Selasa 04 Februari 2020, 14:49 WIB

Makanan dan Minuman Impor Tiongkok tidak Tularkan Virus Korona

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Makanan dan Minuman Impor Tiongkok tidak Tularkan Virus Korona

Antara
Ilustrasi

 

PRODUK makanan dan minuman impor dari Tiongkok tidak berpotensi menyebarkan virus korona.

Demikian diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Wiendra Waworuntu menjawab beredarnya isu meresahkan ancaman penyebaran virus korona bisa ditularkan melalui produk makanan dan minuman yang diimpor dari Tiongkok ke Indonesia.

"Bahwa Kemenkes, (memastikan) tidak ada penularan melalui makanan dan minuman, dari segi kesehatan bahwa makanan dan minuman tidak memberikan penularan pada novel korona virus," kata Wiendra di Ruang Naranta Kemenkes Jakarta Selatan, Selasa (4/2).

Dia menegaskan, tentunya masyarakat perlu memastikan kondisi makanan yang disajikan harus dimasak sampai matang pada suhu 100 derajat celsius agar mampu membunuh bakteri.

"Korona virus ini kan 70 derajat mati. Makan makanan yang masak sampai matang. Artinya kita makan makanlah yang matang. Waktu virus H5n1 ribut kan. Nah di situ kan imbauannya adalah makanlah makanan yang matang. Kan kuman itu mati di 70 derajat," sebutnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat panik dengan informasi tersebut. Namun, tetap waspada dan selalu menjaga serta meningkatkan pola hidup sehat agar tidak mudah diserang berbagai virus penyakit.

Diminta tanggapannya soal rencana Kementerian Perdagangan menghentikan sementara impor produk makanan dari Tiongkok, tentunya kata dia bisa berdampak pada situasi perekonomian Indonesia.

"Sedang dipertimbangkan, kan? (Jika iya) tentu kita pasti tidak mau, bahwa ekonomi di Tiongkok juga harus hidup, kita juga harus ada transaksi. Kalau karena makanan dan minumannya itu disetop, apakah itu tidak memengaruhi kita?," pungkasnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More