Kamis 30 Januari 2020, 17:09 WIB

Kelas Menengah Berkontribusi Besar Pada Pertumbuhan Ekonomi

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Kelas Menengah Berkontribusi Besar Pada Pertumbuhan Ekonomi

Antara/Aprillio Akbar
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berkisar 5,1% pada 2020.

 

DALAM 15 tahun terakhir, Indonesia dinilai berhasil menekan angka kemiskinan hampir 10%. Hal itu ditandai pertumbuhan kalangan menengah hingga 20% atau 52 juta orang dari total penduduk Indonesia.

Adapun jumlah penduduk yang berada di level menengah bawah mencapai 115 juta orang atau 45% dari total populasi. Mereka yang berada di level tersebut berpotensi naik ke level menengah, atau malah jatuh ke garis kemiskinan.

Tiga hal yang dapat mendorong kelas menengah bawah naik kelas ialah akses pendidikan,akses kesehatan dan akses air bersih. Tiga hal itu merupakan modal dasar untuk mendorong kualitas masyarakat di level menengah bawah.

Keberadaan kelompok menengah berperan besar terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Hal itu ditekankan Acting World Bank Country Director for Indonesia, Rolande Pryce. Pemberdayaan kelompok kelas menengah perlu dilakukan, lantaran pertumbuhan nasional ditopang hampir 50% kelas menengah.

Baca juga: Infrastruktur Ciptakan Kelas Menengah Baru

"Konsumsi dari kelas menengah dapat meningkatkan pertumbuhan. Mereka juga ikut berinvestasi lebih besar pada sumber daya manusia (SDM). Kebijakan yang tepat diperlukan agar kelas menengah dapat meningkat, dan membuka potensi Indonesia sebagai negara berpenghasilan tinggi," ujar Pryce di Energy Building, Jakarta, Kamis (30/1).

Bank Dunia berpendapat pemerintah dapat mendorong kelas menengah bawah naik menjadi kelas menengah. Hal itu diwujudkan dengan membuka lapangan pekerjaan lebih luas, disertai pemberian upah yang layak. Tidak hanya penduduk kelas menengah bawah yang mendapatkan peluang dan kesempatan sama untuk maju, masyarakat dalam garis dalam kemiskinan juga memiliki potensi naik kelas.

Lead Economist World Bank, Vivi Alatas, menilai perlunya kontrak sosial antara pemerintah dan masyarakat kelas menengah bawah, untuk memberi peluang kenaikan kelas.

"Pertama, memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Sepertiga ketimpangan datang dari lahir. Nasib kelas menengah dapat diperbaiki dengan memberikan layanan yang berkualitas dan kesempatan yang sama," kata Vivi.

Kedua, lanjut Vivi, permasalahan stunting yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia. Saat ini, Indonesia berada pada urutan ke-5 sebagai negara dengan tingkat stunting tertinggi di dunia.

"Kemudian perlindungan sosial bagi semua. Dalam 10 tahun tedakhir, ada 18.000 bencana di seluruh negeri. Sekitar 6.000 jiwa melayang dan 22 juta warga mengungsi. Kerugiannya mencapai US$ 16 miliar. Bansos harusnya bisa membuat korban bangkit. Ke depan, bagaimana program itu bisa lebih responsif saat terjadi bencana," pungkas Vivi.

Menanggapi laporan Bank Dunia, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan Indonesia berada pada jalur yang tepat dan terus mengupayakan perbaikan untuk menekan tingkat kemiskinan. Upaya itu melalui berbagai cara. Misalnya, fokus pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan memberikan kesempatan yang sama. Dari sisi keuangan, upaya itu dapat dilihat dari alokasi dana pendidikan.

"Mungkin progress-nya tidak dirasakan langsung. Kalau memang ada kekurangan itu perlu kita evaluasi. Dari anggaran pendidikan yang 20% di APBN, itu adalah tanda pemerintah berevolusi dalam membelanjakan anggaran," tutur Ani, sapaan akrabnya.(OL-11)

 

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More