Senin 03 Februari 2020, 08:40 WIB

DKI Jakarta Darurat Drainase

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Megapolitan
DKI Jakarta Darurat Drainase

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Warga melihat banjir yang menutup Underpass Kemayoran, Jakarta, Minggu (2/2/2020).

 

BANJIR yang kembali melanda sejumlah wilayah Ibu Kota seperti kawasan Monas dan Kemayoran, kemarin, diduga disebabkan sistem drainase yang buruk. Pasalnya, genangan muncul hanya akibat hujan lokal yang turun dalam waktu semalam.

"Ibaratnya, Kota Jakarta sudah dikatakan darurat drainase," kata pengamat tata kota Yayat Supriatna, tadi malam.

Yayat mengatakan itu karena banjir tidak hanya terjadi di pinggiran kota, tetapi juga sudah di tengah kota.

Ia menambahkan Jakarta masih menggunakan drainase peninggalan masa kolonial. Padahal, kondisi Ibu Kota saat ini sudah jauh berbeda ketimbang puluhan tahun lalu.

"Bentang alam dahulu masih banyak tumbuhan, rawa, situ, dan lainnya. Sekarang sudah banyak dicor. Ditambah lagi dengan kondisi permukaan tanah di Jakarta yang terus mengalami penurunan," jelasnya.

Menurut dia, kondisi itu diperparah karena Pemprov DKI kurang memperhatikan dan merawat drainase, terutama yang tertutup. Hal itu memungkinkan adanya penyempitan, penambahan lumpur, juga sampah yang tidak terdeteksi.

Untuk mencegah banjir akibat masih tingginya curah hujan, Yayat menyarankan untuk secepatnya dilakukan audit untuk mengetahui kesalahan apa yang harusnya diatasi pemerintah, baik dari segi tata air, desain, maupun penyempitan karena sampah yang menumpuk pada saluran drainase. "Harus segera dipetakan masalahnya, daerah Monas juga harus disiagakan," lanjutnya.

Ia mengatakan pada titik krusial seperti Monas, Kemayoran, dan wilayah lain, mobil pompa harus siaga sehingga bisa langsung bekerja agar banjir segera teratasi.

Terkait dengan terowongan (underpass) Gandhi Kemayoran yang kembali banjir, Sekda DKI Jakarta Saefullah menyarankan Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran untuk mengevaluasi sistem drainase. Dia menduga ada ketidakberesan di sistem aliran air karena masih ada air yang jatuh dan dibuang di underpass Kemayoran.

"Kemayoran harus punya sistem polder sendiri, seperti di Ancol yang tidak ada masalah saat ini," ujar Saefullah di lokasi banjir itu, kemarin.

Ia juga menegaskan banjir berulang di underpass Kemayoran seharusnya menjadi evaluasi dan perbaikan di sistem pompa air. "Pompa di bawah underpass harus dihitung ulang kapasitasnya, harus melebihi debit air yang masuk."

 

Terbantu modifikasi cuaca

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menegaskan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) tetap dijalankan untuk mengurangi curah hujan. Namun, kegiatan sejak 3 Januari lalu itu hanya dilakukan di sekitar Jabodetabek. "Sementara ini operasi hanya di Jabodetabek," ujarnya, kemarin.

Hammam menyebut dalam beberapa hari terakhir pihaknya akan mengoptimalkan kemampuan sumber daya manusia dan fasilitas armada yang ada. Karena itu, setiap hari dilakukan penerbangan penyemaian awan sebanyak 4 sortie menggunakan pesawat CN295 dan NC212-200 dari posko TMC Halim Perdanakusuma.

"Hingga hari ini telah dilakukan penyemaian sebanyak 84 sorties dengan bahan semai sebanyak 135 ton," sebutnya.

Dia menambahkan tingginya curah perlu penanganan komprehensif mulai peringatan dini hingga upaya mitigasi, baik melalui rekayasa cuaca maupun perbaikan infrastruktur darat.

"Tim TMC-BPPT akan terus berikhtiar melakukan operasi modifikasi cuaca untuk mencegah potensi banjir," tukasnya. (Fer/Put/Tri/Ant/X-10)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More