Rabu 05 Februari 2020, 02:30 WIB

Shanti Persada Getol Edukasi Deteksi Dini

Indrastuti | Humaniora
Shanti Persada Getol Edukasi Deteksi Dini

MI/Sumaryanto Bronto
Shanti Persada

 

SALAH satu pendiri Lovepink, organisasi nirlaba yang giat mengedukasi tentang kanker payudara dan melakukan pendampingan, yakni Shanti Persada, 52, mengungkapkan keprihatinan atas rendahnya edukasi dan deteksi dini kanker payudara, salah satunya dengan periksa payudara sendiri (sadari).

Sebagai penyintas, ia sangat memahami urgensi deteksi dini pada tingkat kesembuhan penderita kanker payudara. Pasalnya, ketika ia terkena kanker payudara stadium 3B pada Maret 2010, ia tidak mengenal istilah deteksi dini tersebut.

"Saya tidak tahu informasi tentang deteksi dini dan kanker. Sama sekali. Masa kena kanker? Saya meras hidup sehat, keluarga juga tidak ada yang terkena kanker. Kanker itu seperti jauh sekali," terang Shanti ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Shanti mengungkapkan, Lovepink yang berawal di Jakarta berencana memperluas edukasi kepada masyarakat di daerah mengenai kanker payudara dan deteksi dini. "Tren penderita kanker payudara naik, kita bisa lihat di RS Dharmais, RSCM, dan rumah sakit yang menangani kanker," jelas lulusan Institut Teknologi Bandung tersebut.

Sementara itu, kesadaran masyarakat tentang deteksi dini sangat rendah. "Tak hanya di daerah, di Jakarta yang kota metropolitan, kesadaran deteksi dininya juga tergolong rendah, jadi kita giat mengampanyekannya," tuturnya. Menurutnya, masyarakat lebih memberi perhatian pada kesehatan reproduksi, yakni rahim atau ovarium, dan kurang memperhatikan mengenai payudara.

Ia mencontohkan riset terbatas yang dilakukan Lovepink dengan media dan kalangan pembaca menengah ke atas menunjukkan hasil yang mengejutkan. "Hanya 50% pembaca yang tahu tentang deteksi dini, dari jumlah ini, cuma 4% yang melakukan deteksi dini dengan sadari," ujarnya.

 

Tetap optimistis

Setelah didiagnosis kanker pada 2010, Shanti kemudian mengikuti serangkaian pengobatan kanker sambil tetap menekuni pekerjaannya. Dalam rentang waktu 1,5 tahun, ia menjalani operasi pengangkatan payudara, kemoterapi sebanyak enam kali, serta radiasi sebanyak 30 kali. "Saya melawan efek kemo dengan tetap bekerja," imbuhnya. Hasilnya, ia dinyatakan bebas dari kanker.

Pada 2015, Shanti terkena kanker kelenjar getah bening yang merupakan penyebaran dari kanker payudara. Kembali ia menjalani pengobatan dan dinyatakan sembuh.

Pengalaman terlambat didiagnosis kanker mendorong Shanti mendirikan Yayasan Lovepink bersama Madelina Mutia, sesama penyintas kanker payudara pada 2010. Berawal dari komunitas, Lovepink menjadi yayasan pada 2011 dan terdaftar resmi pada 2014. Misinya ialah mendorong deteksi dini kanker payudara dan melakukan pendampingan.

"Saya fokus kampanye deteksi dini karena 80% kanker payudara itu ditemukan pada stadium lanjut, artinya deteksi dini tidak jalan," tandasnya. Hingga tahun ini, Lovepink telah mempunyai cabang di Jakarta, Jember, Yogyakarta, Banjarmasin, dan Padang. Lovepink tercatat juga telah memberikan bantuan, edukasi, dan pendampingan kepada 3.000 penyintas kanker di seluruh Indonesia. Shanti menambahkan, penyintas kanker biasanya akan menjalani gaya hidup sehat, menjaga makanan, mengelola stres, bersosialisasi, serta berolahraga.

"Saya juga ada kekawatiran kambuh, tetapi tetap harus mengisi kehidupan kita dengan hal positif dan tetap optimistis. Di Lovepink, banyak sahabat seperjuangan untuk bertukar pikiran dan berbagi," jelasnya. (H-1)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More