Selasa 04 Februari 2020, 17:50 WIB

Persahabatan Bisa Jadi Solusi Obesitas Anak

Galih Agus Saputra | Weekend
Persahabatan Bisa Jadi Solusi Obesitas Anak

Unsplash/ Delfi De La Rua
Penelitian Univesitas Buffalo, Amerika Serikat, menunjukkan jika persahabatan bisa mendorong anak banyak beraktivitas.

ANDA memiliki anak yang hobi makan atau ngemil, dan susah untuk mengeremnya? Ada baiknya anda tidak sekadar melarang menggunakan ucapan melainkan melihat lebih dalam bagaimana aktivitas sosial anak.

Dilansir Scence Daily, penelitian dari tim Divisi Pengobatan Perilaku di Universitas Buffalo, New York, Amerika Serikat menemukan jika aktivitas sosial dapat berpengaruh pada pola makan. Selanjutnya pula dapat menjadi solusi obesitas pada anak.

"Perhatikan seseorang yang biasanya pulang sendirian setelah jam sekolah. Mereka biasanya akan makan karena merasa bosan. Hal seperti ini tidak akan terjadi seandainya mereka memiliki aktivitas bermain dengan seorang sahabat atau teman. Mereka akan bersosialisasi yang bertindak sebagai pengganti makan," jelas asisten peneliti yang juga Spesialis Pediatri di Universitas Buffalo Sarah-Jeanne Salvy.

Hasil penelitian yang didukung dana hibah dari Institut Nasional Kesehatan Anak dan Pembangunan Manusia AS ini, pernah diterbitkan secara daring di Annals of Behavioral Medicine. Adapun penelitian ini dilakukan terhadap 54 anak obesitas dan anak dengan berat badan ideal. Mereka rata-rata berusia sembilan hingga 11 tahun yang terdiri dari 24 laki-laki dan 30 perempuan.

Dalam laboratorium, mereka lantas dipasangkan dengan sahabatnya masing-masing, selain juga dipasangkan dengan orang asing. Anak lalu diminta untuk mengakses permainan teka-teki dalam komputer sekaligus diberi kupon yang dapat ditukar dengan makanan.

Hasil uji coba menunjukan bahwa anak-anak lebih asyik beraktivitas ketika bersama sahabat. Sementara ketika bersama orang asing, produktifitasnya cenderung menurun dan mudah lapar.

Salvy menunjukkan kebersamaan anak dengan orang asing dapat menjadi gambaran situasi kesendirian di kehidupan nyata. "Dengan tidak adanya teman sebaya atau teman dekat, akses anak atau remaja ke interaksi sosial amat terbatas. Karena itu mereka kemudian lebih banyak memilih berbagai macam aktivitas pasif atau di tempat seperti makan," imbuhnya.

Salvy selanjutnya menjelaskan bahwa penelitian ini menjadi bukti bahwa jejaring sosial anak-anak berkerja secara unik, relevan, dan turut mempengaruhi  ketertarikan pada suatu kegiatan. "Persahabatan mendorong gaya hidup aktif," tutur Profesor Pediatri, Kedokteran Sosial, dan Pencegahan Obesitas Universitas Buffalo, Leonard H. Epstein yang turut berkontribusi dalam penelitian ini. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More