Selasa 04 Februari 2020, 20:58 WIB

Dihantam Kendala Cuaca, Operasi Modifikasi Cuaca tak Surut

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Dihantam Kendala Cuaca, Operasi Modifikasi Cuaca tak Surut

MI/Tri Subarkah
Personel TNI-AU bersiap menyemai garam dalam operasi modifikais cuaca

 

OPERASI Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek masih berlangsung kendati alami kendala dalam beberapa hari terakhir.

"Kemarin, pesawat mengalami masalah teknis setelah penerbangan pertama sehingga perlu perbaikan. Hari ini, dimulai operasi kembali dengan tiga kali sorti penerbangan penyemaian awan," ujar Kepala Balai Teknologi Modifikasi Cuaca (BTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto di Jakarta, Selasa (4/2) dalam keterangan tertulisnya.

Kendala lain, lanjut Seto, yaitu jumlah personil penerbang TNI-AU yang diperbantukan dalam operasi TMC saat ini belum bertambah.

Jumlah kru penerbang terbatas mengingat padatnya jadwal penugasan di TNI beberapa hari terakhir. Sehingga kru pesawat CN 295 dalam operasi TMC hanya siap satu tim setiap hari. Padahal, untuk melakukan penerbangan sebelum matahari terbit dan sore hari dibutuhkan dua tim penerbang.

Sementara itu, factor cuaca dalam beberapa hari terakhir terjadi kecenderungan pertumbuhan awan pada malam hari yang mengakibatkan hujan pada dini hari.

Baca juga : Puncak Musim Hujan, Hujan Lebat Diprediksi Guyur Indonesia

"Demi keselamatan, tim TMC telah memutuskan tidak terbang malam hari. Ini juga sesuai arahan Kepala BNPB agar mengutamakan keselamatan. Jika tidak memungkinkan mengejar target 30-40 persen pengurangan curah hujan, maka target 20 persen sudah sangat berarti untuk mengurangi eskalasi banjir di Jabodetabek," papar Seto.

Secara teknis, kata Seto, tim TMC secara lebih intensif memonitor pertumbuhan dan pergerakan awan-awan yang diperkirakan akan bergerak menuju wilayah Jabodetabek.

Monitoring ini dilakukan sejak dinihari hingga setelah matahari terbenam. Awan-awan tersebut jauh-jauh akan segera disemai, biasanya awan tersebut masih berada di Laut Jawa, Selat Sunda dan wilayah Ujung Kulon agar segera turun hujan sebelum memasuki wilayah Jabodetabek.

Pada Senin (3/2), tim TMC-BPPT melakukan dua sorti penerbangan penyemaian awan dengan menggunakan pesawat CN-295 (A-2901) dan Casa 212 (A-2103).

Penerbangan pertama menggunakan pesawat CN 295 (A-2901) sekitar pukul 06.30 - 08.45 WIB membawa bahan semai NaCL sebanyak 2.400 kg dengan wilayah penyemaian di Laut Jawa sebelah utara Jakarta pada ketinggian 10.500 kaki.

Baca juga : Curah Hujan Tinggi, BPPT Fokus ke Modifikasi Cuaca

Dalam waktu hampir bersamaan, sekitar pukul 07.20 juga diluncurkan dari landasan Halim Perdana Kusuma pesawat Casa 212 (nomor registrasi A-2103) dengan membawa 800 kg bahan semai menuju wilayah penyemaian di Laut Jawa sebelah Barat Laut Jabodetabek dengan ketinggian penyemaian 10.500 kaki.

"Wilayah target penyemaian berdasarkan monitoring data radar cuaca pada pukul 05.50 WIB, terpantau adanya awan yang berpotensi terjadinya hujan yang akan masuk ke wilayah Jabodetabek di Laut Jawa sebelah Utara dari Jabodetabek.

Selanjutnya data radar pada pukul 07.34 WIB, menunjukkan ada awan hujan yang berpotensi menjadi hujan yang masuk ke wilayah Jabodetabek di Laut Jawa sebelah Utara dari Jabodetabek," papar Koordinator Lapangan TMC-BPPT Posko TMC Halim Perdanakusuma Faisal Sunarto.

Hingga hari ke-32 operasi TMC, telah dilaksanakan 89 sorti penerbangan penyemaian awan di Laut Jawa, Selat Sunda, dan wilayah Ujung Kulon untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek. Total bahan semai yang dihabiskan mencapai 144.800 kg.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan akan tinggi dari 31 Januari hingga 5 Februari 2020. Terutama di daerah Indonesia bagian barat dan selatan. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More