Senin 03 Februari 2020, 00:30 WIB

Investasi Berkualitas Jadi PR Besar BKPM

Faustinus Nua | Ekonomi
Investasi Berkualitas Jadi PR Besar BKPM

coreindonesia.org
Kepala Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah

 

PENINGKATAN kualitas investasi menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah dalam menggenjot investasi di Tanah Air.

Jika kualitasnya masih seperti sekarang, kata Kepala Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, pertumbuhan investasi sulit diharapkan bisa menyerap banyak tenaga kerja.

“Saat ini daya serap tenaga kerjanya sangat rendah, di bawah 150 ribu setiap kenaikan 1% pertumbuhan ekonomi. Pemerintah hendaknya juga meningkatkan kualitas investasi agar daya serap investasi terhadap angkatan kerja bisa ditingkatkan,” kata Piter di Jakarta, Minggu (2/2).

Dijelaskanya, berinvestasi di Indonesia masih berbiaya mahal sehingga tidak efektif menyerap lapangan kerja.

Mahalnya biaya berinvestasi beserta dampaknya itu ditunjukkan oleh incremental capital-output ratio (ICOR). ICOR merupakan rasio antara investasi di tahun yang lalu dan pertumbuhan output regional (PDRB). ICOR bisa menjadi salah satu parameter yang menunjukkan tingkat efisiensi berinvestasi di suatu negara. Semakin tinggi nilai ICOR semakin tidak efisien suatu negara untuk investasi.

Piter menyebutkan indeks ICOR Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain, yaitu di atas 6. Padahal, rata-rata negara Asia Tenggara memiliki ICOR di kisaran 3-4.

“ICOR Indonesia saat ini sebesar 6,3. Itu menunjukkan bahwa untuk meningkatkan output satu unit, kita membutuhkan tambahan jumlah unit input (investasi) yang sangat besar, dibutuhkan tambahan 6,3 unit input,” ungkapnya.

Untuk peningkatan kualitas, menurutnya, investasi harus lebih banyak diarahkan pada sektor ekonomi produktif dan jangka panjang, mulai dari pembangunan infrastruktur seperti pendidikan dan kesehatan, hingga pemanfaatan sumber daya alam Indonesia yang berlimpah.

“Sementara di sisi lain, investasi yang sdah dilakukan tidak banyak menciptakan lapangan kerja, termasuk sektor padat modal yang lebih banyak mengandalkan teknologi,” tutupnya.


Kemudahan berinvestasi

Lewat keterangan resminya, Sabtu (1/2), Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut investasi berperan penting dalam mengurangi pengangguran intelektual. Menurutnya,  investasi dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

“Walaupun Bapak dan Ibu belum lulus, tetap bisa mendirikan usaha menjadi entrepreneur. Izinnya ini sekarang dipermudah, semua di BKPM. Hal ini penting agar mengurangi pengangguran. Jangan sampai para lulusan yang baik-baik ini menjadi pengangguran intelektual,” ujarnya.

Bahlil menjelaskan kemudahan investasi sudah diimplementasikan melalui kemudahan mendirikan usaha di BKPM. Terdapat 25 perwakilan Kementerian/Lembaga (K/L) yang memberikan izin investasi kepada pengusaha dengan terlaksananya Inpres Nomor 7/2019 tentang Percepatan Kemudahan Berusaha.

“Pengusaha tidak perlu ‘tawaf’ (berkeliling) ke K/L untuk mendapatkan izin. Di Indonesia itu ada dua kategori pengusaha yaitu ‘by nasib’ dan ‘by nasab’. Sekarang perlu ditambah adalah ‘pengusaha by design’,” katanya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Bahlil memastikan dirinya sangat serius untuk menaikkan peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EoDB) Indonesia, mencapai peringkat 50 besar pada 2023.(Medcom/E-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More