Kamis 06 Februari 2020, 05:10 WIB

Siska Nirmala Mendaki tanpa Jejak Sampah

GALIH AGUS SAPUTRA | Humaniora
Siska Nirmala Mendaki tanpa Jejak Sampah

Dok. Pribasi

 

PENGANTAR: Kian besarnya skala bencana lingkungan di berbagai negara menunjukkan urgensi kesadaran lingkungan di tiap orang. Memperingati usia 50 tahun Media Indonesia, berikut kami tampilkan 51 sosok yang telah bergerak nyata dan menginspirasi bahwa penyelamatan bumi dapat dilakukan siapa saja dan lewat berbagai cara.

Lewat gerakan Zero Waste Adventure, ia membuktikan dan mengedukasi bahwa mendaki gunung tanpa menghasilkan sampah sangatlah bisa dilakukan.

MENDAKI gunung dan bertualang di alam ialah kebahagiaan bagi Siska Nirmala. Meski begitu, pendakian di Gunung Semeru, Jawa Timur, dan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 2010 justru membawa keresahan besar baginya.

Perempuan asal Bandung, Jawa Barat, itu, terhenyak akan volume sampah yang kian banyak di sana. Baginya, peraturan agar pendaki membawa turun sampah juga sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Pasalnya, sampah tetap saja menggunung di basecamp.

"Pengalaman itu menjadi titik balik untuk saya. Menjadi semacam tamparan untuk memikirkan bagaimana caranya naik gunung, tapi tidak menghasilkan sampah. Karena di gunung itu kan tidak seperti di kota yang ada truk oranye (pengangkut sampah), jadi akhirnya gunung seperti tempat sampah," tutur Siska saat menjadi salah satu pembicara di talk show Zero Waste Lifestyle yang menjadi rangkaian peringatan HUT ke-50 Media Indonesia di Kantor Media Indonesia, Jakarta.

Siska yang pernah mengikuti sebuah pelatihan zero waste setahun sebelumnya pun merasa terpanggil untuk bergerak nyata soal sampah gunung maupun di kehidupan sehari-hari. Perempuan kelahiran 6 Mei 1987 ini kemudian menjalani hidup zero waste secara bertahap sejak 2012 dan setahun berikutnya membuat gerakan pribadi, Zero Waste Adventure, yang dilakukan dengan ekpedisi nol sampah di lima gunung.

Ekspedisi ke Gunung Gede, Pangrango, Papandayan, Lawu, dan Argo Puro itu memang baru dituntaskan dua tahun kemudian. Namun, perempuan yang kala itu berprofesi sebagai jurnalis merasa bangga karena dapat membuktikan bahwa pendakian nirsampah memang bisa dilakukan.

"Yang paling utama caranya adalah dengan tidak membawa makanan instan, baik mi instan maupun makanan kaleng. Jadi, kita tidak menghasilkan sampah anorganik. Lalu untuk sampah organiknya, seperti kulit buah dan lainnya, kita kubur, tapi bijinya dibawa turun agar tidak merusak ekosistem di atas," tutur perempuan lulusan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, itu.

Hal urgensi lain, menurut Siska, ialah menghentikan penggunaan kantong plastik untuk membungkus berbagai perlengkapan pendakian. "Gantilah dengan dry bag. Tapi memang saya juga mengerti kalau untuk semua barang mungkin berat bagi pendaki kita karena harga dry bag yang lumayan," ujarnya

Pengalaman itu ia bagikan lewat situs pribadinya, zerowasteadventures.com, dan kemudian diterbitkan pula secara indi dalam buku pada 2017. Dengan publikasi digital maupun cetak itu, gerakan Siska semakin dikenal dan menarik banyak orang. Pada 2019, sebuah penerbit meminang bukunya dan lalu ia setujui dengan syarat pengemasan buku tidak menggunakan plastik.

Jangan ingin instan

Di berbagai publikasi itu, termasuk di Instagram @zerowasteadventure, Siska juga menyebarkan gaya hidup zero waste yang ia jalani sehari-hari. Menikah sejak 2013, Siska dan suami berkomitmen melakukan composting sampah rumah tangga mereka. Selain itu, perlengkapan seperti kantong belanja kain, alat makan sendiri, hingga botol minum selalu menjadi bawaan wajib ke mana pun pergi.

Bagi Siska, gaya hidup zero waste bisa dilakukan siapa saja asal tidak ingin serbainstan. "Kalau ada anggapan jika mendaki zero waste itu repot, saya tanya, mendaki itu sendiri apa enggak repot? Mendaki saja kan sebenarnya sudah repot, tapi kan kita mau karena senang. Nah, harusnya jangan kita senang sendiri, tapi alam rusak," tuturnya.

Lebih jauh, jika hidup zero waste telah menjadi kebiasaan, menurutnya, semua akan terasa ringan dan biasa saja. Hal itu pula yang ia rasakan dalam membawa botol minum dan perangkat makan sendiri. Kebiasaan itu kini dirasakannya sebagai sebuah bagian diri yang tidak bisa terpisahkan.

Tidak hanya itu, demi mengurangi sampah plastik, ia pun sudah sejak lama tidak mengonsumsi mi instan. Dari demi lingkungan, kini kebiasaan itu pun juga dirasakan bermanfaat bagi kesehatan.

Meski begitu, Siska juga maklum jika bagi orang lain hidupnya maupun aktivitas mendaki nol sampah mungkin dirasa sulit dan perlu bertahap. Karena itu, sepanjang 2019, Siska menggelar 10 kelas Zero Waste Adventure di berbagai daerah, mulai Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Bali.

Melalui kegiatan itu, Siska mengenalkan semacam kurikulum yang membahas beberapa tahapan, mulai prinsip-prinsip dasar zero waste, manajemen perbekalan, manajemen perjalanan, cara menghitung kalori makanan, dan cara mengompos dalam teknik yang sederhana.

"Dari manajemen perbekalan saja kita dapat mengetahui seberapa banyak makanan yang kita bawa hingga akhirnya dapat menghitung potensi sampah yang akan kita hasilkan. Jadi, memang sangat teknis apa yang saya sampaikan dalam kelas ini," jelasnya.

Untuk zero waste dalam skala lebih luas, Siska mengakui jika butuh campur tangan banyak pihak, termasuk lewat peraturan maupun kebijakan ekonomi sirkular, yakni ekonomi yang seminim mungkin menggunakan sumber daya dengan cara memaksimalkan masa pakai dan masa daur produk yang sudah ada.

"Barangkali kita selama ini sering mendengar, banyak orang yang sudah menghindari sampah plastik, tetapi kok masih ada perusahaan yang memproduksinya. Nah, memang harus ada keterlibatan dari semua kalangan. Jadi, selama kita masih bisa menjalankan gaya hidup ini, kita jalankan dulu saja sambil menunggu sistem ekonominya mengarah ke sirkular. Pelan-pelan saja sambil menunggu sistemnya berubah," katanya. (M-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More