Minggu 02 Februari 2020, 00:00 WIB

Menafsir Ulang Pesan Tersirat Rendra

Bagus Pradana | Weekend
Menafsir Ulang Pesan Tersirat Rendra

MI/ANDRI WIDIYANTO
Aksi pemain teater dalam memerankan mahakarya WS Rendra, berjudul Panembahan Reso di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, Jumat (24/1/2020).

PANEMBAHAN Reso hadir lagi. Drama karya WS Rendra itu kembali dipentaskan di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Minggu (25/1) lalu.

Berbeda dengan pementasan di Istora Senayan pada 1986 silam yang berdurasi 6 jam, kali ini Whani Dharmawan dan She Ine Febriyanti meringkas lakon tersebut selama 3 jam.

Kendati begitu, versi singkat lakon yang telah berusia 34 tahun karya ‘sang Burung Merak’ ini berhasil disajikan secara apik oleh para ­pemain tanpa mengurangi substansi ide yang terkandung di dalamnya.

Panembahan Reso merupakan epos yang berkisah mengenai drama kekuasaan penuh intrik. Kisah ini akan selalu kontekstual di setiap zaman karena memiliki unsur reflektif. Kekuatan dari lakon ini bertumpu pada narasi tokoh utamanya yang bernama Panji Reso. Agar tidak menjadi sebuah pertunjukan kata-kata, padu padan dengan tarian dan live music pun disajikan oleh Hanindawan, selaku sutradara yang ditunjuk langsung oleh Ken Zuraida, mantan istri Rendra, sebagai pembedah dari yang pernah dipertunjukkan oleh suaminya.

“Naskah yang bercerita tentang suksesi ini akan selalu kontekstual dan universal karena bisa terjadi di mana pun dan kapan pun,” tulis Ken Zuraida dalam pengantar pementasan Panembahan Reso, Sabtu (25/1).

Reso (Whani Dharmawan) ialah seorang lurah prajurit (panji) yang berpangkat rendah, tapi memiliki keinginan besar menjadi raja di kera­jaan tempatnya mengabdi. Ia ingin menggantikan Raja Tua yang telah uzur dimakan usia. Kemelut pun terjadi di kerajaan. Para pangeran saling bertikai dan Panji Reso pun segera atur siasat untuk melenggang di medan laga. Ia mulai aksinya dengan menghasut seorang panji lain untuk memberontak terhadap sang Raja, lalu menghasut para panji kerajaan agar mendukung politik adu dombanya.

Tak hanya itu, Reso pun menyiapkan banyak siasat untuk melenyapkan para pangeran penerus takhta kerajaan. Selain itu, main belakang dengan salah satu selir raja yang bernama Ratu Dara (Sha Ine Febriyanti) yang juga punya niat sama, yaitu mendapatkan takhta sang raja.

Singkat cerita, Panji Reso dan Ratu Dara berhasil menyingkirkan Raja Tua dengan meracuni ­minumannya. Sang raja tewas. Takhta pun jatuh kepada Pangeran Rebo (­Jamaludin Latief), putra Ratu Dara, yang masih kekanak-kanakan dan tak ­punya pendirian. Dengan mudah, ia ­disetir oleh Reso. Reso pun diangkat ­menjadi Pemangku Raja dengan gelar Panembahan dan dinikahkan ­dengan sang Ibunda, Ratu Dara.

Narasi kehidupan yang penuh tipu muslihat dari sang Panembahan Reso inilah yang dipotret Rendra dalam kritik kolosal nan agung yang pernah ia tampilkan di Istora Senayan, pada 34 tahun silam. Kritik itu tak pernah lekang oleh waktu dari masa ke masa. Ketika Hanindawan mengaransemen kembali ke dalam versi singkat, tamparan keras yang ditinggalkan ‘sang Burung Merak’ dalam lakon itu tetap masih terasa pedas ketika ditujukan kepada para penguasa tamak takhta.

Faktor stamina

Selain Whani Dharmawan dan Sha Ine Febriyanti, lakon ini juga melibatkan nama-nama besar panggung teater Indonesia, seperti Gigok Anurogo, Sruti Respati, Maryam Supraba, Ruth Marini, Jamaludin Latif, Joko, Dedek Witranto, Bambang Dyodie, Kelono Gambuh, Budi Riyanto, Meong Purwanto, Edi Haryono, Djarot B Darsono, Ibnu Sukodok, Faiz Hasiroto, Didik Panji, Rudolf Puspa, hingga Gendut Dalang Berijasah.

Whani menjelaskan, kesulitan utama yang ia hadapi ketika memainkan lakon ini ialah masalah stamina. Para aktor pemeran ­utama wajib memiliki stamina yang prima karena mereka harus tampil maraton babak per babaknya, meskipun telah dipadatkan dalam versi ­singkat yang berdurasi tiga jam.  

“Setelah membaca teks (Panembahan Reso) itu, saya jadi tahu ternyata Rendra memang menuliskan yang seharusnya memang tersurat, tetapi dia tidak menuliskan yang tersirat. Tantangan aktor untuk memainkan Panembahan Reso ialah menerjemahkan hal-hal yang tidak tersirat itu,” Terang Whani dalam wawancara setelah geladi resik pementasan kepada Media Indonesia, Sabtu (24/1).

“Bagian tersulit memerankan Panembahan Reso ini ada di staminanya karena tokoh Panembahan Reso ini sendiri kan sekitar 70% keluar dalam pentas. Kesulitan yang kedua adalah peta emosi. Saat Reso berhadapan dengan raja seperti apa, Reso berhadapan dengan istrinya seperti apa, peta emosi itu yang susah, yang kemudian menunjukkan keculasan si Reso ini, itu yang susah,” pungkas aktor peraih Piala Citra 2019 itu. (M-4) 

Baca Juga

MI/Permana

Pesan Mira Lesmana di Hari Film

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 30 Maret 2020, 13:35 WIB
Miles Production tengah menunda produksi dua proyek...
Photo by Steven Ferdman / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP)

Lebih banyak Orang di Rumah, Layanan Musik Streaming Malah Turun

👤Fathurrozak 🕔Minggu 29 Maret 2020, 13:33 WIB
Hal ini antara lain karena orang lebih terfokus pada pemberitaan di televisi dan bekerja di...
DOK. INSTAGRAM/BRIANIMANUEL

RICH BRIAN Buat Klip Video Siasati Bosan

👤(Ant/H-3) 🕔Minggu 29 Maret 2020, 04:30 WIB
RAPPER Rich Brian, 20, mengaku bosan berdiam diri di rumah di tengah karantina mandiri untuk mencegah penularan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya