Rabu 05 Februari 2020, 10:15 WIB

Daya Tular si Virus Mahkota

Ata/H-2 | Humaniora
Daya Tular si Virus Mahkota

123RF
Virus Mahkota

 

MASYARAKAT di Natuna, Kepulauan Riau, bereaksi keras saat mengetahui wilayahnya dijadikan lokasi karantina bagi 243 warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Kota terpadat di 'Negeri Tirai Bambu' yang menjadi episentrum wabah virus korona baru.

Tidak hanya menular, hingga kemarin, virus yang diberi nama novel coronavirus (2019-nCoV) itu juga mematikan dan telah menjangkiti 20.679 orang di seluruh dunia. Sebanyak 427 orang dilaporkan meninggal dunia akibat virus yang belum ada obatnya itu.

Fakta itulah yang membuat warga Natuna begitu khawatir. Lantas, bagaimana sebenarnya daya tular virus korona baru ini?

Spesialis Mikrobiologi Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Fera Ibrahim menjelaskan, virus korona berbentuk mahkota ini merupakan parasit intraseluler obligat, yakni mikroorganisme parasit yang tidak dapat berkembang di luar sel. Strukturnya yang sangat sederhana membuat virus ini membutuhkan bantuan sel untuk melakukan produksi.

"Kalau di luar, dia tidak bisa apa-apa, jadi kita anggap zat ringan saja, tapi kalau sudah masuk sel, dia hidup karena dia bisa memperbanyak diri," tutur Fera saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Untuk masuk ke sel, 2019-nCoV juga membutuhkan reseptor ACE2. Reseptor ini terdapat di nasofaring, paru-paru, lambung, usus halus, usus besar, sumsum tulang, limpa, hati, ginjal, hingga otak, sedangkan reseptor yang paling sering menerima virus ini ada pada sel epitel paru-paru dan usus halus.

Dengan rentang masa inkubasi 2019-nCoV ini selama 2-14 hari, kata Fera, virus ini menular melalui droplet/percikan saluran napas, seperti batuk dan bersin, kontak dekat dengan penderita, menyentuh permukaan benda yang terdapat virus kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan, hingga kontaminasi feses (kotoran).

Terapkanlah beberapa cara berikut ini untuk menghalau penularannya. Pertama, virus korona tidak tahan terhadap pemanasan bersuhu 56 derajat celsius selama 30 menit. Virus yang masih bersaudara dengan SARS dan MERS ini juga bisa dibasmi dengan alkohol 75%, disinfektan berisi chlorine, hydrogen peroxide, chloroform, dan pelarut lipid.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2010 dan telah diterbitkan dalam jurnal Applied and Environmental Microbiology Journal milik American Society for Microbiology menyebutkan, virus korona dapat berkembang biak lebih cepat pada suhu 4-20 derajat celsius. Dalam suhu tersebut, virus korona mampu bertahan selama hingga 28 hari.

Agar lingkungan rumah terbebas dari virus korona, Fera menyarankan masyarakat untuk melakukan pemanasan pada peralatan makanan dan pakaian, biarkan sinar matahari masuk ke rumah, membuka ventilasi agar terjadi pertukaran udara, menggunakan larutan mengandung 5% potassium permanganate untuk disinfeksi peralatan makanan, sayuran, dan buah, rendam 1 menit kemudian dicuci dengan air bersih, serta menggunakan disinfektan mengandung chlorine untuk membersihkan dinding, lantai, kursi, meja, tempat tidur, dan perabotan rumah lainnya. (Ata/H-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More