Sabtu 01 Februari 2020, 10:50 WIB

Yusri Saleh: Tarian Kreasi yang Disukai Anak Muda

Try/M-1 | Weekend
Yusri Saleh: Tarian Kreasi yang Disukai Anak Muda

MI/SUMARYANTO BRONTO
Yusri Saleh

YUSRI Saleh, 43, atau yang kerap disapa Dekgam ialah putra Aceh yang merantau ke Ibu Kota pada 1999. Memulai pengalaman dengan bekerja serabutan di Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh, dia datang ke Jakarta untuk mengajar tari tradisi Aceh di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Saat itu dia dibayar Rp250 ribu satu bulan.

Langkah kariernya terbukti cepat berkembang. Pada 2000 Dekgam didapuk menjadi koreografer untuk parade tari tingkat nasional dan berhasil menang. Seusai mendapatkan kepercayaan sebagai pelatih tari, dia mengembangkan sebuah kesenian bernama Ratoh Jaroe. Di sini, Ratoh Jaroe dikreasikan berpadu dengan tari tradisi Aceh.

"Waktu itu orang-orang masih menyebutnya tari Saman. Tapi saya biarkan saja dulu karena ini adalah kreasi dan orang-orang tahunya tarian duduk adalah tari Saman, padahal Aceh punya banyak sekali tari tradisi," ujar Dekgam.

Ratoh Jaroe memiliki arti berzikir atau bersenandung sambil memainkan tangan. Tariannya serupa dengan tari Saman. Perbedaannya, selain tari Ratoh Jaroe dilakukan perempuan, dilengkapi dengan alat musik rapai, serta menggunakan bahasa Aceh.

"Saman dengan bahasa dan tarian Gayo telah dipatenkan tarian tradisional oleh UNESCO, sedangkan Ratoh Jaroe adalah kreasi tradisi yang mulai saya kembangkan di Jakarta. Memang berkembangnya di Jakarta dengan tradisi Aceh, punya Indonesia," tegas Dekgam.

Baru pada 2010, orang mulai memahami sebutan tari Ratoh Jaroe. Tarian ini menjadi kreasi yang disukai anak-anak muda sekarang. Bahkan tari Ratoh Jaroe juga memberi warna berbeda dalam upacara pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan mendapat sanjungan dari berbagai negara.

"Tarian Ratoh Jaroe ini menjadi sebuah tarian urban atau tarian pendatang baru di Jakarta. Awal mula munculnya tarian Ratoh Jaroe hingga populer itu ya di Jakarta. Tarian ini tidak muncul di Aceh karena awalnya memang tidak ada di sana," ujarnya.

Dengan kesuksesan Ratoh Jaroe, Dekgam berharap bahwa dampaknya bukan hanya di Jakarta, melainkan juga khususnya hingga masyarakat Aceh sendiri. Kreasi seni Aceh tidak kalah dari kesenian adati lainnya yang sangat berpotensi menjadi seni yang digemari secara luas dan bahkan oleh anak muda. Sebab itu, ia berharap gairah kesenian di Aceh pun terus tumbuh, termasuk di kalangan anak mudanya. (Try/M-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More