Rabu 05 Februari 2020, 19:25 WIB

AIDA Minta Hak Kompensasi Korban Terorisme Dilaksanakan

Bagus Suryo | Politik dan Hukum
AIDA Minta Hak Kompensasi Korban Terorisme Dilaksanakan

MI/Bagus Suryo
Paparan korban dan pelaku terorisme, Aida, Malang, Jawa Timur.

 

ALIANSI Indonesia Damai (AIDA) menuntut pemerintah segera memberikan kompensasi yang menjadi hak korban aksi terorisme, sesuai aturan hukum yang berlaku.

"Kami mendorong kementerian atau lembaga terkait untuk semakin memenuhi hak-hak korban terorisme sesuai aturan yang berlaku," tegas Direktur AIDA Hasibullah Satrawi di Malang, Jawa Timur, Rabu (5/2).

Ia mengakui pemerintah memang sudah memberikan hak-hak korban dengan segala keterbatasan yang ada. Namun, AIDA sebagai lembaga yang perhatian dengan pendampingan para korban aksi terorisme menilai hak kompensasi belum sepenuhnya dirasakan oleh semua korban.

Para korban aksi terorisme sebelum diundangkannya UU No. 5 Tahun 2018, lanjutnya, banyak yang belum menerima kompensasi. Padahal pemerintah seharusnya segera memberikan hak-hak mereka berdasarkan asas keadilan, kesetaraan dan kesepahaman.

Karena itu ia mengingatkan, pemerintah berkewajiban memberikan kompensasi kepada korban dalam batas waktu tiga tahun setelah diundangkannya UU No.5 Tahun 2018 tentang perubahan atas UU No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

"Kami mendorong agar pemberian kompensasi kepada korban lama tidak menggugurkan hak-hak lain di luar kompensasi karena hak-hak korban pada prinsipnya berdiri sendiri-sendiri," ungkapnya.

Selanjutnya ia mengimbau masyarakat agar tetap mewaspadai semua ancaman kekerasan termasuk aksi terorisme dan mengedepankan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam pelatihan penguatan perspektif korban dalam peliputan isu terorisme di Malang, AIDA menghadirkan sejumlah korban aksi terorisme, yaitu Budi Santoso dan Chistian Salomo. Keduanya korban bom di Kedutaan Besar Australia di Jakarta 9 September 2004. Korban lainnya adalah Desmon, ia korban bom di Surabaya tahun 2018.

Sedangkan salah satu mantan jihadis yang dihadirkan, yaitu Choirul Ihwan. Ia dulunya ahli merakit senjata api, membuat bom, menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Kini, Choirul Ihwan sudah menyadari betapa pentingnya hidup damai.

Budi Santoso menyatakan sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah, berbeda dengan Chistian Salomo yang belum dapat kompensasi dari pemerintah. Padahal Chistian terus menjalani perawatan hingga kini, lantaran masih ada proyektil bom di dalam tubuhnya yang belum seluruhnya diangkat.

"Saya belum dapat kompensasi, bantuan selama ini justru dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta," tutur Chistian Salomo.

Bagi para korban aksi terorisme dan mantan teroris itu sudah saling menguatkan. Mereka pun menyuarakan perdamaian dan sudah saling memaafkan.(OL-13)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More