Selasa 04 Februari 2020, 07:55 WIB

Biasakan Dosen Menulis di Jurnal Internasional

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Biasakan Dosen Menulis di Jurnal Internasional

Pexels/Medcom.id
Ilustrasi

 

ADANYA wacana yang dilontarkan anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan kepada Mendikbud Nadiem Makarim agar kewajiban dosen menulis karya ilmiah untuk diterbitkan di jurnal internasional sebagai syarat kenaikan dan mempertahankan jabatan fungsional dihapus, ditentang sebagian besar pimpinan perguruan tinggi di Tanah Air.

Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro menegaskan UI tidak setuju jika kewajiban dosen memublikasikan artikel ilmiahnya di jurnal internasional dihapuskan. Menurut Ari, jurnal internasional merupakan wadah untuk menunjukkan kualitas pendidikan perguruan tinggi Indonesia di kancah dunia.

“Menulis di jurnal internasional itu tetap harus karena itu menjadi penilaian apakah suatu negara punya pendidikan tinggi yang cukup bagus. Misal, jika UI mau kerja sama dengan Australia, tentu mereka ingin tahu dengan siapa dia mau kerja sama. Nah, dia bisa lihat rangking di QS, ternyata UI bagus, publikasi lumayan,” kata Ari, kemarin.

Menurut Ari, yang dikeluhkan para dosen bukanlah publikasinya, melainkan karena dana untuk melakukan penelitian kurang. “Yang repot itu dosen-dosen kita dana penelitian kurang, laboratorium kuno sehingga kalau mau nulis sesuatu yang bermutu susah,” terangnya.

Urgensi penulisan karya ilmiah di jurnal internasional juga disampaikan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Mochamad Ashari, kemarin. Ia menilai publikasi di jurnal internasional memilki sejumlah manfaat strategis. “Pernyataan legislator yang menyebut kewajiban menerbitkan karya ilmiah di jurnal internasional dapat memberatkan dosen dan peneliti adalah keliru,” tegasnya.

Menurut Ashari, adanya dorongan­ penerbitan jurnal internasional akan lebih memacu kampus untuk menciptakan temuan baru dan bermanfaat bagi masyarakat. “Kampus dituntut untuk menerbitkan banyak inovasi supaya produk itu berlanjut, bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata Ashari.

Menurutnya, kalaupun memberatkan, hal itu hanya terkait lingkungan penelitian. Hal tersebut dapat diatasi dengan berkoordinasi dan saling mendukung untuk mewujudkan munculnya suatu produk yang dibutuhkan masyarakat.  ITS pada 2019 telah mengeluarkan 1.321 jurnal internasional. Jurnal tersebut sudah terindeks dalam jurnal internasional Scopus maupun Thomson.
 
Ajang promosi

Sikap serupa dikemukakan Rektor Universitas Terbuka (UT), Ojat Darojat, yang menilai kebijakan mewajibkan para dosen memublikasi karya ilmiahnya di jurnal internasional sudah tepat. Publikasi karya ilmiah di jurnal internasional selain berguna untuk menunjukkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, juga dapat memosisikan kualitas/kompetensi yang dimiliki dosen

Dengan adanya kebijakan tersebut, tambah Ojat, seharusnya para dosen terus berupaya mengembangkan diri sehingga mampu memublikasikan karya­nya di jurnal­ internasional. Di sisi lain, pihak institusi yang menaungi dosen serta pemerintah juga perlu memberikan dukungan pada para dosen melalui pendana­an. (H-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More