Selasa 04 Februari 2020, 08:45 WIB

Kapal Pesiar Berpenumpang 3.500 Orang Dikarantina di Jepang

Basuki Eka Purnama | Internasional
Kapal Pesiar Berpenumpang 3.500 Orang Dikarantina di Jepang

AFP/Filippo MONTEFORTE
Ilustrasi--kapal pesiar

 

PEMERINTAH Jepang telah mengarantina sebuah kapal pesiar berpenumpang 3.500 orang dan memeriksa semua penumpangnya, Selasa (4/2), setelah seorang pasien yang naik kapal itu dari Hong Kong dipastikan mengidap virus korona.

Rekaman televisi memperlihatkan sejumlah petugas kesehatan memasuki kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama pada Senin (3/2) untuk memeriksa kesehatan 2,500 penumpang dan 1.000 awak kapal.

Keputusan karantina itu diambil setelah seorang penumpang berusia 80 tahun yang naik dari Hong Kong pada 25 Januari terbukti positif virus korona.

Juru bicara pemerintah Jepang Yoshidide Suga, Senin (3/2), mengatakan pemerintah Jepang memutuskan mengarantina kapal yang tiba di Yokohama sehari lebih cepat dari jadwal.

Baca juga: Korban Tewas Akibat Virus Korona di Tiongkok Jadi 425 Orang

Seorang perempuan berusia 20 tahun yang menumpang kapal pesiar itu bersama ibudanya, Selasa (4/2), mengatakan para penumpang diminta untuk tetap berada di kamar mereka untuk menjalani pemeriksaan.

Dia mengatakan mereka telah berada di kamar mereka sejak Senin (3/2) dan tidak tahu kapan akan diperiksa hingga Selasa (4/2) pagi.

Sejak Sabtu (1/2), Jepang telah melarang warga asing yang melakukan perjalanan ke Hubei selama beberapa pekan terakhir serta pemegang paspor Tiongkok asal Hubei. Mereka yang tiba di Jepang dan memperlihatkan gejala virus korona juga akan ditolak.

Sebanyak delapan warga asing telah ditolak masuk ke Jepang hingga sejauh ini.

Kementerian kesehatan Jepang mengatakan, per Senin (3/2), sebanyak 20 orang positif virus korona di Jepang dengan empat di antara mereka tidak menunjukkan gejala apa pun. (AFP/OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More