Sabtu 01 Februari 2020, 08:40 WIB

NU Harus Semakin Kuat Merawat Moderasi

Ind/X-8 | Humaniora
NU Harus Semakin Kuat Merawat Moderasi

MI/ADAM DWI
Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin

 

WAKIL Presiden Ma’ruf Amin mengingatkan Nahdlatul Ulama bahwa tugas organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dalam merawat mode­rasi semakin berat. Karena itu, NU harus lebih kuat.

Wapres mengatakan hal itu saat menghadiri peluncuran Koin Muktamar dalam momentum hari lahir ke-94 NU di Gedung PBNU, Jakarta, kemarin. Menurutnya, pada usia hampir satu abad, NU menjadi organisasi besar dengan tugas yang semakin berat.

Salah satu tugas tak ringan yang mesti dipikul NU, jelas Ma’ruf, merawat moderasi karena saat ini muncul berbagai macam pa­­ham, seperti radikalisme dan te­rorisme.

“Sebagai organisasi yang lahir dari pemetaan pemikiran-pemikiran, NU menjadi organisasi dengan cara berpikir yang moderat dan dinamis. Tidak tekstual tidak liberal. Dinamis tidak konservatif, tetapi juga tidak liberal,” tutur Wapres.

Model pemikiran itu, imbuhnya, harus terus dikembangkan dan di­jaga untuk menghalau banyaknya cara berpikir yang radikal dan penafsiran agama yang menyim­pang. Sebagai organisasi yang la­hir dalam kancah perjuangan bangsa, NU juga mengusung prinsip cinta Tanah Air ialah sebagian dari iman.

Di samping itu, sebagai organisa­si yang dipengaruhi gerakan kebang­kitan perdagangan, NU punya se­ma­­ngat dalam mengembangkan kemampuan ekonomi umat. “NU harus lebih kuat ke depan. Pemerintah mem­berikan peluang besar kepada se­luruh masyarakat, pengusaha, or­mas untuk ikut terlibat,” tutur Wapres.

Ketua Umum PBNU Said Aqil Si­roj mengatakan NU akan terus mengukuhkan langkah-langkah ke­mandirian yang berakar pada ti­ga embrio. Pertama, tahswirul afkar sebagai pergerakan di bidang dinamisasi pemikiran.
Kedua, nahdlatut tujjar sebagai pergerakan di bidang revitalisasi ekonomi. Ke­­­tiga, nahdlatul wathan sebagai pergerakan di wilayah internalisasi ideologi ahlussunnah wal jamaah yang berwawasan kebangsaan dan nasionalisme.

Ketiga embrio pergerakan tersebut, tandas Said, menjadi landasan utama berdirinya NU. Selain itu, pi­­lar intelektual, ekonomi, dan nasio­nalisme mengukuhkan bangun­an NU.

NU didirikan pada 31 Januari 1926 di Jalan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur, dan dideklarasikan oleh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, serta kiai yang lain.  Peringatan hari lahir ke-94 didahului khotmil qur’an, istigasah, tahlil, serta peletakan ba­tu pertama dimulainya perluasan Gedung PBNU. (Ind/X-8)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More