Jumat 31 Januari 2020, 11:38 WIB

Festival Perang Air Cian Cui di Riau Diminati Wisatawan Asing

Rudi Kurniawansyah | Nusantara
Festival Perang Air Cian Cui di Riau Diminati Wisatawan Asing

MI/Rudi Kurniawansyah
Warga meramaikan festival Perang Air Cuan Cui di Kota Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, Kamis (30/1/2020).

 

FESTIVAL Perang Air atau Cian Cui di Kota Selat Panjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau diminati wisatawan mancanegara.  Kegiatan rutin yang digelar Dinas Pariwisata setempat sudah berlangsung sejak 25 hingga 31 Januari 2020.

Sejumlah wisman dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat turut hadir mengambil bagian pada festival itu. Para pesertanya menggunakan becak motor (bentor) sambil membawa ember dan mainan senjata plastik berisikan air. Ada pun rute yang dilalui yaitu Jalan Kartini, Imam Bonjol, Ahmad Yani, dan Tebing tinggi. Selain pesertanya menggunakan bentor, banyak juga peserta yang mengikuti kegiatan itu dengan berdiri di sepanjang ruas jalan sambil menyiramkan air ke peserta yang melintas.

Pelancong dari Malaysia Zarnizar mengatakan, pada awalnya ia tak paham apa itu festival perang air, ternyata festival ini mirip acara festival songkran di Thailand.

"Rasa senang sangat dapat ketika ikut acara ini. Penduduk di Selat Panjang juga sangat peramah dan mengalu alukan penyertaan saya dan rombongan Malaysia ke acara tersebut," kata Zarnizar, Kamis (30/1).

Menurutnya festival perang air bisa menjadi daya tarik bagi pelancong dari lokal dan luar negeri. Apalagi event ini sangat menarik dan berbeda dengan festival yang ada di daerah lain.

"Festival ini unik, beda sedikit dari Songkran di Thailand. Lebih meriah kerena saya lihat dengan penyertaan becak membawa peserta keliling kota. Belum pernah ada water festival yang saya ikut menyertakan becak banyak," ungkapnya.

Zarnizar menyarankan, selain adanya atraksi perang air mungkin bisa melibatkan sekolah atau institusi pendidikan jurusan pariwisata di Indonesia. Ditambah peserta juga menyertakan komunitas musik tradisi, pertunjukan tarian sambil parade atau pawai massal bersama.

"Biar lebih menarik dengar musik tradisi bisa dimainkan, para peserta ramai-ramai ikut dancing (menari). Contohnya joget atau zapin sembari basah-basah waktu yang sama," ujar Zarnizar.

"Sebaiknya ketika atraksi, air yang disiram memakai air yang bersih, bukan ada campuran aneh-aneh. Hal ini untuk menghindari jangkitan penyakit atau dampak lainya. Selain itu, mungkin harus dikemas dengan lebih baik seperti tidak perlu  menyemprotkan air terlalu keras sesama peserta. Dikhawatirkan bisa menimbul hal yang tidak diinginkan," timpalnya.

Festival Perang Air adalah pesta rakyat yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Kegiatan ini merupakan kebiasaan warga Kepulauan Meranti yang berawal dari tradisi mengungkapkan kegembiraannya saat berkumpul bersama keluarga pada perayaan hari-hari besar keagamaan.

Selain bermain Perang Air, kegiatan yang dilaksanakan berdekatan dengan hari besar perayaan Imlek 2020 juga diramaikan berbagai rangkaian acara, yakni Meranti Night Carnival di Taman Cik Puan, Kota Selat Panjang.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Riau, Raja Yoserizal mengatakan festival Cian Cui merupakan agenda pariwisata setiap tahun, yang memberikan kontribusi jumlah kunjungan wisatawan besar, baik itu wisatawan domestik dan wisatawan nusantara.

baca juga: Bawaslu Cianjur Awasi ASN Mencalonkan Diri pada Pilkada

"Pada tahun lalu dihadiri wisman dari Korea, Malaysia, Singapore, Inggris, Jamaica, Australia,Taiwan, dan China. Hal ini tentunya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Dengan tingginya tingkat kunjungan maka perputaran uang di masyarakat akan tinggi. Hal ini diharapkan bisa memberikan peluang besar untuk menyumbang devisa dan peningkatan produk domestik bruto," harap Raja. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More