Minggu 14 Februari 2016, 13:00 WIB

Ramai-Ramai Syuting di Luar Negeri

Fik/M-4 | Hiburan
Ramai-Ramai Syuting di Luar Negeri

DOK FILM

 

SEBUAH film yang mengambil latar Provinsi Gangwon, Korea Selatan, sedang digarap Rapi Films.

Awalnya, kisah ini diangkat dari novel karya Asmarani Rosalba yang bertajuk Jilbab Traveller: Love Sparks in Korea (2013).

Pengalaman Asma pernah tinggal selama enam bulan di Korea pada 2006 untuk residensi dan kepergiannya ke 'Negeri Ginseng' itu dua tahun lalu, menjadi alasan utama pemilihan lokasi dan latar cerita film ini.

"Berbekal dua tahun lalu, jadi ada update situasi terbaru dari sana. Penggemar Korea juga banyak. Tadinya mau ambil lokasi di Nepal juga, tapi karena gempa dan perhitungan dana, jadi fokus di Korea saja," terang Asma saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (10/2).

Dalam filmnya Asma yang sehari-hari berhijab ingin memberikan pengalamannya berkeliling 60 negara dan 310 kota.

"Termasuk ke Eropa Timur juga tidak ada apa-apa. Ingin membawa semangat itu. Akhirnya ketemu produser dari Rapi Films dan tertarik. Tapi saya tidak mau jual Jilbab Traveller-nya, saya hanya ingin buat satu negara saja," lanjutnya.

Akhirnya, film ini berhasil melakukan penandatanganan MOU dengan Gubernur Gangwon, Korea Selatan, Choi Moon Soon.

Sang pejabat bahkan sempat main dalam satu scene bersama Bunga Citra Lestari.

Asma mengaku urusan izin syuting dan pemilihan lokasi sangat dimudahkan dengan adanya kerja sama dengan pejabat setempat.

"Kami didukung penuh, dari mulai transportasi dan akomodasi oleh Gubernur Gangwon, dan difasilitasi juga di luar Gangwon," terangnya.

Kemudahan izin
Kemudahan syuting di luar negeri juga diakui sutradara Surat dari Praha, Angga Dwimas Sasongko. Bagi Angga, pemilihan latar kota di Republik Ceko itu disebabkan 90% isi filmnya memang berada di sana.

"Saya buat bukan karena ikut-ikutan dan eksploitasi suatu negara, memang dari awal ceritanya di Praha. Syuting delapan hari di sana," ungkap Angga, di Jakarta, Kamis (11/2).

Angga mengaku hal yang paling terasa berbeda dari syuting di luar negeri ialah soal kejelasan biaya produksi dan kemudahan izin. Dia dan tim bekerja sama dengan perusahaan lokal untuk menggarap syuting di Praha.

"Enaknya adalah proses izinnya sangat mudah dan tidak bikin ribet seperti di Indonesia. Harga per meter perseginya sudah jelas berapa. Ketika ingin mengambil gambar dengan jarak tertentu dan area penempatan kamera juga sudah ada harganya dengan detail. Kalau di Indonesia banyak premannya, nanti ormas minta uang, oknum mana lagi narikin uang. Jadi ongkos produksi membengkak. Sementara kalau syuting di luar negeri itu semua sudah sesuai bujet, kami kerja juga enak," ungkapnya.

Angga berpendapat Indonesia belum menjadi negara yang bersahabat untuk urusan produksi film.

Harusnya, lanjut Angga, hal ini bisa diterapkan di Indonesia sebagai tempat yang bersahabat untuk para pembuat film karena kaitannya bisa berdampak pada promo pariwisata Indonesia.

"Para pembuat film luar negeri segan untuk ke Indonesia karena sampai saat ini faktanya Indonesia terlalu 'rimba' untuk mereka dengan segala macam ketidakjelasan yang ada," keluh Angga.

Hal senada juga disampaikan pengamat film Shandy Gasella.

"Dari yang saya dengar, soal urusan izin, biaya, waktu untuk syuting di luar negeri ternyata mudah dan soal biaya lebih fair. Terlepas murah atau mahal, yang jelas bila syuting di Amerika, misalnya, mereka punya skema tarif yang jelas, bayar sekian dapat lokasi sekian dengan durasi syuting sekian waktu, tanpa embel-embel uang kutipan lain. Syuting di Korea Selatan dan beberapa negara lain, bila izin syutingnya resmi, para produsen film asing bisa dapat insentif seperti pengembalian pajak sekian persen," terangnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More