Minggu 02 Februari 2020, 03:00 WIB

Metafora Taji KPK

Suprianto Annaf, Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend
Metafora Taji KPK

Dok. Pribadi
Suprianto Annaf, Redaktur Bahasa Media Indonesia

Soal taji mestinya urusan tentang ayam jantan. Senjata itu berada di kaki yang sering disebut jalu. Taji atau jalu ini melambangkan kekuatan dan ketangguhan ayam. Semakin panjang taji, semakin banyak yang menggemari si jago. Kokoknya pun sering terdengar nyaring seirama taji lancip yang menggetarkan jago-jago lain.

Belakangan ini taji disematkan kepada KPK. Lembaga yang mengurus rasuah itu ditantang sikap dan tindak­annya. Kasus suap kepada Wahyu Setiawan, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), menjadi alasannya. Apakah KPK akan bertaji  mengusut kader partai berkuasa?

Secara bahasa, taji menjadi ranah sosiolinguistik untuk menelaah. Kemunculan kata taji bukanlah urusan serta-merta ada. Akan tetapi, kata itu muncul terkait kebiasaan pemakai bahasa. Kata itu pun lahir dari realitas sosial: fakta yang temurun dalam budaya.

Dalam faktanya, taji ialah keperkasaan. Semua ayam aduan mesti bertaji untuk membunuh lawan. Sang tuan akan mengelus-elus si jago demi kemenangan. Taji tambahan pun dipasangkan tuan hanya sekadar mencari kepuasan. Di banyak sabungan, taji diasah dan dimantra untuk menambah daya dan bisa.

Dulu, kini, dan akan datang,  makna taji  tetaplah sebangun dan semakna. Hanya urusan paradigma, kata taji kini seperti dibedakan. Esensinya tetap sama. Taji pada ayam dan pada KPK serupa wajah meski beda dunia. Taji yang dilekatkan pada KPK serupa metafora. Lembaga itu dipasangi taji untuk menumpas korupsi. Siapa pun yang korupsi mestinya akan terkena taji KPK. Taji KPK ialah taji yang dipunyai negara. Bukan partai berkuasa. Pun bukan untuk alat politik yang akan menendang lawan yang tidak senada.

Taji dalam jalinan makna kekinian ialah kuasa dan senjata. Benda tajam ini digunakan dan diarahkan sesuai selera tuan. Biasanya untuk kemenangan dan pertahanan. Dalam banyak kejadian, taji terkait perjudian dan kejahatan.

Mengaitkan taji dengan keberanian KPK merupakan perbandingan laku manusia. Dalam banyak hal, kita sudah terbiasa menjadikan hewan sebagai perumpamaan. Dalam laku tidak terpuji, kita menyindir manusia dengan kera berdasi. Pun kerakusan menggasak harta haram diserupakan dengan tikus kantor.

Dalam metafora itu,  banyak makna yang digisirkan pada binatang justru teramat jauh kerelevansiannya. Laku jahat manusia sebetulnya jauh lebih berat daripada laku binatang. Serakus-rakusnya tikus hanya mengambil makanan yang tidak terjaga aman. Tidak seperti kuroptor yang menggasak uang triliunan. Dalam hal ini negara selalu dirugikan.

Taji KPK merupakan respons positif dan negatif. Lembaga itu diragukan setelah pemerintah merevisi  UU Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi UU Nomor 19  Tahun 2019 tentang Perubahan UU KPK. Nyali baru KPK pun dipertaruhkan lebih dari sekadar operasi tangkap tangan atas Wahyu Setiawan dan kawan-kawan. Masyarakat menunggu taji KPK dapat menikam lawan (koruptor) dari seluruh arah: kiri dan kanan. Revisi UU itu mesti mengwujudkan harapan teman dan lawan.

Taji KPK bukanlah taji hiasan. Bukan pula taji mainan yang tidak pernah ditikamkan. Taji KPK ialah serupa nyali yang mesti berani tanpa diintervensi dari kiri-kanan. Makna ini menjadi pesan inti dari sekadar metafora taji-tajian.

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More