Rabu 05 Februari 2020, 10:25 WIB

HPV DNA Lebih Akurat dari Pap Smear

Aiw/H-2 | Humaniora
HPV DNA Lebih Akurat dari Pap Smear

MI/ATIKAH WINAHYU
Dokter spesialis kanker RS Dharmais Andrijono (kiri) dan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Cut Putri Aria

 

KANKER serviks atau leher rahim menempati urutan kedua dalam hal jumlah penderita dan penyebab kematian pada perempuan di Indonesia. Setiap satu jam terdapat satu perempuan di Indonesia yang meninggal karena kanker serviks.

Tingginya angka kematian akibat kanker serviks itu disebabkan pasien terlambat memeriksakan diri ke rumah sakit karena kurangnya pengetahuan. Padahal, kanker leher rahim merupakan salah satu jenis kanker yang dapat dicegah pertumbuhannya.

Untuk itulah Rumah Sakit Kanker Dharmais menyediakan metode skrining kanker serviks yang terbaru yakni, Hybrid Capture 2 HPV DNA Test sebagai langkah deteksi dini. Metode ini diklaim lebih unggul daripada metode pap smear dan inspeksi visual asam asetat (IVA).

"Pemeriksaan HPV DNA ini bisa mendeteksi adanya virus di dalam serviks sebelum terdapat sel kanker. Kalau misalnya pap smear kelihatan positif karena sudah ada sel-sel kankernya, tapi sebelum ada sel kanker sudah bisa dideteksi dengan adanya DNA itu," kata Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais Abdul Kadir saat peluncuran metode baru HPV DNA Test dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia di Jakarta, kemarin.

HPV DNA Test merupakan pemeriksaan deteksi dini kualitatif kanker leher rahim dengan cara menemukan virus HPV tipe high risk yang merupakan agen penyebab timbulnya kanker serviks.

Dokter Spesialis Kanker RS Dharmais Andrijono menjelaskan, HPV DNA mampu mendeteksi infeksi virus HPV sebelum berkembang menjadi kanker. "WHO (Badan Kesehatan Dunia) menganjurkan pemeriksaan HPV DNA karena tingkat sensitivitasnya mencapai 94%, jadi kesalahannya hanya 6%," kata Andrijono.

Dengan biaya Rp500 ribu, imbuhnya, HPV DNA Test cukup dilakukan selama 5 tahun sekali, sedangkan pada metode pap smear yang tingkat akurasinya 60%-80%, harus dilakukan setiap tahun dengan biaya Rp350 ribu.

Setiap tahunnya, sebanyak 14 ribu perempuan di Indonesia didiagnosis kanker serviks atau kanker leher rahim dan lebih dari 7.000 perempuan meninggal dunia akibatnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melakukan deteksi dini secara berkala guna mencegah penyakit kanker. Pasalnya, sebanyak 70% pengidap kanker datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut.

"Di Indonesia orang tidak mau datang berobat atau cek kesehatan kalau tidak ada keluhan." (Aiw/H-2)

Baca Juga

ANTARA

Pekerja Migran Harus Patuhi Protokol Saat Tiba di Tanah Air

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Rabu 01 April 2020, 12:49 WIB
Imbauan pada seluruh WNI agar mematuhi dan mengikuti seluruh protokol kesehatan yang ditentukan pemerintah sekembalinya ke tanah air harus...
ANTARA/Septianda Perdana

Ini Cara Mencuci Masker Kain

👤Antara 🕔Rabu 01 April 2020, 12:39 WIB
Masker kain menjadi alternatif dan memiliki keuntungan karena bisa dipakai...
Antara/Septianda Perdana

Pastikan Keamanan Pengemudi, Gojek Impor 5 Juta Masker

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Rabu 01 April 2020, 12:09 WIB
Masker dan alat kesehatan lainnya akan dibagikan kepada mitra pengemudi untuk memastikan keamanan saat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya