Rabu 05 Februari 2020, 16:39 WIB

Pengganti Tiongkok, Pemerintah Mencari Importir Negara Lain

Hilda Julaika | Ekonomi
Pengganti Tiongkok, Pemerintah Mencari Importir Negara Lain

Antara
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita

 

INDONESIA berpotensi mencari importir bahan baku manufaktur dari negara lain, sebagai pengganti impor dari Tiongkok yang diperkirakan terjadi penurunan produksi akibar merebaknya virus korona.

"Kalau soal korona, kita kan komponen bahan baku untuk industri manufaktur yang ada di Indonesia masih harus diimpor dari Tiongkok sebesar 30 persen untuk memenuhi industri dalam negeri," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, Rabu (5/2).

Namun, Agus mengatakan tidak dapat berasumsi terlalu banyak terkait ekonomi Tiongkok. Namun, tak dapat dipungkiri karena virus korona ini ada kemungkinan terjadi penurunan kapasitas produksi atau bahkan menghentikan produksinya untuk sementara. Hal ini membuat Indonesia perlu mencari jalan keluar agar industri dalam negeri tetap berjalan dan tidak terhambat karena kekurangan bahan baku.

"Kita tidak bisa berasumsi apakah kebutuhan bahan baku industri yang masih diimpor oleh Tiongkok ini, bisa dipenuhi kebutuhannya oleh Tiongkok? Kita tidak tahu, karena kemungkinan besar ada industri-industri Tiongkok yang menurunkan kapasitas produksinya, bahkan barang kali sedang dalam posisi tidak memproduksi," urainya.

Menurut Agus, ada dua opsi solusi yang bisa dilakukan baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah dan panjang. Untuk jangka pendek, kemungkinan Indonesia masih harus mencari bahan baku dari negara lain atau impor pengganti dari selain Tiongkok. Hal ini perlu dilakukan karena Indonesia belum memiliki kemampuan produksi bahan baku tersebut.

"Selama bahan baku impor ini belum diproduksi di Indonesia maka mau tidak mau, untuk mencari solusi agar industri tidak berhenti beroperasi atau tidak mengurangi kapasitas produksi. Kita harus mencari bahan baku lain di luar dari Tiongkok," ungkapnya.

Sementara itu, untuk jangka menengah dan panjang, kondisi saat ini bisa menjadi kesempatan bagi pemain baru di industri. Para pemain baru berkesempatan untuk melakukan investasi pada produk-produk impor yang akan menjadi substitusi.

"Tentu ini merupakan potensi bagi Indonesia. Khususnya bagi industri untuk menciptakan atau membangun industri-industri yang akan mengisi impor bahan baku. Ini yang kita dorong agar neraca perdagangan kita semakin sehat," pungkasnya. (OL-2)

Baca Juga

MI/Arya Manggala

Agar Tak Redup, Industri Otomotif Diusulkan Dapat Insentif

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 08 April 2020, 10:16 WIB
Usulan itu sudah disampaikan Kementerian Perindustrian kepada Kementerian Keuangan, agar kinerja sektor otomotif tetap...
Dok SKK Migas

4 Proyek Hulu Migas Selesai di Kuartal I 2020

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 April 2020, 10:08 WIB
Sepanjang 2020 direncanakan terdapat 11 proyek hulu migas yang akan onstream. Mayoritas proyek merupakan proyek pengembangan lapangan...
ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA

Ketidakpastian Tinggi, IHSG Kembali Masuk Teritorial Negatif

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 08 April 2020, 09:37 WIB
Sentimen pasar dari dalam negeri kali ini berkutat pada proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini yang akan mengalami penurunan tajam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya