Sabtu 01 Februari 2020, 23:00 WIB

Dinasti Politik ala Setyaki

Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia | Weekend
Dinasti Politik ala Setyaki

MI/Tiyok
Ono Sarwono, Wartawan Media Indonesia

DIAKUI atau tidak ‘virus’ dinasti politik di negeri ini terus menular dan menjalar. Ini model berpolitik yang memanfaatkan hubungan kekerabatan. Contohnya, seseorang berpolitik karena orangtuanya juga berpolitik atau sedang berkuasa alias menduduki jabatan tertentu.

Biasanya, mereka yang melakukan praktik politik seperti itu tentu ingin mendapatkan atau paling tidak berharap ada efek menguntungkan dari keluarga yang sedang menjabat. Dalam bahasa Jawa, perilaku inilah yang dikenal dalam ungkapan aji mumpung.
Pertanyaannya, apakah itu tidak boleh?

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, demikian peribahasa lama. Jadi, ada anak berpolitik karena ayahnya berpolitik atau sedang berkuasa merupakan kewajaran. Sejauh tidak ada aturan dan hukum yang dilanggar, tentu tidak masalah. Ini hanya pada tataran etika sehingga keputusannya dikembalikan kepada hati nurani masing-masing.

Mengabdi Kresna

Kalau dalam cerita wayang, praktik politik yang mendominasi ialah politik dinasti. Seseorang mendapatkan kekuasaan (berpolitik) karena kedudukannya sebagai ahli waris penguasa. Jadi, karena berkah garis keturunan anak menjadi raja karena ayah atau kakeknya raja.

Akan tetapi, dari sekian banyak kisahnya, ada satu cerita yang tidak biasa, sedikit menyimpang. Ada titah berpolitik bukan karena ia anak raja dan kemudian ingin berkuasa, melainkan ia berpolitik semata-mata untuk mengaktualisasi jati dirinya sebagai kesatria.

Tokoh unik ini bernama Setyaki. Dalam seni pakeliran, ia juga memiliki sejumlah nama lain, di antaranya Bima Kunthing, Yuyudana, Wresniwira, Tambakyuda, Padmanegara, Warsiniputra, dan Singamulangjaya. Nama-nama itu menggambarkan watak atau karakternya, selain nama yang melekat itu buah dari peran atau jasanya memberantas angkara murka.

Setyaki berdarah Mandura. Ia cucu mantan penguasa Negara Mandura, Prabu Basukunti. Ayahnya ialah Raja Negara Lesanpura, Prabu Setiajid, yang waktu mudanya bernama Ugrasena. Setyaki lahir sebagai anak kedua dari rahim Dewi Wersini. Kakaknya bernama Setyaboma.

Dari garis keturunan, sebagai anak laki-laki, Setyaki memiliki hak menggantikan ayahnya sebagai raja. Namun, dengan penuh kesadaran, ia campakkan hak konstitusionalnya atas kekuasaan Negara Lesanpura.

Penolakannya itu bukan berarti Setyaki ingin menjadi seorang sufi. Ia tetap terjun ke dunia politik, tetapi hanya ingin menjadi kesatria yang dikenal serta dikenang akan dedikasi dan integritasnya.

Garis politiknya sebagai kesatria ialah rela berkorban demi tegaknya keadilan sehingga terciptanya dunia yang aman dan tertib. Dunia yang harmonis yang dihiasi dengan kemuliaan-kemuliaan serta suburnya nilai-nilai luhur para penghuninya.

Menyadari beratnya tugas kesatria, Setyaki gentur menggeladi diri dengan berbagai ilmu kanuragan (kesaktian). Oleh karenanya, meski tinggi dan badannya biasa-biasa saja, ia memiliki keampuhan di atas rata-rata. Ia pun berwatak pemberani, petarung, nekat, dan tidak kenal menyerah.

Untuk mengejawantahkan keinginannya, Setyaki membutuhkan wahana atau ‘tempat’ mengabdi. Ia memilih Narayana alias Kresna yang kebetulan kakak sepupunya sendiri. Kresna ialah salah satu putra uaknya, Prabu Basudewa.  

Kusir Jaladara

Alasan utama memilih Kresna karena Raja Dwarawati ini merupakan titisan Batara Wisnu, dewa keadilan dan ketertiban dunia. Setyaki merasa nyaman berada dalam ‘kendali’ Kresna. Tidak ada keraguan menjadi ‘bawahan’ Kresna, jaminan kalis dari kesesatan.

Kesetiaaan Setyaki kepada Kresna total. Ia selalu mendampingi, tepatnya sebagai bodyguard ‘bosnya’ itu ke mana pun pergi. Keberadaannya jadi tidak terpisahkan dari Kresna. Baginya, sabda Kresna ialah kebenaran yang harus dilaksanakan meski mengancam nyawa.

Komitmennya itu, misalnya, pernah terceritakan dalam lakon Kresna Duta. Ini kisah Kresna menjadi utusan Pandawa, keluarga adik sepupunya sendiri. Misi Kresna menagih janji Prabu Duryudana yang akan mengembalikan Negara Astina dan Indraprastha, yang dikuasaikan kepada Pandawa setelah adik sepupunya itu lulus menjalani hukuman pembuangan.

Sebagai duta, Kresna pergi ke Astina dengan mengendarai kereta Jaladara. Setyaki mengajukan diri sebagai kusirnya. Semula, Kresna tidak berkenan karena tugas yang diemban sangat berbahaya. Namun, Kresna akhirnya pasrah setelah Setyaki menyatakan ikhlas mati jika itu harga yang harus ditebus untuk melaksanakan tugas titisan Wisnu.

Singkat cerita, meluncurlah Jaladara membawa sang duta agung. Di tengah perjalanan, saat Jaladara mengangkasa, empat dewa, yaitu Narada, Rama Parasu, Janaka, dan Kanwa menghentikannya. Mereka memberikan restu dan menjadi saksi diplomasi duta Pandawa.

Sesampainya di Alun-Alun Astina, Kresna turun dari kereta dan langsung menuju sitinggil. Setyaki diperintahkan tetap berada di tempat dan diminta tidak jauh-jauh dari Jaladara serta harus waspada.

Tidak lama kemudian, ketika sedang santai di bangku kusir, tiba-tiba Setyaki digelandang dan dihempaskan ke tanah oleh Burisrawa. Secepatnya Setyaki bangkit. Ia meradang diperlakukan bak binatang.

Namun, belum sampai bertanya apa-apa, Burisrawa membentaknya dan mengumpat. Adik ipar Duryudana itu menyebut Setyaki kurang ajar. Ia menganggap Setyaki merendahkan martabat Kurawa.

Keadilan jagat

Akibatnya, terjadilah perkelahian dahsyat antarkeduanya. Mereka saling menjatuhkan. Tidak lama kemudian datanglah Kurawa beramai-ramai. Mereka langsung menyerang Setyaki. Karena sendirian, Setyaki tersudut, lalu menyusul Kresna di sitinggil. Saat itu, Kresna baru saja mendapatkan kepastian bahwa Duryudana ingkar janji.

Setyaki melaporkan bahwa dirinya dikeroyok Kurawa. Menjawab situasi kritis, Kresna bertiwikrama dan berubah wujud menjadi raksasa berkulit hitam serta mengamuk sebelum akhirnya diingatkan Batara Narada tentang misi sejatinya di Astina.

Ketika pecah perang Bharatayuda, Setyaki mendukung Pandawa melawan Kurawa. Ini perang untuk membuktikan bahwa kebaikan pasti menang atas kezaliman. Setyaki tetap hidup ketika Bharatayuda berakhir dengan kemenangan Pandawa. Kemenangan itu merupakan simbolisasi terciptanya keadilan dan perdamaian jagat.

Itulah sekelumit kisah Setyaki, anak raja yang ‘hanya’ tertarik menjadi kesatria, bukan menjadi penguasa. Ia berpolitik melulu hanya untuk memayu hayuning bawana, membuat dunia yang ayem. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More