Kamis 30 Januari 2020, 08:00 WIB

Pertumbuhan Konsumsi Kopi Lokal Tinggi

Galih Agus Saputra | Humaniora
Pertumbuhan Konsumsi Kopi Lokal Tinggi

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI
Barista tengah meracik kopi dalam Festival Kopi Media Indonesia 2020 di Kompleks Media Group, Jakarta, Senin (27/1)./2020

 

PERMINTAAN kopi di Indonesia selalu meningkat karena kegiatan minum kopi sudah menjadi gaya hidup (lifestyle). Kebiasaan figur publik pun turut memengaruhi perilaku masyarakat yang dewasa ini semakin gandrung pada kopi.

"Dari segi industrinya, kurang lebih ada 1.300 pengolah kopi di Indonesia. Di dalam perjalanannya, ada fasilitas-fasilitas yang kita berikan untuk mendorong mereka supaya semakin meningkat, yaitu dengan teknologi," kata Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, di acara workshop bertajuk Sangrai: Bincang Kopi Nusantara, pada hari kedua Festival Kopi Media Indonesia 2020 dalam rangka menyambut HUT ke-50 Media Indonesia, Selasa (28/1).

Hadir pula sebagai pembicara Director for Facilitation Export and Import Kementerian Perdagangan Olvy Andrianita, Peneliti Madya Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Kementan Agus Wahyudi, serta Kadin Komite Eropa Rachmat Chaerudin. Pada kesempatan itu, persoalan kopi dari hulu ke hilir dikupas tuntas oleh para pembicara, dari pertanian hingga industri.

Lebih lanjut, Gati menjelaskan pemerintah dewasa ini memiliki program restrukturisasi sehingga pengolah kopi bisa mendapatkan subsidi untuk membeli mesin produksi kopi. Khusus untuk pembelian mesin buatan dalam negeri, subsidinya mencapai 30% dan untuk mesin impor 25%.

Selain itu, tambahnya, ada bantuan 100% dari pemerintah daerah untuk masyarakat yang hendak mendirikan kelompok usaha bersama.

Di sisi lain, Agus menjelaskan ada tiga kategori kopi di Indonesia, yaitu asalan, premium, dan spesial (specialty). Produk asalan mencapai sekitar 70% dari seluruh produk kopi di Indonesia, disusul kopi premium 20% dan spesial 10%. Total produksi 650.000 ton per tahun. Ekspornya 250.000 ton.

"Tapi yang menarik, pertumbuhan konsumsi dalam negeri sangat tinggi, sekitar 8%. Konsumsi per kapita kita juga naik terus hingga 1,5 kg per kapita. Jadi, total konsumsi dalam negeri bisa mencapai 380.000-400.000 ton. Sayangnya beberapa produsen mengurangi produksi 50.000-100.000 ton sehingga harus mengimpor terutama dari Vietnam," tuturnya.

Olvy menambahkan, sejak dulu kopi merupakan komoditas perdagangan yang sangat seksi. Sama halnya dengan di Indonesia, konsumen Eropa juga suka kualitas kopi spesial. Karena itu, produsen dalam negeri sebisa mungkin harus memberikan kualitas kopi terbaik. (Gas/X-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More