Selasa 04 Februari 2020, 00:05 WIB

Virus Korona Mulai Hantam Sektor Pariwisata

Hilda Julaika | Ekonomi
Virus Korona Mulai Hantam Sektor Pariwisata

ANTARA
Virus Korona Mulai Hantam Sektor Pariwisata

 

ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) mengakui merebaknya wabah virus korona telah berdampak pada sektor pariwisata dan perdagangan di Indonesia.
Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani saat ditemui seusai rapat dengan Badan Anggaran DPR di Jakarta, Senin (32/), mengatakan penurunan kunjungan wisatawan asal Tiongkok, termasuk menurunnya kegiatan ekspor-impor ke negara ‘Tirai Bambu’ itu menjadi dampak dari merebaknya virus tersebut.

“Seperti Bali, sekarang sudah drop sekali. Sekarang turis Tiongkok itu 1,7 juta orang, kalau tidak ada penerbangan dari Tiongkok, ya hilang. Belum lagi kegiatan ekspor-impor kita juga sekarang mulai menurun,” katanya.

Kendati tidak menjelaskan secara rinci, Hariyadi yang juga Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) itu menyebut penurunan kunjungan turis Tiongkok sudah terasa di Manado dan Bali.

Di Manado, di hari biasa total kunjungan wisatawan asal ‘Negeri Panda’ itu bisa mencapai 70%, saat ini menurun hanya di kisaran 30%.

Sementara di Bali, di periode low season seperti saat ini, sedianya pengusaha hotel bintang tiga masih mendapatkan kunjungan wisawatan hingga 40%, tetapi kunjungan wisatawan saat ini tidak melebihi 30%.

“Saya belum bisa konfirmasi angkanya, tapi kalau dengar laporan, di sana (Bali) itu dampaknya bukan hanya dari turis Tiongkok saja tapi juga turis yang lain juga batal, seperti dari Eropa. Ini yang kami khawatirkan,” imbuhnya.

Ada pun terhadap kegiatan ekspor impor, Hariyadi menuturkan selain terkendala masalah administrasi, banyak pula pabrik yang ditutup karena dampak virus korona dan diperpanjangnya masa liburan imlek.

“Itu otomatis dari segi produksi juga bermasalah. Lalu kita mau ekspor ke sana juga bermasalah karena tidak ada pesawat,” imbuhnya.

Karena itu, sambung Hariyadi, pemerintah perlu mengoreksi target pertumbuhan ekonomi 2020. Pihaknya memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai 5,0% dari target 5,3%.

“Kalau situasi seperti ini, kami perkirakan mungkin 5,0%, dengan catatan kalau pembahasan omnibus law nanti lancar sesuai ekspektasi kita ya bisa bergerak ke 5,3% hingga akhir tahun,” katanya.


Langkah antisipasi

Di kesempatan terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memprediksi pada kuartal 1 2020 ini ekonomi Tiongkok akan mengalami kesulitan lantaran permasalahan virus korona. Implikasinya, beberapa sektor perekonomian Indonesia pun akan terhambat.

Sri menyebut pengaruh tersebut terjadi terhadap sektor pariwisata, harga komoditas, hingga kegiatan ekspor ke negara tersebut.

“Kuartal 1 akan sangat sulit dan nanti pengaruhnya kepada seluruh dunia termasuk Indonesia. Dari mulai jalur tourism, harga komoditas, ekspor kita secara umum akan terkena,” ungkapnya di Kampus FEB UI Salemba, Jakarta, Senin (3/2).

Untuk mengantisipasi dampak ekonomi eksternal itu, pihaknya memastikan akan melakukan telaah agar struktur ekonomi Indonesia menjadi lebih berimbang.
Ia mencontohkan, dari sisi sektoral yang biasa mengandalkan manufaktur akan dihubungkan ke ekspor atau substitusi impor. Sektor pertanian, perikanan, dan pertambangan pun akan dijaga performanya.

Selain itu, Sri mengatakan Indonesia juga akan mengandalkan sektor konstruksi. Menurut keterangannya, pihaknya telah mengeluarkan banyak kebijakan untuk memberi stimulus pada sektor-sektor konstruksi dan properti. (Ant/E-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More