Minggu 02 Februari 2020, 09:10 WIB

Virus Mahkota yang Mengusik Kehidupan Manusia

Fetry Wuryasti | Weekend
Virus Mahkota yang Mengusik Kehidupan Manusia

MI/ANDRY WIDYANTO
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Subandriyo

WABAH novel coronavirus atau 2019-nCoV yang merebak belakangan ini membuat khawatir banyak negara, termasuk Indonesia. Virus yang diduga berasal dari hewan itu kini menular ke manusia. Di Kota Wuhan, Tiongkok, tempat sumber wabah virus korona menyeruak, bahkan telah menimbulkan puluhan korban jiwa.

Untuk mengetahui bagaimana virus ini berkembang dan menulari manusia, wartawan Media Indonesia, Fetry Wuryasti, bersama awak dari Metro TV mewawancarai Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Subandriyo, di Jakarta, Selasa (28/1/2020). Berikut petikannya:

 

Bisa Anda jelaskan sebenarnya virus korona jenis virus yang seperti apa?

Virus korona itu adalah satu keluarga besar virus yang memiliki morfologi atau bentuk bulat, dengan tonjolan-tonjolan di sekelilingnya. Sebetulnya virus ini terlihat cantik sehingga dia disebut crown atau corona. Corona itu bahasa lain dari mahkota. Karena bentuknya, disebut corona. Sejauh ini sudah ada lebih dari 200 jenis virus korona yang diidentifikasi, tapi sebagian besar virus ini ditemukan pada hewan.

 

Jenis hewan apa saja yang dihinggapi virus ini?

Coronavirus itu banyak host-nya atau pejamunya, mulai kelelawar, ular, musang, gajah, hingga sapi. Semua hewan itu bisa menjadi host-nya. Akan tetapi, sebagian besar mereka hanya sebagai pembawa, tidak sampai sakit.

 

Lalu bagaimana bisa menular ke manusia?

Sebelum kasus virus korona yang terjadi di Wuhan, Tiongkok, telah ada enam virus korona yang diidentifikasi dapat menginfeksi manusia. Sebanyak dua di antaranya yang terakhir adalah virus SARS coronavirus dan MERS coronavirus. Sekarang yang menyebar adalah virus korona ke-7, yang diketahui bisa menyerang manusia, yaitu 2019 novel coronavirus atau 2019-nCoV.

 

Apakah kemunculan virus ini merupakan hasil mutasi sehingga menginfeksi manusia?

Kemungkinan itu salah satu dari virus-virus korona yang lain. Karena kalau dilihat dari phylogenetic tree atau pohon genetiknya, mereka memiliki kekerabatan erat atau dekat dengan virus SARS. Walaupun tidak sama, tetap ada cabang lainnya. Mirip dengan SARS, tapi berbeda.

Kejadiannya, mungkin saja ada beberapa teori yang menyebutkan virus ini bisa hasil karena proses mutasi atau proses seleksi. Itulah salah satu bentuk adaptasi virus untuk bisa bertahan hidup.

 

Adaptasi seperti apa?

Perubahan. Jadi, tiap makhluk hidup akan berupaya menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kalau lingkungannya berubah, makhluk hidup juga akan mengubah dirinya supaya bisa bertahan hidup di lingkungan yang berubah.

 

Termasuk berubah dari menginfeksi hewan ke manusia?

Biasanya virus korona yang ada pada hewan tidak menyerang manusia. Virus memiliki tropisme atau semacam kesukaan. Ketika virus telah menyukai jaringan hewan, dia tidak mengenal jaringan manusia. Begitu pun sebaliknya, virus yang mengenali jaringan manusia, dia tidak menyerang jaringan hewan.

Jadi, jarang sekali virus yang bisa menyerang keduanya. Ini bisa terjadi apabila ada percampuran. Faktornya seperti manusia yang dekat dengan beberapa jenis hewan. Kemudian, virus masuk ke tubuh manusia, tapi tidak menimbulkan sakit pada awalnya. Kemudian, dia bertemu dengan virus korona yang lain.

Atau, misalnya, kalau ada, virus korona dari manusia masuk di hewan. Perpindahan bolak-balik mengakibatkan virus itu bisa beradaptasi. Semakin lama virus akan bisa mengenali jaringan manusia dan menyebabkan infeksi.

 

Menurut Anda, virus korona yang sekarang berkembang kemungkinan berasal dari hewan?

Kemungkinan besar berasal dari hewan. Namun, perubahannya itu bisa dari proses mutasi, bisa karena seleksi, atau bisa juga kalau dalam teori, direkayasa manusia karena sekarang dengan teknologi bisa diubah-ubah.

 

Jika bisa direkayasa manusia, berarti ada kemungkinan ini juga bisa merupakan senjata biologis?

Belum ada bukti, tapi belum juga bisa disangkal. Kita tidak punya bukti untuk menyangkal ataupun mendukung. Itu baru hipotesis atau wacana. Sejauh ini, bagaimana perkembangan penelitian virus yang menghebohkan tersebut? Saat ini dari virus yang sudah diisolasi, belum dilihat adanya mutasi. Sejak kasus pertama ada di manusia sampai dia sudah menularkan ke manusia lain, itu masih virus yang sama, belum berubah.

 

Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk mengetahui apakah virus ini rekayasa manusia atau hasil mutasi?

Salah satu hipotesis yang sudah banyak dipublikasikan di media sosial mengatakan virus ini berasal dari salah satu laboratorium. Sebetulnya cara mencari tahunya relatif mudah. Setiap organisme, termasuk mikro organisme dan virus, memiliki semacam sidik jari. Itu bisa dilacak. Virus-virus yang diisolasi dari para pasien ini kemudian dibandingkan dengan virus dari laboratorium yang dicurigai.

 

Apakah Lembaga Eijkman sudah berpartisipasi dalam penelitian ini?

Kami belum mendapatkan virusnya sehingga belum dapat menganalisis, tetapi kita bisa mempelajari dari genbank. Genbank adalah suatu repositori untuk informasi genetik.

Jadi, kalau ada pihak yang bisa melakukan sequencing atau pengurutan virus, bahkan tidak hanya virus, termasuk makhluk yang lain. Dari isolasi dilakukan sequencing, kemudian ditemukan sequence yang panjang. Kemudian, informasi itu di-submit ke genbank sehingga semua orang bisa akses data tersebut dan mempelajarinya.

Kita (Eijkman) belum mempelajari karena belum ada yang mau dibandingkan. Akan tetapi, kalau nanti ada yang positif (tertular) di Indonesia, baru bisa.

 

Sebenarnya karakter hidup dari virus ini seperti apa sampai mengakibatkan kematian?

Melihat perjalanan penyakit virus ini secara keseluruhan, sebanyak 80 orang meninggal, memang jumlah yang banyak. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan jumlah yang confi rm positif terkena virus korona, persentasenya relatif masih kecil jika dibandingkan dengan SARS atau MERS.

Sebanyak 80% orang yang terinfeksi SARS akan meninggal, sedangkan MERS sekitar 30%-40%. Dari situ kita bisa melihat novel corona virus ini tidak seganas SARS ataupun MERS. Itu dari prevalensi.

Akan tetapi, di balik itu ada sisi negatifnya. Jadi, kalau orang terinfeksi atau tertular virus korona ini tidak selalu sakit. Kalaupun orang sampai terinfeksi, tidak semuanya akan berat.

Ada yang hanya mengalami fl u biasa, seperti pilek-batuk dan sembuh sendiri. Ada sebagian lagi yang berdampak berat, seperti demam tinggi, suhu badan panas, mengalami sesak napas, pneumonia berat, sampai ke gagal ginjal atau kegagalan organ lainnya, hingga mengakibatkan kematian.

 

Berarti kesembuhan bergantung pada daya tahan tubuh seseorang?

Betul. Dari data yang ada, kita melihat sebagian besar yang meninggal adalah mereka yang berusia di atas 40 tahun dan sudah memiliki penyakit-penyakit lain sebelumnya yang mendasari.

Jadi, kondisi klinis yang berat itu sebetulnya bukan akibat langsung dari virusnya, melainkan respons tubuh ketika terjangkit virus.

 Tubuh manusia akan seperti itu, demam bila terserang fl u. Ini suatu tanda bahwa tubuh menghasilkan suatu produk bernama sitokin. Sitokin ini bisa menghasilkan panas untuk membunuh virus.

Akan tetapi, kalau terlalu panas juga berbahaya. Sama seperti pada jaringan lain. Banyak zat-zat yang kalau terlalu banyak, dia punya efek merusak jaringan tubuh.

 

Orang yang sudah terinfeksi apakah bisa sembuh?

Bisa. Jadi, apa yang harus dilakukan di rumah sakit sebetulnya adalah pertama, mencegah agar virus tidak menular ke mana-mana. Kedua, memperbaiki kondisi pasien. Kalau kondisinya ada gagal ginjal, itu dulu yang diatasi. Infeksi paru-paru berat atau gangguan organ lain, itu dulu yang dikoreksi. Kalau virusnya sendiri, belum ada obatnya. Virus itu akan diatasi sendiri oleh kekebalan tubuh manusia.

 

Perkembangan virus ini kenapa paling banyak di Tiongkok? Apakah karena cuaca atau iklim di sana?

Virus korona yang 200 jenis itu tidak semuanya di Tiongkok. Virus itu tersebar di seluruh dunia. Tentu banyak teori yang bisa dipakai mengenai alasan banyaknya kasus virus korona ini di Wuhan, Tiongkok. Mungkin saja, salah satu hipotesisnya adalah karena kedekatan antara manusia di sana dan hewan-hewan liar. (M-4)

____________________________________________________

 

BIODATA

 

AMIN SOEBANDRIO

Tempat, tanggal

lahir Semarang, 2 Juli 1953

 

Pendidikan

Medical Doctor Universitas Indonesia PhD Immunogenetics (Osaka/Kobe University)

Professor of Clinical Microbiology (Universitas Indonesia)

Honorary Professor, University of Sydney Medical School

 

Jabatan

Ketua Panel Pakar Komite Nasional untuk Penyakit Zoonosis 2009-2017

Penasihat Senior dan Wakil Menteri di Kementerian Riset dan Teknologi 2000-2013

Kepala Institut Biologi Molekuler Eijkman 2014-sekarang

 

Baca Juga

Antara/AGI/Innersloth/Indonesian Digital Report 2020/Tim Riset MI-NRC

Popularitas Gim di Tengah Pandemi

👤Sumber: Antara/AGI/Innersloth/Indonesian Digital Report 2020/Tim Riset MI-NRC 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 05:55 WIB
GIM tampaknya telah menjadi hiburan utama bagi sebagian masyarakat selama pandemi...
Dok.MI/Duta

Sumpah Pemuda di Mata Guru dan Siswa

👤GALIH AGUS SAPUTRA 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 05:40 WIB
SOBAT Medi, sebentar lagi kita akan kembali memperingati salah satu hari bersejarah untuk negara kita...
Dok.Hanbai

Merayakan Kesetaraan Ukuran dalam Fesyen

👤Putri Rosmalia 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 03:55 WIB
MENCARI busana yang sesuai dengan ukuran memang bukan perkara mudah bagi orang dengan tubuh postur tubuh besar  (plus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya