah dan swasta yang tercantum di dalam SDGs.

Ini bukan sesuatu yang tak terduga karena bisnis selalu menciptakan nilai, tetapi nilai itu sendiri terus berkembang. Dulu nilai diartikan secara sempit sebagai keuntungan semata. Pada beberapa dekade belakangan ini, arti nilai diperluas menjadi keseluruhan hasil bisnis yang diperoleh pemegang saham.

Saat ini muncul sebuah pemahaman bahwa izin operasi perusahaan bergantung pada kontrak implisit dengan masyarakat. Semakin ke sini, nilai semakin dipandang secara lebih holistik yang menggabungkan dampak finansial, sosial, dan lingkungan dari sebuah bisnis, dari sumber hingga produksi dan pembuangan, juga mengakui bahwa rantai pasokan bertanggung jawab atas 90% dampak lingkungan perusahaan.

Keinginan untuk berbuat lebih banyak bagi keberlanjutan ialah hal umum yang sering saya bicarakan dengan nasabah. Sayangnya, mereka sering menemui kendala dalam mempraktikannya.

Jelas, masih ada jalan panjang untuk dilalui. Itulah sebabnya pelaku bisnis, para pembuat kebijakan, serta regulator harus berkolaborasi dan mengoordinasikan tindakan untuk menghadapi dua tantangan. Pertama, pengukuran. Definisi yang lebih luas dari penciptaan nilai menuntut pengukuran lebih.

Survei HSBC menunjukkan bahwa bisnis dibuat frustrasi oleh inkonsistensi dalam kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST). Ada kesenjangan yang konsisten antara status perusahaan yang relevan dan indikator yang diukurnya. Kerangka kerja dan standar umum dapat memacu tindakan. Penyelarasan yang lebih baik pada mekanisme pelaporan perusahaan akan memungkinkan terciptanya peer comparison (perbandingan antara suatu perusahaan dan perusahan lain yang serupa atau bergerak dalam bisnis yang sama). Tekanan kompetitif yang dihasilkan akan mendorong kemajuan.

Transparansi dan penilaian yang lebih dibutuhkan untuk mengatasi tantangan yang kedua, yakni pembiayaan. Ini adalah tantangan terbesar dalam upaya mendorong keberlanjutan. Dibutuhkan investasi tambahan sebesar US$2,5 triliun per tahun untuk mencapai tujuan-tujuan yang dicanangkan PBB.

Bank dapat menjadi katalis dengan memberdayakan korporasi besar untuk mengembangkan rantai pasok yang berkelanjutan. Pembiayaan yang terkait dengan SDG juga bisa mendatangkan tambahan modal.

HSBC menerbitkan surat utang SDG pertama di 2017, dengan perolehan dana yang dialokasikan untuk proyek yang ada hubungannya dengan tujuh target utama, disusul dengan penerbitan sukuk SDG pertama di dunia pada 2018, surat utang syariah. Hal ini menandakan adanya kecenderungan ke arah investasi berkelanjutan yang telah mencapai US$30 triliun.

Faktor sosial

Ketika bisnis semakin memperhatikan dampak terhadap masyarakat, faktor-faktor sosial akan menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan pembiayaan. Usaha untuk meningkatkan paparan risiko terkait perubahan iklim terhadap keseluruhan sistem pembiayaan menandakan adanya kejelasan arah gerak. Pada waktunya nanti, saya percaya bahwa faktor SDG akan membentuk keputusan akan pembiayaan dan hal ini akan memicu tren.

Mayoritas bisnis menyadari peran mereka dalam pencapaian SDG. Lalu, bagaimana dengan mereka yang lambat? Dalam jangka pendek, perusahaan akan menghadapi risiko karena masyarakat, regulator, dan kompetitor semakin gencar membahas isu-isu ini. Dalam jangka panjang, mereka bisa kehilangan peluang bisnis juga, karena mencapai tujuan PBB ini dapat membuka nilai pasar sebesar US$12 triliun dan menciptakan 380 juta lapangan pekerjaan.

Sering kali perubahaan terjadi bertahap, kemudian secara tiba-tiba. Ketika keterlibatan orang-orang semakin luas dari aktivis di sekolah di seluruh dunia hingga ke ruang rapat perusahaan terbesar dunia, ini menjadi salah satu momen tersebut.

Para pemimpin bisnislah yang akan menyesuaikan tujuan mereka dan memperhitungkan dampak sosial di seluruh rantai pasokan mereka, yang akan menghasilkan nilai berkelanjutan dalam jangka panjang untuk semua.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More